Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

PBNU Minta Pemerintah Pertimbangkan Nasib Pesantren

PBNU Minta Pemerintah Pertimbangkan Nasib Pesantren
Rombongan Satgas Covid-19 DPR RI saat mengunjungi Gedung PBNU, Rabu (3/6).
Rombongan Satgas Covid-19 DPR RI saat mengunjungi Gedung PBNU, Rabu (3/6).

Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta kepada pemerintah mempertimbangkan nasib ribuan pesantren dalam menghadapi Covid-19. Saat ini masih banyak pesantren yang belum memiliki sarana protokol kesehatan. Karena itu, perlu dipikirkan bagaimana kebijakan pemerintah agar pesantren tidak menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.


Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, sejak mewabahnya Covid-19 di Indonesia belum ada kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama (Kemenag) yang fokus pada penanganan Covid-19 di pesantren. Menurut Kiai Said, pesantren-pesantren tidak boleh diabaikan, khawatir terjadi penyebaran virus yang tidak terkontrol sehingga menambah kasus Covid-19 secara signifikan.


“Pemerintah tidak mempertimbangkan nasib pesantren, pesantren itu memiliki banyak sekali santri Pesantren Lirboyo saja 30 ribu santri, Situbondo 25 ribu. Saat ini mereka menggunakan fasilitas seadanya, pemerintah sama sekali tidak pernah melihat itu,” kata Kiai Said saat menerima kunjungan Satgas Covid-19 DPR RI di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (3/5).


Pengasuh Pesantren Luhur At-Tsaqafah ini menambahkan, pemerintah sudah saatnya mendistrbusikan kebutuhan dasar protokol kesehatan dalam melawan Covid-19 seperti masker atau peralatan lain yang bisa mendorong tidak terjangkitnya Covid-19 kepada jutaan santri di Indonesia.
 

Pada prinsipnya, PBNU mendorong pemerintah terus meningkatkan perhatian kepada puluhan ribu pesantren agar Covid-19 dapat dikendalikan dari berbagai tempat. Pesantren, ucapnya, merupakan lembaga yang secara aktivitas banyak melakukan kerumunan, karenanya penting untuk diperhatikan.
 

“Di pesantren itu satu kamar sampai 20 orang, di pesantren itu begitu. Pemerintah belum ada perhatian ke arah situ. Kemenag belum mikir, la haula wala quwwata, tidak ada upaya, doif semua,” tutur Kiai Said.


Sementra itu, untuk tetap menghindari terjadinya dampak buruk Covid-19 di pesantren, Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) atau asosiasi pesantren-pesantren di bawah nauangan Nahdlatul Ulama telah menerbitkan panduan bagi pesantren dalam rangka memperkuat pencegahan terhadap Covid-19.


Panduan yang dituangkan dalam Surat Edaran Nomor: 835/A/PPRMI/SE/III/2020 pada 13 Maret 2020 M/18 Rajab 1441 tersebut ditujukan agar pesantren tidak menjadi klaster baru penyebaran Covid-19 di Indonesia.


Ketua Pengurus Pusat RMINU, KH Abdul Ghaffar Rozin mengatakan, setidaknya ada tiga alasan mengapa panduan itu harus dibuat oleh RMI PBNU. Pertama, didasari harapan bahwa pesantren tidak membentuk klaster baru Covid-19, sehingga penting sekali diberikan penegasan agar pesantren terus memaksimalkan protokol ketetapan pencegahan Covid-19.


Kedua, terjadinya peningkatan angka positif Covid-19 di Indonesia.


Disisi lain, lahirnya panduan RMI PBNU  setidaknya bisa memudahkan santri dan para kiai saat melakukan aktivitasnya. Sebab, jika lengah, penyebaran virus bisa masuk ke berbagai lingkungan masyarakat termasuk  di dalamnya adalah pesantren.


“Seperti kita tahu, kalau melihat grafik secara nasional sampai sekarang belum turun,” kata Gus Rozin saat dihubungi NU Online, Selasa (2/6).  


Alasan ketiga, pesantren sebagai lembaga komunal memiliki potensi penyebaran yang cukup tinggi.


Dalam edarannya, RMI PBNU merekomendasikan menunda pembukaan kegiatan mengaji jika keadaannya tidak memungkinkan. Meski begitu realita di lapangan, setelah lebaran keinginan para pimpinan pesantren NU untuk membuka kembali pesantren terus menggema. Makanya, beberapa pesantren secara bertahap direncanakan membuka lagi kegiatan pengajian.


“Maka imbauan kita kepada semua pesantren yakni melaksanakan protokol RMI yang ada di surat edaran itu jika tidak bisa memperpanjang lagi liburan,” ujarnya.


Paling penting, pesanten yang  siap aktif tersebut menyadari jika terlah terjadi perubahan sosial sejak hadirnya Covid-19. Misalnya saat ini masyarakat harus banyak memperkuat protokol kesehatan agar Covid-19 dapat dihindari.


Selanjutnya, berikut 12 ketentuan RMI PBNU terkait Protokol Pencegahan Penyebaran Covid-19 pada Pondok Pesantren.


Pertama, semua orang yang masuk ke pesantren, baik guru, tamu, santri, wali santri, harus dicek suhu panas badannya menggunakan thermometer inframerah genggam atau yang dikenal dengan thermometer tembak;


Kedua, jika suhu badan tamu, guru, santri, wali santri melebihi dari 37,3 derajat celcius, maka yang bersangkutan tidak diperkenankan masuk ke area pesantren;


Ketiga, semua orang yang masuk ke pesantren, baik guru, tamu, santri, wali santri, harus cuci tangan menggunakan sabun atau disinfektan yang telah disediakan;


Keempat, pesantren menyediakan tempat cuci tangan dan sabun di setiap pintu masuk pesantren, madrasah, sekolah, perguruan tinggi, dan asrama, masjid, musholla, dan rumah pengasuh dan asatidz;


Kelima, di setiap pintu masuk diberikan informasi tatacara cuci tangan yang benar dan dikontrol pelaksanaannya baik oleh sesama santri ataupun asatidz;


Keenam, pesantren harus absensi dan monitor kesehatan santri secara rutin baik di kelas, asrama, maupun dalam aktivitas lainnya;


Ketujuh, kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang, terutama masyarakat umum, perlu ditunda untuk sementara waktu;


Kedelapan, pesantren perlu menyediakan ruang isolasi yang dapat digunakan oleh guru, santri dan pengurus pesantren jika mengalami flu, batuk, demam; gangguan pernafasan, sakit tenggorokan, dan badan terasa letih;


Kesembilan, jika setelah mendapatkan penanganan, gejala-gejala tersebut tidak segera reda/turun, maka pesantren harus segera merujuk yang bersangkutan ke rumah sakit terdekat;


Kesepuluh, pesantren perlu bekerjasama dengan dengan puskesmas, rumah sakit, dan tim medis untuk terus memantau kondisi kesehatan santri, ustadz, dan pengurus pesantren;


Kesebelas, sebagai upaya pencegahan, pesantren perlu menggalakkan aktivitas yang dapat meningkatan imunitas tubuh santri, asatidz, dan pengurus pesantren, dan mengkonsumsi vitamin C;


Kedua belas, membaca qunut nazilah, sholawat tibbil qulub dan doa tolak bala sebagai ikhtiar kita kepada Allah SWT agar pesantren dan seluruh bangsa Indonesia terselamatkan dari virus dan bencana ini.


Pewarta : Abdul Rahman Ahdori
Editor  : Aryudi AR

 



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×