Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Makna Filosofis Tumpeng

Makna Filosofis Tumpeng
Kiai Imam Surjani Pringsewu.
Kiai Imam Surjani Pringsewu.
Pringsewu, NU Online
Saat memberikan mauidzatul hasanah pada Pengajian dan Santunan Anak Yatim yang diselenggarakan oleh Panitia Hari Besar Islam (PHBI) bekerja sama dengan PAC Muslimat Kecamatan Pringsewu, KH Imam Surjani menjelaskan makna filosofi tumpeng yang melambangkan ukhuwah Islamiyyah, basyariyah dan wathaniyah.

Menurut pria yang pernah menjabat Ketua MUI Kecamatan Ambarawa Pringsewu ini tumpeng merupakan lambang kemakmuran dalam kebhinekaan yang diwariskan oleh para ulama terdahulu.

"Tumpeng itu metu lewat dalan kang lempeng (keluar menuju jalan yang lurus). Jadi dengan adanya tumpeng diharapkan kita mampu selalu dalam jalur lurus sesuai aturan agama," katanya pada kegiatan yang dilaksanakan di Halaman Masjid Al-Hikmah Kuncup Pringsewu Barat ini, Ahad (11/2) siang.

Kiai Surjani menambahkan bahwa tumpeng juga dihiasi dengan berbagai macam menu yang beragam disekelilingnya dengan makna filosofis bahwa manusia hidup di tengah-tengah perbedaan yang merupakan sebuah sunnatullah.

Selain itu lanjutnya, tumpeng biasanya dihiasi dengan bubur merah putih yang juga memiliki makna mendalam bagi kehidupan manusia. Bubur merah yang di atasnya terdapat bubur putih menggambarkan bahwa setiap manusia mesti ada kesalahan. Namun hendaknya manusia harus selalu melihat kebaikan-kebaikan yang ada.

Sebaliknya, bubur putih dengan atasan bubur merah melambangkan bahwa sebaik-baik manusia bisa dipastikan memiliki kekurangan dan kelemahan. Maka menurutnya hendaklah manusia jangan merasa suci dan merasa terbaik serta buanglah rasa sombong.

"Kita ini beragam tapi harus dapat bersatu. Kita beda tapi tidak boleh dibeda-bedakan. Kita sama tapi tidak bisa disama-samakan. Dirimu adalah diriku dalam bentuk yang berbeda. Bersama kita bisa meraih ridho Allah SWT," ungkapnya disambut riuh tepuk tangan para Jamaah.

Kiai Surjani mengajak elemen bangsa Indonesia untuk senantiasa menghormati perbedaan dan tidak menyalahkan serta menganggap dirinyalah yang paling benar.

"Mari jaga Indonesia tetap satu dalam Bhinneka Tunggal Ika. Bukan Bhinneka Tinggal Aku Saja," pungkasnya pada kegiatan yang mengangkat tema Jalin Ukhuwah, Syiarkan Dakwah Islamiyyah. (Muhammad Faizin/Fathoni)


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Daerah Lainnya

Terpopuler Daerah

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×