Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

51 Surat Suara Hilang, Kaji akan Laporkan Pelanggaran ke Presiden

51 Surat Suara Hilang, Kaji akan Laporkan Pelanggaran ke Presiden
Pamekasan, NU Online
Panitia Pengawas (Panwas) Pilkada saat ini sedang mengusut hilangnya 51 surat suara pemilihan gubernur Jawa Timur di TPS 13 Desa Waru Timur, Kecamatan Waru, Pamekasan, Madura.

Sementara ini Panwas belum bisa memastikan penyebab hilangnya surat suara tersebut yang terungkap setelah Kapolda Jawa Timur, Irjend Pol Herman S Sumawireja, meninjau langsung lokasi TPS di wilayah pantai utara Pamekasan.<>

"Kami sudah memanggil Panwas Kecamatan dan para petugas kami di lapangan untuk mengusut kasus ini," kata anggota Panwas Pamekasan, Badrut Tamam, di kantor Panwas jalan Swatantra, Senin (29/12) di Pamekasan.

Sementara itu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji) berencana akan melaporkan pelanggaran dalam pelaksanaan penghitungan ulang suara di Kabupaten Pamekasan.

Tim Kaji menemukan pelanggaran yang dilakukan petugas pelaksana pemungutan suara ulang, seperti tidak adanya salinan berita acara model C-KWK, C-KWK, lampiran C-1 KWK serta C-3 KWK di TPS.

"Kami ingin menunjukkan kepada publik bahwa koreksi kinerja KPU Jawa Timur harus mendapat koreksi serius dari para pihak yang berkompeten," kata Khofifah di Pamekasan, Ahad (28/12).

Selain itu KPU juga tidak menempelkan daftar pemilih tetap (DPT) di masing-masing TPS sebagaimana dimaksud dengan surat keputusan KPU nomor:32 tahun 2008 tentang cara penghitungan suara ulang.

"Presiden dan DPR harus tahuu tentang persoalan yang terjadi di Pamekasan ini dan hal itu dilakukan oleh KPU sendiri. Apa jadinya produk Pilkada, kalau dalam pelaksanaannya secara konstitusional melanggar asas Pemilu yang luber, jurdil dan demokratis," kata Khofifah.

Sebagai bangsa dan warga negara yang baik, Khofifah menyatakan, mestinya para pelaksana Pilkada selalu belajar lebih baik dan lebih baik lagi. Bukan malah lebih parah atau stagnan.

"Karena dari sana akan bermuara kepada keadilan dan kesejahteraan. Saya yakin, kejujuran masyarakat adalah modal yang masih kita miliki. Jadi marilah para elit dan pemegang kebijakan belajar pada masyarakat," kata Khofifah. (sam/ant/amh)


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Warta Lainnya

Terpopuler Warta

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×