Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Dangkalnya Pemahaman terhadap Al-Qur'an-Hadits Munculkan Kaum Takfiri

Dangkalnya Pemahaman terhadap Al-Qur'an-Hadits Munculkan Kaum Takfiri
KH Muchotob Hamzah, Rektor Unsiq Wonosobo, Jawa Tengah
KH Muchotob Hamzah, Rektor Unsiq Wonosobo, Jawa Tengah
Pringsewu, NU Online
Rektor Universitas Sains Al-Qur'an (Unsiq) Wonosobo Jawa tengah KH Mukhotob Hamzah menilai bahwa rendahnya pemahaman dan kurang dalamnya penggalian serta penafsiran makna Al-Qur'an maupun hadits memunculkan kaum takfiri yang mudah mengkafirkan orang Islam lainnya.

Memahami Al-Qur'an dan hadits menurutnya memerlukan modal dan dasar disiplin keilmuan lain. Tidak boleh menafsirkannya dengan modal pemahaman sendiri apalagi dibumbui dengan sentimen pribadi dan golongan.

“Ibarat menggali sumur diperlukan peralatan seperti cangkul, linggis dan skop. Begitupun menggali hukum di dalam Al-Qur'an dan hadits mustahil tanpa seperangkat metodologi ilmiah dari ulama yang kompeten," jelas Kiai Mukhotob di Pringsewu saat memberi materi pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di aula gedung PCNU Pringsewu, Ahad (30/6).

Ketua umum Yayasan Al Asy’ariyah Kalibeber Wonosobo juga ini juga menegaskan bahwa moderasi beragama diperlukan dalam pemahaman dan keahlian untuk mengambil hukum agama maupun dalam menjawab tantangan perubahan zaman yang makin beragam saat ini.

Menurutnya, sikap moderat mampu menghindarkan diri dari pemahaman keagamaan yang mengarah kepada radikalisme dan pemahaman yang tekstual dengan dalih kembali ke Al-Qur'an dan hadits.

“Kalau mengambil hukum langsung dari Al-Qur'an dan hadits, seperti menggali sumur dengan kedua tangan kita. Itu lebih berbahaya akibatnya tangan terluka dan berdarah,” ingatnya.

Pemahaman tekstual dan sempit dari sebagian kelompok ini juga mengakibatkan stigma negatif terhadap Islam muncul dari pemeluk agama lain. Ia memberi contoh penafsiran dan penggunaan ayat-ayat perang yang tidak relevan digunakan menjadi dalil bom bunuh diri atas nama jihad.

“Mereka lupa bahwa agama Islam mengajarkan perdamaian, menebarkan salam. Saat selesai shalat kitapun selalu berdo’a Allohumma antas salam," katanya.

Hadir pada kegiatan Jihad Pagi tersebut Bupati Pringsewu KH Sujadi yang juga alumni Pesantren Al Asy’ariyah Kalibeber Wonosobo Jawa Tengah, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H Taufik Qurrohim, Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Lampung KH Munawir dan para alumni Pesantren Al-Asy'ariyah asal Lampung.

Kehadiran Kiai Mukhotob ke Lampung ini juga dalam rangka melantik kepengurusan Ikmaal (Ikatan Mutakhorijin Al Asy’ariyah) wilayah Lampung masa bakti 2019-2023. Pelantikan dilaksanakan di Pondok pesantren Tahfidzul Quran(PPTQ) Sirojul Munir, Sripurnomo Kalirejo, Lampung Tengah. (Red: Muhammad Faizin)


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Daerah Lainnya

Terpopuler Daerah

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×