Sabtu, 01 November 2014
Language :
Find us on:
Buku 
Pelecehan terhadap Amaliah Warga NU
Senin, 03/03/2008 06:00
Pelecehan terhadap Amaliah Warga NU
Judul Buku: Membongkar Kebohongan Buku; Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik (H. Mahrus Ali)
Penulis: Tim Bahtsul Masail PCNU Jember
Penerbit: Khalista Surabaya
Cetakan: I, Januari 2008
Tebal: xi+ 254 halaman
Peresensi: Ach. Tirmidzi Munahwan

Buku yang berjudul "Membongkar Kebohongan Buku; Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir" ini, merupakan jawaban dari buku yang ditulis H Mahrus Ali yang berjudul, "Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik". Tulisan Mahrus, ternyata mempunyai banyak kejanggalan dan kebohongan, bahkan meresahkan kaum muslimin, khususnya bagi warga Nahdliyyin (sebutan untuk warga NU). Tim Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Cabang NU Jember merasa bertanggung jawab untuk meluruskan adanya kejanggalan dan kebohongan buku tersebut.

Dalam bukunya, Mahrus mengatakan bahwa tawassul dan istighosah termasuk perbuatan bid'ah (mengada-ada dalam beribadah), syirik (menyekutukan Tuhan). Bahkan, ia mengkafirkan. Dan, ibadah-ibadah lainnya, seperti, membaca sholawat pada Nabi dan membaca zikir setelah salat lima waktu termasuk perbuatan bid'ah. Padahal, bacaan-bacaan itu telah menjadi tradisi khususnya di kalangan Nahdliyyin. Pertanyaannya, apakah Mahrus sudah menemukan dalil yang kuat dalam Al-Quran dan Al-Hadist, bahwa ber-tawassul, istighosah, membaca sholawat pada Nabi, dan membaca zikir termasuk perbuatan bid'ah, kufur, syirik, dan menyesatkan?

Karena itu, dalam buku ini, dijelaskan, ber-tawassul dan ber-istighosah, hukumnya adalah boleh, baik ketika seorang nabi atau wali itu masih hidup atau sudah meninggal. Namun, hal itu harus disertai dengan keyakinan bahwa tidak ada yang bisa mendatangkan bahaya dan memberikan manfaat secara hakiki, kecuali Allah. Sedangkan, para nabi dan wali hanyalah sebagai sebab atas dikabulkannya doa dan permohonan seseorang.

Adapun kebolehan ber-tawassul dan ber-istighosah kepada para nabi dan para wali, baik ketika mereka masih hidup maupun yang telah meninggal, hukumnya sudah disepakati seluruh ulama salaf yang saleh sejak generasi Sahabat sampai generasi para ulama terkemuka pada abad pertengahan. Ada 12 ulama besar terkemuka, yang semuanya sepakat membolehkan ber-tawassul dan ber-istighosah. Di antaranya, Al- Imam Sufyan bin Uyainah (Guru Imam Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hambal), Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi'I, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Abu Ali al-Khallal, Al-Hafizh Ibn Khuzaimah, tiga hafizh (al-Thabarani, Abu al-Syaikh dan Abu Bakar Ibn al-Muqri'), Ibrahim al-Harbi, Al-Hafizh Abu Ali al-Naisaburi, Al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi, dan Abu al-Khair al-Aqqtha'.

Tidak hanya ulama di atas yang membolehkannya. Al-Quran yang merupakan sumber primer pengambilan hukum Islam justru menganjurkan ber-tawassul dan ber-istighosah. Seperti yang dijelaskan dalam surat al-Maidah ayat 35, yang artinya, "Hai, orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya". (QS. Al-Maidah:35). Jadi, dapat kita simpulkan bahwa ber-tawassul dan ber-istighosah dengan para Nabi dan para wali yang sudah meninggal tidak bertentangan dengan ajaran yang telah dijelaskan dalam Al-Quran dan Al-Hadits.

Adapun penolakan Mahrus, dalam bukunya, terhadap doa-doa, tawassul dan istighosah, dengan dipertentangkan dengan ayat-ayat Al-Quran, adalah berakar pada dua hal. Pertama, Mahrus tidak merujuk pada kitab-kitab tafsir yang mu'tabar (dapat dipertanggungjawabkan) yang ditulis para huffazh, seperti, Tafsir Ibn Katsir, Tafsir al-Qurthubi, dan lain-lain. Kedua, Mahrus tidak memahami maksud ayat-ayat Al-Quran yang diajukan untuk menentang doa-doa tawassul dan istighosah. Ia tidak dapat meletakkan ayat-ayat Al-Quran pada tempat yang sebenarnya (hal. 59-60).

