Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Kiai Kafabihi Mahrus Lirboyo Sebut Tawadhu’ Kunci Kemuliaan Seseorang

Kiai Kafabihi Mahrus Lirboyo Sebut Tawadhu’ Kunci Kemuliaan Seseorang
Kiai Kafabih Mahrus Lirboyo dalam sebuah acara di PBNU. (Foto: NU Online/Suwitno)
Kiai Kafabih Mahrus Lirboyo dalam sebuah acara di PBNU. (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdullah Kafabihi Mahrus mengingatkan bahwa tawadhu’ (rendah hati) adalah kunci kemuliaan seseorang di hadapan Allah swt.


Pada pembahasan ini, Kiai Kafa menyampaikan bahwasanya Nabi Muhammad saw ketika diutus tidak mau menjadi rasul sekaligus raja. Namun, beliau lebih memilih menjadi rasul dan ‘abdullah (hamba Allah swt). Hal tersebut tak lain dan tak bukan karena ketawadhu’an Rasulullah saw. Oleh sebab itu, beliau dimuliakan Allah.


“Dengan arti kunci kemuliaan itu harus dengan tawadhu’,” tegas Pengasuh Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur itu saat mengisi acara Haul ke-2 KH Noer Muhammad Iskandar bin KH Askandar di Pesantren Asshiddiqiyah Pusat, Jakarta Barat, Rabu (23/11/2022).


Kiai kelahiran Kediri itu juga mengutip Al-Qur’an surat Al-Hijr, tepatnya pada bagian akhir ayat ke-88 yang artinya: “..dan berendah-hatilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.”


Selain ayat di atas, Kiai Kafa juga menyebutkan sabda Nabi Muhammad saw dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Mandah dan Imam Abu Nu’aim dari sahabat Aus bin Khauli ra yang artinya: “Siapa yang tawadhu’ karena Allah, maka Allah akan mengangkat (derajat) nya (di dunia dan akhirat), dan siapa yang sombong maka Allah akan merendahkannya.”


Senada, Pimpinan Pesantren Lirboyo KH Anwar Manshur yang juga mengisi acara haul tersebut menceritakan tentang ketawadhu’an Kiai Noer Iskandar. Meskipun Kiai Noer mondok di berbagai pesantren, namun yang paling lama adalah di Pesantren Lirboyo.


Kiai yang akrab disapa Mbah War itu menuturkan bahwa ketika berada di Lirboyo, Kiai Noer merupakan sosok yang begitu tawadhu’. Tampak seperti santri biasa, sama sekali tidak memperlihatkan dirinya sebagai seorang anak kiai besar. Berbagai pekerjaan seperti mencuci pakaian, menyapu, dan lain-lain sangat biasa Kiai Noer lakukan.


“Beliau sangat tawadhu’. Sama saya akrab sekali. Alhamdulilah, waktu itu beliau menikah dengan orang Malang, (dari teman-temannya) yang datang hanya saya sendiri, ga ada yang datang,” kenang kiai kelahiran tahun 1938 itu.


Masih membahas ketawadhu’an Kiai Noer, Mbah War mengatakan bahwa kadang-kadang dirinya meminta tolong kepada Kiai Noer untuk menjemput anak beliau di Pesantren Pacul Gowang, Jombang, menggunakan kendaraan motor yang terbilang amat sangat biasa kala itu.


“Beliau itu sangat tawadhu’ pokoknya. Masyaallah tawadhu’nya luar biasa. Beliau juga enakan sekali kalau dimintai tolong, tidak pernah menolak apapun itu,” tegas Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur itu memuji Kiai Noer.


“Semoga saya dan beliau bisa berteman sampai akhirat. Semoga amal ibadah beliau diterima dan dicatat sebagai amal saleh. Semoga keluarga dan pondok beliau juga barokah selalu, baik di dunia maupun akhirat. Aamiin,” pungkas Kiai Anwar Manshur yang diaminkan jamaah yang hadir.


Kontributor: Mamluatul Hidayah
Editor: Musthofa Asrori



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×