::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Jangan Kafirkan Orang yang Tidak Berpakaian ala Arab

Kamis, 12 Oktober 2017 05:30 Daerah

Bagikan

Jangan Kafirkan Orang yang Tidak Berpakaian ala Arab
Dialog Pelibatan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Birokrasi Kampus dalam Pencegahan Terorisme di UIN Kalijaga, Rabu (11/10).
Yogyakarta, NU Online
Wakil Rektor III Universitas Islam Negeri (UIN) Kalijaga, Yogyakarta, Waryono Abdul Ghafur mengatakan pihaknya melarang pengenaan pakaian ala Arab di lingkungan kampus, untuk mereduksi kebiasaan mengkafirkan karena  perbedaan budaya. 

Hal itu disampaikannya saat pembukaan Dialog Pelibatan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Birokrasi Kampus dalam Pencegahan Terorisme di kampus UIN Kalijaga, Rabu (11/10).

"Saya melarang keras mahasiswi memakai cadar. Saya sampaikan, kita ini hidup di Indonesia, pakailah pakaian normal Indonesia," kata Waryono. 

Inti dari berpakaian, lanjut Waryono, adalah menutup aurat. Tidak memakai cadar ditegaskannya tidak melanggar aturan agama Islam. 

"Jangan mengkafirkan orang yang tidak berpakain ala Arab," tegasnya. 

Larangan mengenakan cadar di kampus UIN Kalijaga juga diterapkan karena adanya potensi menimbulkan perselisihan antarmahasiswa dan dengan pihak lain di lingkungan kampus. 

"Memakai cadar itu tidak adil. Dia bisa melihat dan mengenali wajah kita, tapi kita tidak bisa melihatnya. Kalau dibiarkan orang-orang akan saling curiga," tandas Waryono.

Terkait kegiatan tersebut, Waryono menegaskan pihaknya sangat mendukung. Mahasiswa sebagai generasi penerus harus diberi pembekalan tentang bahaya terorisme sejak dini, agar dalam dakwahnya dapat menyampaikan pencegahan terorisme. 

Pada kesempatan yang sama Guru Besar UIN Sumatera Utara, Syahrin Harahap menyampaikan pentingnya anggota LDK untuk lebih dahulu memperbaiki dirin, sebelum terlibat dalam dakwah mengajak masyarakat berubah. 

"Saya menyebutnya inner capacity. Perbaiki, tingkatkan kapasitas kalian terlebih dahulu, baru berdakwah mengajak masyarakat ke kebaikan," ujar Syahrin. 

Syahrin mengingatkan, dalam meningkatkan kapasitas mahasiswa anggota LDK harus belajar kepada guru yang memahami agama dengan baik dan benar, bukan yang setengah-setengah atau melalui buku dan media sosial semata. 

"Guru agama yang baik adalah yang literaturnya merujuk pada kedamaian, karena inti dari agama adalah mengajak menuju perdamaian," ujarnya. 

Kegiatan Dialog Pelibatan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Birokrasi Kampus dalam Pencegahan Terorisme di kampus UIN Kalijaga terlaksana atas kerjasama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Yogyakarta. Kegiatan yang sama telah dan akan dilaksanakan di 32 provinsi se-Indonesia sepanjang tahun 2017. (Samsul Hadi/Kendi Setiawan)