Daerah

Siswa MTs Nurul Huda Wajib Baca Sejarah NU dan Buku Aswaja

NU Online  ·  Rabu, 1 Maret 2017 | 16:03 WIB

Sidoarjo, NU Online
Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda, Desa Kalanganyar, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, menerapkan tradisi gemar membaca buku sejarah Nahdlatul Ulama dan ilmu ke-Aswajaan. Hal ini dilakukan agar para siswa mampu meneruskan sejarah perjuangan NU dan ulama besar yang ada di Indonesia.

Setiap hari santri atau siswa MTs Nurul Huda diwajibkan membaca buku-buku sejarah NU dan ilmu aswaja. Hal ini dilakukan agar perjuangan para ulama dan pendiri NU terpatri dalam bingkai melindungi aset sejarah NU kepada para santri penerus ulama ke depan.

Ketua Yayasan Islam MTs Nurul Huda KH Turmudzi Hudan mengatakan, saat ini perjuangan NU harus dihidupkan kembali melalui pintu pendidikan berbasis pesantren. Pasalnya, penerus perjuangan NU terletak pada santri atau siswa yang mengemban ilmu di pendidikan berbasis pesantren.

"Untuk melestarikan dan melindungi sejarah yang melatarbelakangi berdirinya NU, memang di yayasan ini pelajaran Aswaja diseriusi betul. Agar anak-anak tidak lupa kepada pendiri NU. Karena para ulama dan kiai tidak hanya mendirikan NU, tapi juga turut berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia," kata Kiai Turmudzi yang juga Wakil Rais Syuriyah MWCNU Sedati, Selasa (1/3).

Siswa sebagai tonggak penerus bangsa melalui NU harus mampu berkiprah dan mengetahui sejarah perjuangan NU saat memperjuangkan kemerdekaan RI. Tak hanya itu, siswa dan santri merupakan aset terbaik dari NU untuk meneruskan cita-cita perjuangan para ulama NU sebagai guru yang mampu memperjuangkan sejumlah ilmu di antaranya Aswaja.

Menurut salah satu siswa MTs Nurul Huda Riskyaning Umah, membaca buku Aswaja memang sudah menjadi kebiasaan para siswa dalam menjalankan tugas. Hal itu agar para siswa mampu mengenal dan meneladani para pendiri NU.

"Membaca buku Aswaja ini diperuntukkan bagi anak-anak agar tidak hilang dari pikirannya dan tidak tergerus dengan ilmu lain. Ilmu Aswaja ini juga diharapkan bisa maju," ucap Riskyaning Umah. (Moh Kholidun/Alhafiz K)