Jakarta, NU Online
Salah satu ulama pejuang perdamaian Afganistan, Fazal Ghani Kakar memuji Nahdlatul Ulama sebagai contoh organisasi keislaman yang sukses menciptakan harmoni bagi warga Indonesia yang majemuk dalam bingkai spirit kebangsaan.
"Saya berharap ini dapat diterapkan di negara-negara lain," kata Fazal Ghani kepada NU Online selepas mengikuti International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) di Jakarta, Selasa (12/5).
Fazal Ghani sendiri mendirikan Nahdlatul Ulama Afganistan (NUA) bersama para ulama setempat. Meski bukan cabang dari NU di Indonesia, NUA yang beranggotakan warga berkebangsaan asli Afganistan memiliki prinsip yang sehaluan dengan warga NU di Indonesia.
Fazal Ghani yang menjadi ketua NUA sejak pertama didirikan menjelaskan, lima prinsip yang menjadi garis perjuangan NUA adalah at-tawassuth (moderasi), at-tawazun (keseimbangan), al-‘adalah (keadilan), at-tasamuh (toleransi), dan al-musyarakah (berserikat). Ia mencangkok NU ke negaranya lantaran tertarik kepada ormas rintisan para kiai tersebut sebagai sarana mengatasi konflik di sana.
setiap tahun menggelar muktamar untuk mengumpulkan kekuatan dan bermusyawarah terkait problem-problem yang berkembang di Afganistan. “NU Afganistan sedang terus dalam proses perkembangan dan perluasan,”
ujarnya.
Sebagaimana kebanyakan Muslim Sunni di Afganistan, anggota NUA menganut madzhab Hanafi di bidang fiqih. Sebagian mereka juga bergabung di beragam tarekat, seperti Naqsabandi, Chistiyah, Qadiriyah, dan lainnya.
Menurut Fazal, di negerinya belum ada organisasi yang mampu menyeleraskan cinta tanah air (
hubbul wathan) dan cinta agama (
hubbud din) seperti yang dimiliki Nahdlatul Ulama. “
Kami mencintai Indonesia dan penduduk Indonesia. Masyarakat Muslim moderat di negeri yang besar dan indah,” ujarnya.
(Mahbib)