::: ::: 

::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Fikih Aborsi Antarkan Maria Ulfa Peroleh Saparinah Sadli Award

Senin, 06 September 2004 10:50 Warta

Bagikan

Jakarta, NU Online
Pucuk Pimpinan Fatayat NU Maria Ulfa Anshori beberapa waktu lalu menerima penghargaan Saparinah Sadli Award atas komitmennya dalam memperjuangkan nasib perempuan sekaligus penghargaan atas karyanya “Fikih Aborsi Alternatif bagi Penguatan Hak Reproduksi Perempuan.”

Saat ini perempuan yang mengalami kehamilan tidak dikehendaki (KDT) yang berakhir dengan penghentian kehamilan selalu dalam posisi yang selalu dipersalahkan, baik secara hukum agama maupun norma masyarakat “Kondisi ini mencerminkan adanya diskriminasi terhadap perempuan, bahkan mengisolir persoalan aborsi hanya dibebankan kepada perempuan,” ungkapnya kepada NU Online kemarin.

<>

Faktor kehamilan tidak dapat dilepaskan adanya partisipasi laki-laki yang seharusnya ketika terjadi KDT menjadi tanggung jawab bersama antara perempuan dan pasangannya. “Kondisi inilah yang menyebabkan saya melakukan penelitian mengenai hal ini,” tambahnya.

Sekretaris Eksekutif Puan Amal Hayati tersebut menceritakan bahwa penelitian diawali dengan studi kepusatakaan ulama fikih dari empat mazhab yaitu Hanafiyah, Syafi’iyah, Malikiyah, dan Hambaliyah “Kemudian data-data tersebut dianalisis dengan menggunakan metode hermeneutik dengan membandingkan konteks sosio-historis ketika fikih tersebut ditulis dengan konteks sosial masa kini yang telah mengalami banyak perubahan. Faktor penentu aborsi di Indonesia dianalisis dengan menggunakan teori feminis liberal, radikal, dan beberapa teori feminis lainnya,” tambahnya.

Temuan yang ada mendukung kritik terhadap teks fikih secara kontekstual dalam upaya penguatan hak reproduksi perempuan di Indonesia. Karena itulah, berdasarkan kaidah fikih jika berhadapan dengan dua keburukan yang sama-sama membahayakan, maka ambillah resiko yang paling kecil dengan menghindari resiko yang lebih membahayakan.

“Abordi aman dapat dilakukan hingga usia 8 minggu atau janin 6 minggu (42 hari) dengan syarat dilakukan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP),” tambah dosen tafsir di Institut Ilmu al Qur’an tersebut.

Berdasarkan proses pertumbuhan embrio, kehamilan pada usia 0-8 minggu, embrio dalam proses pertumbuhan sel yang belum sempurna dan diduga kuat belum terjadi peniupan roh ke dalam janin. Dengan demikian, fikih aborsi alternatif dapat mendukung upaya penguatan hek reproduksi perempuan dalam menghindari KTD maupun mencegah terjadinya kematian itu.(mkf)