::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ini Kitab Warisan Syekh Mahfudz Attarmasi kepada KH Hasyim Asy’ari

Selasa, 16 Februari 2016 14:01 Fragmen

Bagikan

Ini Kitab Warisan Syekh Mahfudz Attarmasi kepada KH Hasyim Asy’ari
Dokumentasi Pondok Tremas, Pacitan.
Syekh Mahfudz bin Abdullah Attarmasi siapa yang tidak mengenal beliau? Selain dikenal sebagai ahli hadits dan pengarang kitab yang produktif, Syekh Mahfudz diakui sebagai gurunya para ulama nusantara saat mereka belajar di tanah suci. 

Diantara muridnya, sebut saja KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama yang lama belajar dibawah bimbingan Syekh Mahfudz, hingga KH Hasyim Asy’ari mendapatkan ijazah langsung dari Syaikh Mafudz untuk mengajar Sahih Bukhari. 

Dalam sanad kelimuan kitab hadits ini, Syekh Mahfudz merupakan pewaris terakhir dari pertalian penerima (isnad) hadits dari 23 generasi penerima Sahih Bukhari.

Kedekatan Syekh Mahfudz sebagai guru dengan KH Hasyim Asy’ari sebagai seorang murid ternyata sangat unik. Sebagai ungkapan rasa sayang pada muridnya, Syekh Mahfudz lantas mewariskan kitab pribadinya sebagai kenang-kengan kepada KH Hasyim Asy’ari. 

Di antara pemberian Syekh Mahfudz kepada KH Hasyim Asy’ari yaitu berupa kitab berjudul Hasyiyah al-Futuhat al-Ilahiyah 'ala al-Jalalayn

Pada halaman akhir kitab itu terdapat goresan tangan indah dan ungkapan doa Syekh Mahfudz saat menghatamkan kitab tafsir tersebut dibawah bimbingan gurunya, Sayyid Abi Bakar Syatha Makkah, Pengarang Kitab I'anah Tholibin pada tahun 1306 H atau 1889 M.

Kitab tersebut ditemukan di antara koleksi kitab milik KH Hasyim Asy’ari  di Pesantren Tebuireng Jombang. Betapa memberi hadiah atau warisan berupa kitab atau buku (keilmuan), begitu bermanfaat. Bahkan masih awet meskipun beliau-beliau sudah wafat. (Zaenal Faizin)