Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Humor Gus Dur: Kualat

Humor Gus Dur: Kualat
Ilustrasi humor Gus Dur. (Foto: NU Online)
Ilustrasi humor Gus Dur. (Foto: NU Online)

Almarhum KH Bukhori Masruri dalam suatu ceramahnya berkisah, bahwa semasa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi presiden, ia pernah berbuka puasa bersama dengannya. Malahan, di sela itu, teman Gus Dur sejak kecil ini sempat memberikan nasihat atau imbauan.


“Gus…!” kata mantan Ketua PWNU Jawa Tengah itu, tetap memanggil “Gus” meski yang dipanggilnya adalah seorang presiden.


“Ada apa, Mas Bukhori?” jawab Gus Dur.


“Anda sekarang jadi bapak manusia se-Indonesia. Dulu hanya menjadi bapak orang NU, sekarang jadi bapak rakyat se-Indonesia. Saya minta dadanya tambah dilapangkan. Kalau ada orang menjelek-jelekkan Anda, entah minta maaf, entah tidak meminta maaf, Anda mesti memaafkan,” ungkap kiai yang juga pencipta lagu-lagu Nasida Ria itu.


“Lho, Anda kok punya saran begitu itu bagaimana?” jawab Gus Dur, penasaran.


“Sebab ada orang yang menjelek-jelekkan Anda, setelah mengolok-olok Anda, itu terus jatuh, sakit dan mati,” kata Abu Ali Haidar, nama pena-nya.


Jadi, lanjut Kiai Bukhori, ketika menjelek-jelekkan belum selesai, orang itu terjatuh, lalu sakit dan kemudian meninggal dunia. Hal ini membuatnya khawatir jika kemudian kejadian itu terjadi terus menerus.


“Pokoknya Anda harus lapangkan dadanya,” kata alumnus Pesantren Sarang, Rembang, meyakinkan.


Tapi apa jawab Gus Dur?


“Oh, ada lagi, Mas Bukhori,” sahutnya.


“Lho, malah cerita. Orang saya nasihati malah (balik) cerita,” ungkap penggubah lagu Tahun 2000, Perdamaian, dan Lingkungan Hidup itu, sambil terkekeh atas kelakuan sahabatnya.


Kiai Bukhori pun kini gantian mendengarkan kisahnya.


“Di Purwokerto, ada kiai pidato menjelek-jelekkan saya,” kata Gus Dur. Orang-orang pun tertawa.


Menurut kiai yang berpidato, orang-orang pada tertawa karena pidatonya. Padahal karena sarung kiai itu lepas di atas panggung, dan terlihat celananya yang panjang sampai lutut. (Ahmad Naufa Khoirul Faizun)


Sumber: Ceramah KH Bukhori Masruri alias Drs Abu Ali Haidar (1942 – 2018) di acara Haul Gus Dur Ke IV dan Masyayikh NU Demak di Masjid Agung Demak, 29 Desember 2013.



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Humor Lainnya

Terpopuler Humor

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×