::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

LKKNU Ngaji Perencanaan Keuangan Keluarga

Ahad, 20 September 2015 10:06 Nasional

Bagikan

LKKNU Ngaji Perencanaan Keuangan Keluarga

Yogyakarta, NU Online
Lembaga Kesejahteraan Keluarga Nahldatul Ulama bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengelar diskusi publik terkait perencanaan keuangan dan tradisi investasi di Hotel Tjokro Style, Yogyakarta, Jumat (18/9). Forum yang dihadiri sebanyak 300 orang ini, mencoba mengangkat tema perencanaan keuangan sebagai pintu masuk kesejahteraan dan kemaslahatan keluarga.
<>
Rais Syuriyah PWNU DIY KH Asyhari Abta mengapresiasi terselenggaranya acara ini. Hal ini dinilainya sebagai salah satu langkah maju yang dilakukan oleh warga NU dalam dunia ekonomi. “Jika dulu warga NU dikenal dengan orang yang hanya memikir akhirat, sekarang sudah berbeda,” ujarnya.

Hal senada diutarakan Ketua PBNU H Marsudi Syuhud. Ia menerangkan mengapa menjadi kaya itu perlu. “Sebab di teks-teks agama setelah kata ‘mendirikan shalat’ selalu diikuti oleh kata ‘memberikan zakat’. Dan zakat wajib dibayarkan jika sudah mencapai nisab. Artinya Islam memberi ajaran kepada pemeluknya untuk menjadi kaya.”

Hadir sebagai pembicara dalam diskusi ini Sekretaris PP LKKNU Alissa Wahid, Direktur Pasar Modal Syariah OJK Fadilah Kartikasasi, dan Direktur PT Trimegah Asset Management Hendra Wijaya Harahap. Tiga narasumber ini memaparkan bagaimana pentingnya berinvestasi untuk kehidupan masa depan yang lebih baik.

Menurut Hendra Wijaya, investasi sangat bermanfaat untuk jangka panjang. Terlebih jika memerhatikan inflasi yang terus terjadi setiap tahunnya. “Berinvestasi bisa mengamankan atau menambah nilai aset yang dimiliki.”

Namun Alissa Wahid mengingatkan agar berinvestasi bukan bertujuan untuk meningkatkan keuangan, akan tetapi didasari niatan untuk kemaslahatan keluarga. “Dari keluarga yang maslahah ini bisa mendorong kemaslahatan-kemaslahatan yang lebih besar.” (Sarjoko/Alhafiz K)