::: ::: 

::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

NU, Palestina dan Yaman

Sabtu, 30 Desember 2017 15:45 Opini

Bagikan

NU, Palestina dan Yaman
Oleh: Mukti Ali Qusyairi

Nahdlatul Ulama (NU) lahir merespons sekurang-kurangnya atas tiga hal, yaitu: kolonialisme, gerakan puritanisme Wahabi yang akan meratakan makam Rasulullah dan situs-situs bersejarah, dan identitas keislaman dan keindonesiaan. 

NU sebagai gerakan antikolonialisme, ditandai dengan sikap patriotisme para kiiai dan santri dalam menghadapi kolonialisme. Dan klimaksnya adalah dikeluarkannya "Resolusi Jihad" oleh Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari. 

Di saat makam Rasulullah dan situs-situs Islam akan diratakan rezim Wahabi Saudi, NU mengutus Romo KH A Wahab Chasbullah ke Saudi menyampaikan protes keras atas rencana tersebut dan menuai hasil: Sampai sekarang makam Rasulullah masih terjaga. 

Dan bagaimana hubungan NU, Palestina, dan Yaman? Perlu dijelaskan satu persatu, hubungan NU dengan Palestina dan NU dengan Yaman.

NU dan Palestina
Sebagaimana umumnya umat Islam dari berbagai mazhab, NU sangat memuliakan Masjidil Aqsha Palestina. Kemuliaan Palestina berdasarkan keyakinan akan Kisah Isra-Mi'raj Rasulullah dari Masjidil Aqsha yang diimani, dan pada masa Islam awal umat Islam menghadap kiblatnya ke Masjidil Aqsha yang kemudian direvisi kiblatnya ke Masjidil Haram. 

Pasca pendudukan Israel atas tanah Palestina, NU adalah ormas yang dengan lantang memprotes tindakan Israel dan menggalang solidritas untuk Palestina. Tepat pada 12-15 Juli 1938 M/13 Rabiuts Tsani 1357 H dalam Muktamar NU ke-13 di Menes, Pandeglang, Banten, Romo KH A. Wahab Chasbullah secara resmi menyampaikan sikap NU atas penderitaan Palestina dengan mengatakan, "Pertolongan-pertolongan yang telah diberikan oleh beberapa komite di tanah Indonesia ini berhubung dengan masalah Palestina, tidaklah begitu memuaskan adanya. Kemudian guna dapat mencukupi akan adanya beberapa keperluan yang tak mungkin tentu menjadi syarat yang akan dipakai untuk turut menyatakan merasakan duka cita, sebagi perhatian dari pihak umat Islam di tanah ini. Atas nasib orang malang yang diderita oleh umat Islam di Palestina itu, maka sebaiknyalah NU dijadikan Badan Perantara dan Penolong Kesengsaraan umat Islam di Palestina. Maka pengurus atau anggota NU seharusnyalah atas namanya sendiri-sendiri mengikhtiarkan pengumpulan uang yang pendapatannya itu terus diserahkan kepada NU untuk diurus dan dibereskan sebagaimana mestinya."

Pada tahun 80-an, Gus Dur bersama Gus Mus dan para seniman/budayawan mengadakn pembacaan puisi Doa untuk Palestina, sebagai penggalangan solidaritas untuk Palestina melalui strategi kebudayaan dan kultural. Dan pada tahu ini, 2017, Gus Mus mengadakan acara yang sama bersama budayawan Taufik Ismail, Sutarji, Habib Quraisy Shiab, Adul Abdul Hadi, KH Ulil Abshar Abdalla, Fatin Hamama, dll., pada saat Palestina memanas. 

Pada tahun 90-an, Gus Dur yang dipercaya sebagai presiden agama-agama dunia melakukan komunikasi dan pergaulan di tingkat internasional untuk perdamaian Palestina.

Pada tahun 2017, KH. Makruf Amin selaku Rais Aam PBNU, mengajak umat Islam untuk bersama-sama menggalang solidaritas untuk Palestina.

Jadi, NU dalam sejarah sangat peduli dgn nasib Palestina. Karena Palestina adalah saudara. Palestina terluka, kita pun merasakan sakit.
 
NU dan Yaman
Hubungan NU dan Yaman sudah berlangsung lama. Secara tradisi keberagamaan NU dan Yaman memiliki banyak kesamaan: sama-sama pecinta bid'ah hasanah. Belakangan, banyak kader pesantren NU yang dikirim belajar di pesantren yang ada di  Hadramaut-Yaman.

NU juga menjadikan kitab Bughyatul Mustaryidin, anggitan Syekh Abdurrahman Ba'alwi, Mufti Yaman Pada abad 19, sebagai kitab yang absah dirujuk/mu'tabarah. Dalam kitab itu ada fatwa bahwa ardhun Jawa (baca; Indonesia) adalah dar al-Islam. Dan di kitab itu juga terdapat konsep waliyul amri dharuri bisy syaukah--jug di kitab-kitab yang lain--dan konsep ini dijadikan argumentasi keagamaan NU untuk Presiden Soekarno pada Muktamar NU di Purwokerto 26-29 Maret 1946. 


Saat ini Yaman sedang diserang Arab Saudi (AS) dan sekutunya. AS lahir karena mendapatan dukungan kolonial Inggris. Sudah besar menjadi negara kolonial dengan memberikan pangkalan militer USA, mendukung invansi USA pada Irak dengn dalih adanya Senjata Pemusnah Massal (yang ternyata adalah pembohong massal), dan belakangan menyerang Yaman. Krisis Timur Tengah pun tak lepas dari peran AS.  

NU lahir dan besar sebagai kekuatan antikolonialisme. Tentu saja tidak setuju dan bahkan mengutuk upaya penjajahan melalui kekerasan dan peperangan yang sedang dipertontonkan AS.

Penderitaan Yaman adalah derita kita.