::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ilhan Omar, Muslimah yang Memulai Gelombang Kritik Israel di Amerika Serikat

Ahad, 17 Februari 2019 14:30 Esai

Bagikan

Ilhan Omar, Muslimah yang Memulai Gelombang Kritik Israel di Amerika Serikat
Foto: Saul Loeb/AFP/Getty Images
Oleh Adam Ganesa Damasky

Terpilihnya Ilhan Omar (36) sebagai anggota Kongres Amerika Serikat (AS) yang ke-116 membuktikan bahwa adanya kesempatan bagi perwakilan warga Muslim yang berada di AS untuk berkarir di dunia politik. Hal ini merupakan hal yang menarik karena mereka merupakan pionir bagi perwakilan wanita Islam dalam Kongres AS.

Berasal dari latar belakang sebagai imigran dari Somalia turut berpengaruh pula bagi arah pandang politiknya. Omar lantang menyuarakan pandangan yang cenderung berbeda dengan Presiden AS Donald Trump terkait persoalan Islam, imigran, Zionisme, dan intervensi Asing.

Semenjak terpilihnya Omar sebagai anggota Kongres, dia aktif melakukan kritik terhadap pemerintah Israel. Dia menuduh pemerintah Israel sebagai pemerintah yang Apartheid (Rasis). Dia juga menyatakan bahwa tindakan yang mereka lakukan di Gaza merupakan  kekejaman. Selain itu, Omar  menyerukan agar dilakukan gerakan BDS (Boikot, Divestasi, dan Sanksi) bagi rezim Israel. Gerakan ini pernah dilakukan di masa lalu oleh berbagai negara untuk menentang rezim Afrika Selatan yang diskriminatif.

Pandangannya tersebut tentu bukanlah pandangan yang populer bagi AS yang sangat dekat dengan Israel. Atas pernyataannya tersebut, Omar mendapatkan kecaman. Tidak hanya di akun media sosial pribadinya, tapi juga di beberapa media massa.

Baru-baru ini pada 11 Februari melalui akun Twitternya, Omar menulis tentang kuatnya kepentingan Benjamin Netanyahu (Perdana Menteri Israel) pada kebebasan berbicara di AS yang mengakibatkan pada kuatnya pelarangan kritik terhadap pemerintah Israel di publik AS. Masih pada kesempatan yang sama, Omar menulis tanggapan bahwa yang membiayai politisi AS untuk terus mendukung Israel adalah AIPAC. AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) adalah kelompok lobby yang memperjuangkan kebijakan pro-Israel pada Kongres dan lembaga eksekutif AS.

Rangkaian postingan tersebut kemudian menjadi perbincangan yang terus-menerus bergulir hingga menjadi polemik di publik AS. Kelompok yang kontra dengan pernyataan Omar mengaitkan bahwa ucapannya bersifat anti-semitisme (anti-semit) dan rasis. Baik petinggi partai Demokrat (diantaranya Nancy Pelosi, Steny Hyer, James E. Clyburn, Ben Ray Luyan, Hakeem Jeffries, dan Katherine Clark) maupun dari partai Republik (Kevin Mc Carthy) sama-sama mengecam Omar. Mereka menyatakan tidak akan diam terhadap pernyataan Omar tersebut.

Di lain pihak, banyak juga kelompok yang mendukung pernyataan Omar tentang kuatnya pengaruh Israel -kelompok lobi AIPAC- dalam politik AS. Ssebuah artikel dari The Intercept Selasa (12/2), menyatakan bahwa kritik terhadap AIPAC dan Israel merupakan hal yang tabu dilakukan di AS dan Omar telah memecahkan ketabuan tersebut. Sementara sebuah artikel dari The Nation, Selasa (12/2), menyatakan bahwa apa yang Omar katakan tentang pengaruh AIPAC bagi politik AS adalah nyata.

Menariknya, organisasi pemuda Yahudi progresif seperti Jew Voice for Peace dan If Not Now juga menyatakan akan terus mendukung Omar atas keberaniannya menyuarakan kritik terhadap Israel dan AIPAC.

AIPAC didirikan di Amerika pada1951, sebelumnya bernama American Zionist Committee for Public Affair. AIPAC dalam dinamikanya memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi pengambilan kebijakan pemerintah AS untuk menjadi sangat pro-Israel, terutama dalam masalah kebijakan luar negerinya. Seperti kelompok lobi pemerintahan pada umumnya, AIPAC mempengaruhi arah politik AS melalui pendanaan kampanye, pemberitaan melalui media, dan pendekatan kepada politisi AS. AIPAC merupakan salah satu kelompok yang kuat seperti halnya kelompok lobi senjata api dan perusahaan minyak.

Kelompok yang menuduh Ilhan Omar bisa saja adalah mereka yang gagal memisahkan antara apa yang disebut kelompok lobi politik dan mana yang termasuk kelompok etnis (semitik). Dapat dipastikan mereka tidak mampu melihat poin pernyataan Omar tentang kuatnya pengaruh AIPAC bagi AS. Kecaman yang kuat dari petinggi pejabat AS menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Israel dalam politik Internal AS, kritik terhadap organisasi AIPAC ataupun Israel akan sangat sulit dilakukan.

Tuduhan anti-semit ini juga sangat mudah dilontarkan kepada Omar karena sikap kritisnya terhadap pemerintah Israel dalam pernyataan-pernyataan sebelumnya dalam kongres dan melalui akun sosial media-nya. Sikap kritis Omar itu tentu dianggap sangat berpotensi mengancam kepentingan Israel di AS.

Atas berbagai kritik terhadap pernyataan Omar, terlebih adanya tekanan dari partai Demokrat -partai dimana Omar bernaung-dan pemimpin House of Representative, secara cepat tanggap Omar langsung menyampaikan pernyataan maafnya:

"Anti-Semitisme adalah hal yang nyata, dan saya berterima kasih pada sahabat Yahudi yang mengajari saya tentang sejarah kelam dan tindakan anti semitisme. Tujuan saya bukan untuk menentang Yahudi Amerika secara keseluruhan. Kita harus siap menerima kritik. Oleh karena itu saya menyatakan permintaan maaf," kata Omar.

"Dalam kesempatan yang sama, saya menegaskan kembali adanya masalah dari kelompok lobi dalam politik di Amerika, entah itu dari AIPAC, NRA, ataupun industri minyak. Hal ini sudah terjadi sejak lama dan perlu dilakukan pembenahan.”

Adanya permintaan maaf tersebut tidak menggoyahkan sikap kritis Omar atas sikap kritisnya. Dia sangat yakin bahwa dirinya tidak menyinggung tuduhan terhadap ras tertentu. Dia menegaskan bahwa mengkritik AIPAC bukanlah tindakan yang anti-semitisme, sama halnya seperti melakukan kritik terhadap asosiasi senjata api dan industri minyak.

Walaupun ditekan oleh berbagai pihak, tetapi kritik Omar tersebut berhasil menjadi pemicu perdebatan dan gelombang kritik akan kuatnya pengaruh Israel dalam politik AS. Bukan tidak mungkin gelombang kritik tersebut akan membuka banyak mata publik AS terhadap arah politik negara Israel yang sesungguhnya.

Penulis adalah alumni Universitas Pertahanan