::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

HARLAH JAKARTA

Mengalir Sampai Pejompongan

Sabtu, 23 Juni 2018 20:30 Esai

Bagikan

Mengalir Sampai Pejompongan
Oleh Ario Helmy

Kantor penyediaan air bersih yang sekarang dikenal sebagai PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Jaya itu berdiri sejak 1922 dan memiliki sejarah panjang. Berdiri berkat usaha Pahlawan Nasional Betawi, Muhammad Husni Thamrin. Pahlawan nasional tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Zainul Arifin juga pernah berkantor di sini saat pertama kali tiba di Batavia pada tahun 1926.

Sebelumnya, Zainul Arifin kelahiran Barus, Tapanuli Tengah (Sumut) melewati 17 tahun pertama hidupnya di Sumatera. Dia menamatkan HIS (Sekolah Dasar Berbahasa Belanda) di Kerinci, Jambi dan Normaal School (Sekolah Menengah Calon Guru) di Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Zainul Arifin kemudian merantau ke Batavia (sekarang Jakarta) dan diterima bekerja di Gementeestaat-waterleidengen van Batavia (Perusahaan Daerah Air Minum/PDAM) yang hingga sekarang masih berkantor di Jalan Penjernihan II Pejompongan, Jakarta Pusat. Perusahaan ini berdiri sekira 4 tahun sebelum itu berkat perjuangan putra daerah Muhammad Husni Thamrin, pahlawan asli Betawi. 

Mengalir dari Ciburial 

Sebelumnya penduduk Batavia mengambil kebutuhan air bersih dari sumur bor/artesis yang mulai disediakan Pemda (Gemeente) pada 1843. Sekitar tahun 1918-1920 sebuah sumber mata air ditemukan di Ciburial daerah Ciomas, Bogor yang mampu menyediakan 484 liter per detiknya. Pada 23 Desember 1922 untuk pertama kalinya air dari Ciburial dialirkan ke Batavia. Tanggal tersebut kini dijadikan hari jadi PDAM Jaya.

Namun, kala itu penduduk masih kurang menyukai rasa air yang dihasilkan. Kemudian Kali Ciliwung yang sebelumnya disebut Canal Swiss mulai dibangun dan dipersiapkan untuk memasok air ke Pejompongan. Semua itu dipenuhi Gemeente, berkat desakan-desakan Muhammad Husni Thamrin yang duduk sebagai anggota Gemeenteraad (DPRD) Batavia. 

Tidak terlalu banyak keterangan yang dapat ditelusuri lagi mengenai hubungan antara Zainul Arifin dan Husni Thamrin yang 15 tahun lebih tua itu, kecuali dari kenangan keluarga yang pernah diceritakan Zainul sendiri di masa hidupnya. 

Namun, satu hal pasti sejarah mencatat Arifin merupakan tokoh pendatang yang disegani di Batavia, terlebih ketika dia menjabat sebagai Ketua Majelis Konsul NU Batavia. Sedangkan Husni Thamrin sendiri dipindah tugas dari DPRD ke DPR Pusat (Volksraad).

Terkena PHK

"Tidak gampang untuk bisa diterima menjadi pegawai Gemeente seperti Zainul Arifin," ungkap Hamid Baidlowi yang pernah menjadi sekertaris KH Wahid Hasyim.

"Dengan pengalaman sebagai pegawai Pemda kolonial, Zainul Arifin banyak membantu kegiatan NU, terutama menyangkut masalah perizinan muktamar di wilayah Batavia dan Banten."

Zainul Arifin bekerja di kantor PDAM ini hanya selama lima tahun, sebelum akhirnya ia diberhentikan karena terjadi krisis ekonomi dunia yang membuat pemerintah kolonial Belanda harus melakukan pengetatan keuangan. Caranya dengan mencabut semua kebijakan yang sebelumnya masih memberi peluang bagi pribumi untuk bekerja di kantor-kantor pemerintah, meskipun sangat terbatas.

Namun, Zainul Arifin tetap tinggal di Batavia dan menghabiskan sisa hidupnya di kota ini. Wajar saja kalau ia merasa dirinya sebagai bagian dari Batavia atau Betawi.