::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

TWEET TASAWUF

Masih Senang Mengingat Kebaikan dan Prestasi Ibadah?

Kamis, 14 Maret 2019 15:00 Nasional

Bagikan

Masih Senang Mengingat Kebaikan dan Prestasi Ibadah?
Ilustrasi (via Patheos)
Jakarta, NU Online
Kebaikan dan istiqomah dalam beribdah kepada Allah SWT merupakan tuntunan agama bagi setiap orang Islam. Namun, harapan memperoleh balasan dan limpahan pahala justru akan merusak keikhlasan jika manusia terus mengingat dan mengenang kebaikan dan prestasi ibadahnya.

Hal itu ditegaskan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH M. Luqman Hakim. Ia mendorong siapa pun yang mulai bersikap demikian untuk segera menghilangkannya.

“Masih senang mengingat dan mengenang kebaikan bahkan prestasi ibadah di masa lalu? Mulai saat ini lupakan semua itu,” ujar Kiai Luqman dikutip NU Onlline, Kamis (14/3) lewat twitternya.

Direktur Sufi Center itu menegaskan, semakin mengingat-ingat, semakin hilang keikhlasan amal ibadah. “Berganti dengan takjub diri, rumongso paling (merasa paling), dan berujung takabur,” jelasnya.

Dalam kesempatan lain ia menerangkan, bagaimana seorang hamba agar berdisiplin dalam beribadah. “Jika ingin disiplin dalam ibadah harus didukung taubat, takwa, dan istiqomah,” ungkap Kiai Luqman.

Muara dari setiap ibadah ialah menuju Allah SWT. Dalam hal ini, menurut penulis buku Filosofi Dzikir tersebut, manusia memerlukan disiplin ubudiyah.

“Jika ingin disiplin ubudiyah (menuju Allah) harus didukung tulus, ikhlas, dan ketenangan kalbu,” ungkapnya.

Puncak seorang hamba dalam beribdah adalah menyaksikan mata hati agar senantiasa tertambat kepada Allah. Di inilah Kiai Luqman menekankan pentingnya mengasah hati dengan jalan bertasawuf agar memperoleh ma’rifah. (Fathoni)