::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Warisan Ulama Nusantara, Santri Didorong Lestarikan Ngalogat

Sabtu, 04 Juli 2015 14:01 Daerah

Bagikan

Warisan Ulama Nusantara, Santri Didorong Lestarikan Ngalogat

Tasikmalaya, NU Online
Pengajar di Pondok Pesantren Sukahideng Ali Abdul Kholiq yang juga senior IPNU Tasikmalaya mengatakan, bahwa ngalogat atau ngabsahi adalah karya hebat yang sangat luar biasa, karya ulama nusantara yang harus dilestarikan para santri.<>

Hal itu ditegaskannya dalam Acara memperingati malam Nuzulul Qur’an di Pondok Pesantren Sukahideng, Sukarame, Tasikmalaya, Jum’at (3/7) atau 17 Ramadlan 1436 H.

Ali menerangkan, Ngalogat adalah karya Sunan Ampel yang diteruskan oleh sunan giri, dengan memakai kitab kuning. Kitab berwarna kuning itu dipilih karena dahulu alat penerangnya adalah obor atau cempor.

“Jadi kalau putih kurang begitu terlihat, jadi diambilah kitab yang berwarna kuning itu yang sampai sekarang populer dengan istilah kitab kuning,” jelasnya.

Kemudian ke generasi berikutnya, lanjutnya, ada seorang Ulama hebat dari Bangkalan Kiai Kholil yang meneruskan tradisi itu. Ngalogat adalah suatu metode yang menggabungkan atau memadukan makna mufrodati dan makna qowaidi. 

“Dengan tulisan arab pegon dan beliau merumuskan rumus rumus ngalogat seperti utawi, iki, iku, eta, tetep kana, anu, tegesna, barina dan sebagainya,” kata Ali.

Kemudian, imbuh Dosen asal Cipasung ini, KH Kholil punya Santri yaitu KH Hasyim Asy’ari Pendiri Nahdlatul Ulama. Di tangan Mbah Hasyim akhirnya menyebar tradisi ini ke pesantren-pesantren yang ada di Nusantara ini. (Husni Mubarok/Fathoni)