::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Terpuji dalam Laku, Terdepan dalam Ilmu

Selasa, 03 Januari 2017 15:30 Opini

Bagikan

Terpuji dalam Laku, Terdepan dalam Ilmu
Ilustrasi: Gus Dur cium tangan Abah Anom.
Oleh Alhilyatuz Zakiyah Fillaily

Manusia, lagi-lagi manusia itu membuat kekacauan. Kekacauan yang bagaimana? Kekacauan yang meresahkan esetoris kehidupan mereka, bahkan menjamah kepada ruang-ruang alam hayati yang seharusnya terpelihara. Atas dasar kerapuhan konstruksi dalam diri manusia seakan-akan ialah Tuhan. Lalu berhak berbuat segalanya, yang kadang melupakan bahwa keterbatasan-keterbatasan itu diterpa begitu saja. Karena manusia adalah makhluk sempurna dibanding makhluk hidup lainnya, kesempurnaan itu selalu diusahakan.

Indonesia memiliki keunikan-keunikan yang beragam. Mulai yang berasal dari Yang Maha Pencipta (tanaman, hewan, lautan, hutan, dan sebagainya), sampai yang berasal dari manusia (budaya, kesenian, kesusastraan, teknologi, adat kebiasaan, keberagaman keberagamaan, dan lain sebagainya).

Keunikan tersebut terawat dan tercipta atas dasar kesadaran rohani yang mendorong dan menuntun untuk selalu menenangkan hayati. Di sinilah keaktifan manusia merupakan upaya memelihara Indonesia, bukan sebaliknya menyuguhkan aroma kebisingan yang kacau pada negeri. 

Proses pertaubatan pertama dan utama yang harus dilakukan adalah dari manusia itu sendiri. Sebagai makhluk sempurna, manusia seharusnya memiliki kesempurnaan tarian dalam berkolaborasi dengan siapa saja. Kekacauan terjadi jika manusia tidak lagi sempurna. Ketidaksempurnaan terjadi akibat ketidakseimbangan proses percumbuan dengan Tuhan, dan proses pergandengan tangan dengan manusia lainnya.

Dikenal proses horizontal (hablumminallah), dan secara vertikal (hablumminannas). Jika baik silaturrahim keduanya, baik pula tempat tinggalnya yang terucap sebagai negara. Hingga bersenandunglah laku yang terpuji, ilmu yang terdepan, dan kesyahduan perkencanan dengan Tuhan.

Terpuji dalam laku

Laku adalah perbuatan manusia. Perbuatan manusia adalah ciri yang membedakan dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Laku terpuji tak akan luruh jika disenandungkan selalu. Adakalanya kondisi kekosongan itu menyelubungi manusia ditengah-tengah profannya dunia. Salah seorang manusia yang mampu mengolah keadaan dengan baik pernah bernada; 

Anglaras ilining banyu angeli, ananging ora keli
Uninga sucining gandaning nabi

Sabda Sunan Kalijaga tersebut kurang lebih bermakna bahwa manusia harus memiliki kemampuan menyesuaian diri dengan berkembangnya zaman seperti air yang senantiasa mengalir. Tetapi jangan sampai terhanyut dalam arus. Manusia harus berpegang pada tongkat yang dimiliki. Sebagai makhluk yang beragama, kedua tongkat harus dimanfaatkan sebagai pegangan dalam hidup. Tongkat yang bersenandung hukum alam dan hukum Tuhan. 

Dalam mengikuti arus kehidupan dengan perkembangan zaman yang modern, manusia harus selalu mengingat uninga sucining gandaning nabi, ingat akan aroma keharuman Baginda Nabi Muhammad SAW. Aroma itu berupa keluhuran budi Kanjeng Nabi yang menghargai udara-udara kenikmatan Allah SWT. Memiliki pegangan dalam hidup, serta memiliki figur suri tauladan menuntun terciptanya laku yang baik. Hingga manusia dihiasi dengan laku yang terpuji.

Terdepan dalam ilmu

Laku harus diperbaiki terlebih dahulu, sebelum mengisinya dengan ilmu. Ketika laku terpuji menghiasi manusia, manusia akan mudah menerima ilmu yang luhur. Ilmu yang merasuki manusia kemudian masuk dalam diri bersamaan cahaya dari sang Maha Pengasih. Ilmu ini akan menjadi ilmu saja ketika manusia melahap an sich. 

Tanpa adanya laku yang menghiasinya. Keberhasilan keilmuan nampak pada keberlangsungan hidup yang sejahtera, kerukunan yang damai, tanpa kekacauan yang saling menjatuhkan. Jika ini tercapai maka alam pun akan bersorak ria menyaksikan dirinya yang diilmuni. Bukti dari diilmuninya yaitu keselarasan hayati. 

Sebenarnya konsep “Terpuji dalam Laku, Terdepan dalam Ilmu” saya peroleh dari tempat saya mengais ilmu akibat kelaparan yang saya alami di Yayasan Tarbiyatul Banin yang tegak berdiri di atas pertanahan Bumi Mina Tani (Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Pati) yang selalu saya rindukan. Tempa pendidikan tersebut memiliki visi yang indah “Terdepan dalam Ilmu, Terpuji dalam Laku", terbalik dengan apa yang saya pikirkan. Namun itu tak masalah. Saya harus bersyukur dilahirkan dari lingkungan yang baik.

Hubungan vertikal yang baik, menyuguhkan kondisi yang segar di hadapan Tuhan. Manusia dengan rasa kasih sayang mampu merawat keharmonisan alam hayati dengan segala unsur di dalamnya. Laku baik dan ilmu mumpuni akan membuat hubungan horizontal semakin indah pula. Manusia akan semakin mengilmuni apapun yang dihadapannya, segala sesuatu yang diilmuni melahirkan menanamkan rasa cinta. 

Cinta akan memberikan jalan untuk berkencan dengan Tuhan. Kasih sayang melekat dalam diri manusia menjauhi kekacauan. Alangkah indahnya Indonesia jika terdidik oleh manusia-manusia yang mempu mengolah dirinya sehingga berkontribusi bagi kemajuan Indonesia. Berkencan dengan Tuhan melalui jalan cinta segera diwujudkan.

Jalan Cinta

Cinta, aku memanggilmu cinta sebagai yang patut dicinta
Jalan, aku menyebut kau jalan sebagai tujuan
Cinta, aku mencintai engkau sebagai ungkapan kasih sayang
Jalan, aku membutuhkan jalan sebagai penenang
Cinta, aku memuji engkau sebagai sang Maha Segala
Jalan, aku membuka tabir sebagai pertaubatan
Cinta, aku merindukanmu sebagai keabadian kita
Jalan, aku mencarimu selalu sebagai kenikmatan 

Semarang, Januari 2017

Penulis adalah mahasiswi Jurusan Hukum Pidana dan Politik Islam, UIN Walisongo Semarang. Pegiat Sastra LIKSA (Lingkar Kajian Sastra) LPM Justisia.