::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ini Nasihat Gus Dur kepada Inayah tentang Kebudayaan

Rabu, 03 Februari 2016 05:00 Nasional

Bagikan

Ini Nasihat Gus Dur kepada Inayah tentang Kebudayaan
Kudus, NU Online
Satu dari banyak yang diingat oleh Inayah Wulandari mengenai KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah soal musik. Putri bungsu Gus Dur itu ingat betul ketika ayahnya yang seorang kiai tiba-tiba menasihatinya dengan kalimat mengejutkan. Kala itu anak dan bapak tersebut tengah membahas ihwal kebudayaan.

"Kamu harus mendengarkan lagu-lagu dangdut! Begitu kata Gus Dur," katanya menirukan nasihat bapaknya, usai acara Haul Gus Dur sekaligus pengukuhan Lesbumi NU di rumah makan Bambu Wulung, Kudus, Jawa Tengah, Ahad (31/1) malam .

Musik sebagai salah satu produk dari kebudayaan, menjadi satu kunci meraih pemahaman akan identitas sebuah bangsa. "Karena sungguh lagu-lagu itulah yang menjelaskan mengenai apa terjadi di tengah masyarakat kita," lanjutnya.

Pegiat teater yang belakangan mengambil peran di sebuah film pendek ini mengatakan bahwa nyanyian dangdut telah sedemikian menjelaskan identitas bangsa Indonesia. "Kalau ingin mengenal identitas bangsa kita, ya, lewat lagu-lagu dangdut itu," terangnya.

Mengenali bangsa sendiri adalah keniscayaan bagi generasi muda. Dengan mengenal identitas bangsa, orang akan mengenal budayanya. Sayangnya, menurut Inayah, generasi muda kita masih menganggap perbedaan kebudayaan antar satu bangsa dan yang lain dengan paradigma vertikal.

"Tidak usah melihat budaya kita ini lebih baik atau lebih buruk dari budaya bangsa lain. Itu adalah mental orang yang tidak pede. Itu mental minder. Kita semua setara," kata Inayah meyakinkan.

Bagi pemeran buruh cuci asal Tegal bernama Wagiyem dalam pementasan teater monolog #3Perempuanku ini, tidak perlu menganggap budaya bangsa lain lebih tinggi atau lebih rendah. Sebab jika menganggap bangsa lain lebih rendah, artinya kita bisa bangga kalau bisa meremehkan orang lain. Sebaliknya, kalau menganggap budaya bangsa lain lebih tinggi, berarti minder.

"Kita sering mempersempit pengertian budaya terbatas hanya pada kesenian semata. Padahal tidak, sebenarnya kebudayaan ada dua, yakni proses dan produk. Nah, kesenian itu merupakan salah satu dari produk kebudayaan. Sedangkan kebudayaan yang berupa proses, ya, meliputi keseharian kita ini," paparnya menjelaskan.

Meski lahir dari keluarga pesantren, ia positif memutuskan berteater sebab memahami bahwa pribadi Gus Dur yang ia banggakan, diyakini terbangun dari kesenian. Menurutnya, jalan kesenian yang ia ambil adalah jalan efektif membangun generasi berbudaya. "Pribadi Gus Dur itu justru terbangun dari pelbagai kumpulan film yang ditontonnya dan buku-buku sastra yang dibacanya. Coba, kalau begitu jalan kesenian itu efektif, tidak?" tuturnya. (Istahiyyah/Mahbib)