Selain itu, Mahrus mengaku sebagai mantan kiai NU, padahal dia tidak pernah tercatat sebagai anggota dan aktivis NU, apalagi tokoh atau kiai NU, sebagaimana keterangan dari Pengurus Ranting NU Sidomukti, Kebomas, Gresik—tempat kelahirannya. Juga, keterangan dari pengurus Majelis Wakil Cabang NU Waru, Sidoarjo—tempat Mahrus saat ini tinggal.

Dalam bukunya, "Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir", Mahrus telah menyinggung dan melakukan pelecehan terhadap kaum muslimin, khususnya warga NU. Karena ia mau merubah, bahkan melarang amaliah yang sudah menjadi tradisi kalangan pesantren dan warga NU.

Buku ini sangat penting untuk dimiliki dan dibaca kaum muslimin, warga NU pada umumnya. Agar umat Islam, warga NU, hati-hati dan tidak gampang terpengaruh tulisan-tulisan yang saat ini sering menyudutkan terhadap amaliah yang sudah menjadi kebijakan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Semoga buku ini bermanfaat bagi umat Islam, khususnya bagi warga NU.

Peresensi adalah Warga NU asal Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur
Komentar(10 komentar)
Rabu, 17/11/2010 17:53
Nama: Windu
K.H. Makhrus Ali itu Benar Secara Marketing
K.H. Makhrus Ali itu sangat benar secara marketing, karena telah memilih judul yang tepat. Tinjauan saya sebagai pengamat pasar, mengacungi jempol pada beliau karena judul bukunya sangat bagus, dan marketable. Kalau buku cuma dibuat judul yang biasa-biasa mana laku, mana bisa buat ngidupi keluarga, ntar susah2 nulis ga ada yang laku. Soal isi aku ga komentar, kayaknya sih cuma hal-hal yang gak begitu penting, aku punya kedua buku tersebut dan belum ada yang kubaca, ya maleslah, mending baca novelnya kang Abik...he...3x. Kalau aku sih, menurutku riski itu sudah ada yang mengatur, cari yang halal2 saja, ga perlu jualan agama, apalagi bikin fitnah sesama umat muslim. Nanti yang terjadi justeru perang ayat/hadits. Kasihan, mereka masih banyak yang hidup susah, harus dibikin buku-buku tentang kewirausahaan ... Asal sudah mengikuti pendapat guru yang sanadnya sampai Rosulullah SAW itu baru benar, tapi kalau gurunya saja sanadnya cuma sampai majalah dan tabloid, repot juga.... haw...5x.
Ahad, 05/09/2010 15:16
Nama: mujaddid
kebenaran itu mutlaq
subhaanallah....
di dalam forum ini banyak yang mengklaim diri dan kelompoknya adalah ahlus sunnah... tapi kenapa masih ada yang mengejek, menyebut nama orang lain dengan yang bukan namanya (Isim Laqob), bukankah Rosulullah telah melarang kepada hal tersebut?????
perlu diteliti lebih dalam saudara-saudaraq...
yang namanya sunnah itu adalah anjuran. dan pengertian sunnah dalam islam adalah anjuran dari rosulullah. jadi sebuah perbuatan (amalan) akan disebut dan diakui sunnah jika ada contoh atau perintah dari Rosulullah Muhammad SAW. dan kalau memang tidak ada perinth dari Rosulullah maka tidak dapat disebut sunnah. sebagaimana hukum Qowa'id bahwa asal hukum ibadah adalah "BATHIL" kecuali jika ada dalil (Al-Qur'an ataupun Hadits) yang menerangkan tentang dianjurkannya perbuatan religius (amalan yang dianggap ibadah) tersebut.
dan jika yang diamalkan oleh khalayak saudara2 seiman kita masih ada yang tanpa anjuran Rosul maka sebutannya adalah "BID'AH"
Sabtu, 10/07/2010 06:02
Nama: Sss
MENENTUKAN KEBENARAN
Ber-tawassul dan Ber-istighosah, hukumnya adalah boleh, baik ketika seorang nabi atau wali itu masih hidup atau sudah meninggal.

