::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Duduk Melipat Jari Kaki Kanan ke Arah Kiblat dalam Shalat, Wajibkah?

Sabtu, 13 April 2019 19:00 Bahtsul Masail

Bagikan

Duduk Melipat Jari Kaki Kanan ke Arah Kiblat dalam Shalat, Wajibkah?
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Redaksi Bahtsul Masa’il NU yang terhormat. Saya ingin bertanya mengenai tata cara duduk di antara dua sujud dan tahiyyat, apakah melipat jari kaki kanan menghadap ke kiblat adalah suatu keharusan (wajib)? Dan bagaimana hukumnya jika hal tersebut tidak dilakukan, baik tanpa sebab ataupun karena alasan sakit. Mohon jawabannya terima kasih. (Imam Wahyuddin)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
Penanya yang budiman, semoga Anda senantiasa mendapat rahmat dan hidayah Allah. Dalam fiqih shalat dikenal dua cara duduk: iftirasy dan tawaruk. Duduk iftirasy dilakukan dengan menegakkan kaki kanan dan meletakkan kaki kiri menempel lantai kemudian menduduki kaki kiri tersebut. Sedangkan duduk tawarruk mirip dengan duduk iftirasy hanya saja kaki kiri tak diduduki melainkan dijulurkan ke bawah kaki kanan, sementara pantat menempel lantai.  

Bila duduk tawaruk sunnah dilakukan saat tasyahud/tahiyyat akhir, maka duduk dengan posisi iftirasy sunnah dilaksanakan antara lain saat duduk di antara dua sujud, tasyahud awal, duduk istirahat, dan tasyahud akhir jika setelahnya masih melakukan sujud sahwi

Penjelasan tentang duduk iftirasy ini dapat dijumpai dalam Fath al-Mu’in:

ـ (وسن فيه) الجلوس بين السجدتين، (و) في (تشهد أول) وجلسة استراحة، وكذا في تشهد أخير إن تعقبه سجود سهو. (افتراش) بأن يجلس على كعب يسراه بحيث يلي ظهرها الارض

“Disunnahkan duduk iftirasy saat duduk di antara dua sujud, tasyahud awal, duduk istirahat, dan tasyahud akhir jika setelahnya masih melakukan sujud sahwi. Gambaran duduk Iftirasy adalah dengan cara duduk di atas mata kaki kiri sekiranya bagian kaki kiri yang atas menempel pada lantai” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 195)

Dalam melaksanakan duduk iftirasy, di antara ketentuannya adalah melipat jari-jari kaki kanan menghadap arah kiblat. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam Hasyiyah I’anah at-Thalibin:

ويسن الافتراش فيجلس على كعب يسراه بعد أن يضجعها بحيث يلي ظهرها الارض، وينصب يمناه – أي قدمه اليمنى – ويضع أطراف بطون أصابعها منها على الارض متوجها للقبلة.

“Disunnahkan duduk Iftirasy yakni duduk di atas mata kaki yang kiri setelah menyandarkan kaki kiri tersebut sekiranya bagian kaki kiri yang atas menempel pada lantai dan menegakkan kaki kanan dan meletakkan ujung jari-jari kaki kanan di lantai dengan menghadapkannya pada arah kiblat.” (Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 1, hal. 195)

Namun demikian, ketentuan melipatkan jari kaki kanan menuju arah kiblat hukumnya mengikut pada duduk iftirasy itu sendiri, yakni sunnah. Sehingga ketika seseorang sengaja tidak melipat jari kaki kanannya menuju arah kiblat, maka tidak berpengaruh pada keabsahan shalatnya, hanya saja ia dianggap tidak melaksanakan salah satu kesunnahan dalam shalat. 

Hikmah dianjurkannya duduk iftirasy pada berbagai rukun-rukun dan kesunnahan dalam shalat adalah dikarenakan duduk dengan cara tersebut merupakan cara yang paling sopan sebab melambangkan kerendahan diri dari orang yang shalat. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam Hasyiyah I’anah at-Thalibin:

والحكمة في ذلك منع يديه من العبث، وأن هذه الهيئة أقرب إلى التواضع

“Hikmah dari pelaksanaan duduk Iftirasy adalah mencegah kedua tangan dari bermain-main dan duduk dengan keadaan demikian lebih dekat untuk merendahkan diri” (Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 1, hal. 196)

Sedangkan duduk yang dianjurkan pada tahiyyat akhir yang diiringi oleh salam adalah dengan cara tawarruk. Dalam duduk tawarruk seseorang juga dianjurkan untuk melipat jari kaki kanan menuju arah kiblat. Namun, seperti halnya pada duduk iftirasy, melipat jari kaki kanan ini bukanlah suatu kewajiban. Hukumnya mengikut pada duduk tawarruk itu sendiri, yakni sunnah. Sehingga ketika pada saat tahiyyat akhir seseorang tidak melipat jari kaki kanannya menuju kiblat maka shalatnya tetap dihukumi sah, hanya saja dia dianggap tidak melakukan salah satu kesunnahan itu.

Bagi seseorang punya uzur (misalnya, sakit) melipat jari kaki kanan menuju arah kiblat, baik dalam duduk iftirasy ataupun tawarruk, sebaiknya duduk dengan cara yang paling memungkinkan. Shalatnya tetap dihukumi sah, sebab melipat jari kaki kanan menuju kiblat bukanlah termasuk syarat sahnya shalat.

Cara duduk dalam shalat sebenarnya tidak ditentukan secara pasti, sehingga duduk dengan cara bagaimanapun dianggap cukup. Hanya saja orang yang shalat dianjurkan untuk duduk tawarruk pada tahiyyat akhir yang dilanjutkan salam dan duduk iftirasy pada selainnya. Penjelasan demikian seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab:

ـ (فرع) قال أصحابنا لا يتعين للجلوس في هذه المواضع هيئة للإجزاء بل كيف وجد أجزأه سواء تورك أو افترش أو مد رجليه أو نصب ركبتيه أو احداهما أو غير ذلك لكن السنة التورك في آخر الصلاة والافتراش فيما سواه

“Cabang permasalahan. Para ashab (ulama Syafi’iyah) berkata ‘duduk pada keadaan-keadaan ini tidak ditentukan cara yang dapat mencukupi. Bahkan, bagaimanapun dia duduk maka dianggap cukup, baik dengan duduk tawarruk, iftirasy, menyelonjorkan kakinya, mengangkat kedua lutut atau salah satunya, ataupun dengan cara duduk yang lain. Tetapi cara yang disunnahkan adalah duduk tawarruk di akhir shalat (tahiyyat akhir) dan duduk iftirasy pada duduk selain tahiyyat akhir’.” (Syekh Yahya bin syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 3, hal. 450)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melipatkan jari-jari kaki kanan menuju arah kiblat pada saat duduk di antara dua sujud dan tahiyyat akhir termasuk bagian dari ketentuan duduk Iftirasy dan tawarruk yang hukumnya adalah sunnah, sehingga ketika hal tersebut tidak dilakukan maka tidak berpengaruh terhadap keabsahan shalat, bahkan tidak perlu untuk sujud sahwi untuk menggantinya, karena melipat jari kaki kanan bukanlah tergolong sunnah ab’ad  yang disunnahkan untuk sujud sahwi ketika ditinggalkan. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember