Internasional

Gairah Piala Dunia 2018 Kalahkan Politik di Damaskus

Rab, 18 Juli 2018 | 16:16 WIB

Gairah Piala Dunia 2018 Kalahkan Politik di Damaskus

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Damaskus, NU Online
Di Taman Al-Jahez di Ibu Kota Suriah, Damaskus, warga mengibarkan bendera Perancis saat mereka menyaksikan pertandingan final Piala Dunia 2018 Rusia antara Perancis dan Kroasia di layar raksasa.

Itu menjadi tanda bahwa cinta pada sepak bola tak terpengaruh oleh hubungan negeri tersebut yang memburuk dengan Barat.

Dilansir Antara, Kedutaan Besar Perancis di Suriah telah lama ditutup di tengah meningkatnya ketegangan antara Damaskus dan Barat akibat perang Suriah.

Di atas semua itu, Perancis ikut dalam serangan luas bersama Amerika Serikat dan Inggris terhadap lokasi militer Suriah pada April lalu.

Pemerintah Suriah telah berulangkali menuduh Perancis mendukung kelompok teror di Suriah, sedangkan Paris telah menuduh Pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad melakukan serangan kimia di daerah yang dikuasai gerilyawan di Suriah.

Tapi ketegangan tak bisa menghentikan penggemar sepak bola Perancis di Suriah untuk mengibarkan bendera Perancis, yang telah hilang dari perwakilan diplomatik di Suriah.

Sebagian penggemar fanatik bahkan menggambar bendera warna biru-putih-merah di wajah mereka, sedangkan yang lain memakai wig biru dan berteriak buat tim favorit mereka selama pertandingan, kata Xinhua –yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa pagi.

Anak kecil juga ikut dalam kegilaan sepak bola dan berteriak-teriak buat tim Perancis. Kebanyakan pemirsa bergembira buat Prancis, sementara sebagian yang lain mendukung tim Kroasia “sebab mereka bermain bagus”.

“Saya telah lama mendukung tim Perancis dan saya mencintai permainan mereka,” kata Muhammad, seorang penggemar tim Prancis, kepada Xinhua.

Ia mengatakan sepak bola dan olah raga berbeda dengan politik sebab “itu adalah permainan yang dicintai oleh jutaan orang di seluruh dunia dan saya secara pribadi mendukung pemain sepak bola yang bagus”.

Sami, yang memakai wig biru dan kaca mata berwarna biru, mengatakan ia telah mendukung tim Perancis sejak 1998, “sebab tim tersebut sangat bagus dan tak peduli siapa yang melatih mereka, mereka bermain sangat bagus dan mereka cerdik”.

Jaber menyaksikan pertandingan itu bersama putrinya, yang, katanya, telah berharap tim Perancis mencapai final.

“Saya pribadi tidak mendukung tim manapun, sebab saya datang ke sini hari ini karena putri saya mencintai tim Perancis dan ia memiliki firasat Prancis akan mencapai final,” kata Jaber kepada Xinhua.

Kebanyakan mereka yang menyaksikan pertandingan tampaknya terpisah dari politik, sebab semua yang mereka bicarakan ialah teknik bermain dan cara pemain mengkoordinasikan gerakan mereka. Yasser mengatakan memberi dukungan buat tim sepak bola negara tertentu tidak berarti mendukung negara tim itu. (Red: Fathoni)