Jelaskan Dalil shahiihnya !!!
Senin, 21/06/2010 10:11
Nama: MICAS
mohon solusinya
Terkadang masalah buku Mantan kyai NU mengganggu saya,saya pemuda umur 23 tahun, karena orang tua saya yang kbetulan bukan dari NU(tapi organisasi lain selain NU) pas saya membawa buku shalawatan ekspresinya ga seneng trus disuruh baca buku mantan kyai NU itu dst, jadi bingung tindak tanduk seperti salah. trus aku ziarah ke Wali songo dibilang syirik, padahal aku ga minta apa-apa aku cuman Meneladani dari ziarah itu, mknya sya sekarang sering sembunyi sembunyi bila melakukan amaliah wirid,pengajian sowan dll, tapi terkadang saya merasa berdosa juga, harus ngomong gmana ke orang tua agar tidak menyakitkan mereka.

saya juga sering ikut pengajian seperti Muhammadiah, persis dan mereka bukan orang yang seperti MAntan KYAI NU itu, mereka memang tidak melaksanakan seperti qunut, wirid berjamaah, tahlil, tapi mereka juga TIDAK melarang orang luar untuk melakukan itu, bahkan menghakiminya syirik, jadi siapakah si KYAI NU ini apakah
Kamis, 24/12/2009 11:34
Nama: aryadi
yaa dzal fikri
Mahrus Ali adalah wahaby tulen dan wahabylah kelompok yg paling enteng mengkafirkan yg selain golonganya,salafy yang mereka usung dan dikoar2kan sebagai atribut kelompoknya bermuara pada Ibnu Taimyah dan Ibnu Qayyim serta kaum mujassimah dan Musyabbihah lainnya,bukan Sahabat,Tabi'iin dst...baca " Dari Muhammad bin Abdul Wahab hingga Kerajaan Saudi Arabia" atau " Di Mata Para Imam Wahhâbi, Ahlusunnah Adalah Aliran Sesat " jgn lupa ambil air wudlu & sholat 2 roka'at dulu sebelum mulai baca.
Kamis, 24/12/2009 11:30
Nama: aryadi
yaa dzal fikri
Mahrus Ali adalah wahaby tulen dan wahabylah kelompok yg paling enteng mengkafirkan yg selain golonganya,salafy yang mereka usung dan dikoar2kan sebagai atribut kelompoknya bermuara pada Ibnu Taimyah dan Ibnu Qayyim serta kaum mujassimah dan Musyabbihah lainnya,bukan Sahabat,Tabi'iin dst...baca " Dari Muhammad bin Abdul Wahab hingga Kerajaan Saudi Arabia" atau " Di Mata Para Imam Wahhâbi, Ahlusunnah Adalah Aliran Sesat " jgn lupa ambil air wudlu & sholat 2 roka'at dulu sebelum mulai baca.
Jumat, 09/10/2009 05:04
Nama: M. Madfoe
Provokator
@buat Ikhsan...betul setiap orang boleh berpendapat, tapi secara moral dan etik tidak berarti setiap orang boleh berbicara dan menulis seenak wudelnya. Tidak usah baca isi bukunya..mari kita resapi dulu judulnya..apakah itu etis???????Bagaimana kalau saya tulis buku dengan judul " Mantan Pengurus Golkar Korupsi Satu Milyar"...bagaimana reaksi kader golkar...mikir donggg..dasar bego loh
Rabu, 19/08/2009 16:43
Nama: abu abbas
apakah itu ad landasannya
skg tunjukkan pada kita,, bhwa bertawassul dg orang yg sudah meninggal itu ad landasannya???
Senin, 06/07/2009 04:28
Nama: assafanjany
BOHONG BESAR!!
BOHONG BESAR !!! KALU MAHRUS ALI ITU ADIK KANDUNG KH. MUJADDI, SAYA ADALAH TETANGGA BELIAU, WAKTU ADA RIBUT2 BEGINI SAYA KONFIRMASI/TABAYYUN. DAN YANG HAQ ADALAH BAHWA MAHRUS ALI ITU ADIK IPAR DARI ADIK PEREMPUAN PAK MUJADDI. INI BUKTI BAHWA DARI DULU WAHABY MEMANG GEMAR MENDISTORSI/TAHRIF/MENGUBAH FAKTA. HARAP MENJADI MAKLUM!!
Rabu, 18/02/2009 12:49
Nama: R I F Q I
salut ulama NU Jember
Saya sangat prihatin sekali terhadap penyebaran buku mahrus ali yang sudah tersebar di kota yogyakarta yang mayoritas muhammadiyah dan kaum anti NU. tentu mereka mendapat angin segar dari provaganda mahrus ali cs.
Saya sarankan, tolong sebarkan buku tandingannya dikota yogya yang bisa dibilang belum ada, agar mereka dapat berpikir jernih terhadap sangkaan buruk mahrus ali cs.
terimakasih
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Space Iklan
305 x 140 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefNovember 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30      
:::Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::