Nasional

Pesan Sastrawan Ahmad Tohari, Jangan Menulis untuk Menyakiti Orang Lain

Ahad, 7 Juli 2019 | 12:30 WIB

Pesan Sastrawan Ahmad Tohari, Jangan Menulis untuk Menyakiti Orang Lain

Ahmad Tohari (berdiri baju putih) di Jambore Sastra Nasional di Cianjur.

Cianjur, NU Online
Seorang penulis hendaknya menulis untuk memberikan manfaat kepada banyak orang. Karena itu, kandungan tulisan jangan berisi sesuatu yang berpotensi menyakiti siapa pun.

Sastrawan Ahmad Tohari menyampaikan hal itu saat mengisi Jambore Sastra Nasional, Jumat (5/7) malam. Kegiatan itu berlangsung di Bumi Perkemahan Mandalawangi, Cibodas, Cianjur, Jawa Barat.

Ia menambahkan, untuk menghasilkan karya yang bermanfaat harus ditulis dengan baik dan berisi hal yang memang bermanfaat. Untuk itu, diperlukan kepekaan atau kegelisahan menangkap ide-ide untuk bisa dituliskan dalam sebuah karya.

Kepekaan atau kegelisahan bisa saja terjadi saat penulis yang beragama Islam membaca dan memahami makna yang terkandung dalam ayat Kursi. "Gelisah memahami yang terkandung dalam ayat Kursi. Apa yang di langit dan di bumi adalah milik Allah," kata penulis yang cerpennya Lelaki yang Menderita Bila Dipuji baru-baru ini masuk dalam Cerpen Pilihan Kompas 2018.

Kegelisahan membaca ayat-ayat Allah baik yang tersurat dalam kitab suci maupun ayat-ayat-Nya dalam fenomena alam dan peristiwa di sekitarnya, diakui Tohari kerap mendorongnya menuliskan karya. Hal itu dapat pula dilatihkan kepada para siswa.

Nah, bagaimana untuk menggiatkan literasi nasional dengan melibatkan siswa? "Menggiatkan literasi nasional salah satu caranya yaitu memerintahkan siswa untuk menulis kemudian dibukukan," katanya.

Tohari juga menyampaikan untuk dapat menulis harus menguasai bahan-bahan untuk ditulis. Menulis esai, misalnya, penulis harus menguasai materi. "Sebagai contoh misalkan menulis tentang kebinekaan, kita harus menguasai kapan lahirnya kebinekaan tersebut, dan lainnya," papar Tohari.

Pada kegiatan yang diadakan oleh Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (AGBSI) bekerja sama dengan Badan Bahasa, Tohari juga berpesan agar dalam menulis memperhatian beberapa hal. Hal-hal itu adalah judul, lead, dan akhir atau ending tulisan yang harus menarik.

Jambore Sastra Nasinal berlangsung 5-7 Juli 2019 diikui para guru Bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia. (Rahmat Purwanto/Kendi Setiawan)