NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ribath An-Najiyah 2 Pesantren Tambakberas Kaji Kitab al-Ushfuriyyah Tiap Hari

Selasa, 27 Februari 2018 18:30 Pesantren

Bagikan

Ribath An-Najiyah 2 Pesantren Tambakberas Kaji Kitab al-Ushfuriyyah Tiap Hari
KH Salman Al-Farisi, Pengasuh Ribath An-Najiyah 2
Jombang, NU Online
Di antara kitab yang jarang diajarkan di sejumlah pesantren adalah al-Mawaidh al-‘Ushfuriyyah karangan Syekh Muhammad bin Abu Bakr al-Ushfury. Namun di ribath atau asrama ini, para santri dapat menyimak kajian kitab tersebut setiap hari, selain Senin dan Kamis malam.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan Muhammad Bahrul Ilmi, Ali Murtadlo, serta Muhammad Faisal Hamzah. Ketiganya adalah santri di ribath An-Najiyah 2 Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, asuhan KH Salman Al-Farisi. 

Ditemui di Madrasah Aliyah Unggulan KH Abdul Wahab Hasbulloh (MAUWH) Tambakberas tempatnya sekolah, ketiganya bersyukur lantaran mendapatkan kesempatan ngaji kitab tersebut. “Karena tidak diajarkan di ribath lain,” kata Muhammad Bahrul Ilmi, Selasa (27/2).

Bagi santri yang hampir setahun berada di ribath An-Najiyah 2 ini, kitab yang terkenal dengan sebutan al-‘Ushfuriyyah tersebut mengajarkan banyak hal. “Khususnya kisah para nabi,” katanya yang diamini dua sahabat dekatnya.

Ali Mutadlo mengemukakan merasakan kelebihan dari kitab yang memuat 40 hadits dan sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW tersebut. “Ada kesan mendalam di balik peristiwa yang diceritakan,” tandas santri asli Cirebon ini. 

Dan dari hadits yang dimuat dalam al-‘Ushfuriyyah, banyak di antaranya berupa anjuran atau motivasi. Sebagian anjuran terkait dengan bahasan tasawuf seperti anjuran taubat, menghindari sombong, juga tidak putus asa. Para pembaca juga bisa mendapatkan penjelasan terkait anjuran istikamah membaca ayat kursi, surat al-Ikhlash, juga berangkat shalat Jumat lebih awal.

“Hal tersebut menjadi motivasi bagi kami, serta sebagai bekal kala nanti sudah keluar dari pesantren,” kata M Faisal Hamzah.

Kitab setebal 30 halaman ini diampu langsung oleh KH Salman Al-Farisi yang juga alumni salah satu kampus di Damaskus, Syria setiap usai shalat Magrib hingga masuk waktu Isya. “Bahkan kalau kiai butuh penjelasan lebih panjang, pengajian bisa berlangsung lebih lama dari biasanya,” tandas Bahrul.

Kitab dinamakan dengan al-‘Ushfuriyyah  (burung pipit), nampaknya juga tidak terlepas dari kisah yang tampil melengkapi hadits pertama dengan menerangkan kasih sayang terhadap semua makhluk, termasuk burung pipit. (Ibnu Nawawi)