Home Nasional Warta Esai Khutbah Daerah Cerpen Fragmen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Keislaman Internasional English Tafsir Risalah Redaksi Opini Hikmah Video Nikah/Keluarga Obituari Tokoh Hikmah Arsip Ramadhan Kesehatan Lainnya

Rais 'Aam Tegaskan Peran Penting Media sebagai Penjaga Aswaja

Rais 'Aam Tegaskan Peran Penting Media sebagai Penjaga Aswaja
Rais 'Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar
Rais 'Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar
Surabaya, NU Online
Saat ini dunia sudah memasuki era yang dikenal dengan zaman revolusi industri. Beragam sektor harus segera menyesuaikan agar tidak tertinggal dengan kemajuan zaman yang sedang berlangsung saat ini, termasuk juga adalah para pemilik media.

Hal ini disampaikan oleh Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar saat menyampaikan tausyiah di pembukaan acara Forum Silaturrahim Nasional (Forsilatnas) ke VIII Persaudaraan Profesional Muslim Aswaja (PPM Aswaja) yang berlangsung di Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya.

Menurutnya, sudah saatnya media aswaja berkontribusi untuk menjaga aswaja di era revolusi industri ini. “Saat ini dunia sudah memasuki era revolusi industri, saya berharap yang hadir di sini bisa turut berkontribusi untuk menjaga aswaja, meneliti kitab-kitab aswaja, dan sebagainya,” ucapnya, Sabtu (27/4).

Terlebih lagi, saat ini aswaja sedang mendapatkan ancaman dan tekanan yang sangat intens dari pihak manapun. “Saat ini aswaja mendapat ancaman dan tekanan yang beragam macam dari berbagai pihak, salah satunya adalah serangan hoaks dan saya lihat pelaku-pelaku hoaks kebanyakan lulusan dari Timur Tengah,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Miftach mengapresiasi atas penyelenggaraan kegiatan Forsilatnas yang diselenggarakan di pesantren asuhannya. Ia mengatakan bahwa pesantren merupakan tempat munculnya kader-kader aswaja dan tempat yang memiliki banyak nilai keberkahan.

“Saat ini pesantren menjadi tempat bagi munculnya kader-kader aswaja dan harus menjadi pilihan utama. Sebab di sana adalah tempatnya keberkahan karena ada ridlassyaikh (ridla dari kiai.red), ada du’aul walidain (ridla dari kedua orang tua.red),” tukasnya.

Kiai Miftach juga menekankan agar yang hadir dalam kegiatan ini menjadi insan yang profesional tanpa melupakan bismirabbik,
seperti yang ada dalam wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah. Sebab dengan ini seseorang akan menjadi insan yang lurus.

“Jadilah kalian orang yang memiliki kemampuan, memiliki gelar, tapi jangan lupa bismirabbika, sebab akan menjadi pembimbing kalian menjadi insan yang lurus,” pungkasnya. (Hanan/Muiz)


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×