::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Nahdliyin Pakistan Ingat Tanah Air dengan Gelar Istighotsah

Jumat, 12 Oktober 2018 08:00 Internasional

Bagikan

Nahdliyin Pakistan Ingat Tanah Air dengan Gelar Istighotsah
Warga NU di Pakistan berkumul dan mendoakan Indonesia.
Islamabad, NU Online
Ada tradisi yang tetap dipertahankan sejumlah warga NU di Pakistan. Yakni berkumpul sesama nahdliyin dengan menggelar kegiatan. Dari mulai iabadah bersama, hingga membahas program yang telah dan akan dilaksanakan. 

Seperti yang dilakukan Kamis (11/10). Nahdliyin yang terhimpun dalam Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Pakistan ini menyelenggarakan pertemuan di kediaman salah seorang warga, Bapak Heryanto.

“Kegiatan yang kami namakan dengan Indonesia Memanggil ini diisi dengan istighotsah dan shalawat bersama,” kata H Zulkifti kepada media ini. 

Acara dimulai pukul lima sore yang diawali dengan laporan kegiatan PCINU Pakistan. “Alhamdulillah Ketua PCINU Pakistan yakni Tahsya Ainul Haq hadir dan menyampaikan sejumlah capaian yang dilakukan selama ini,” ungkapnya. 

Demikian pula pada saat yang sama dilanjutkan dengan berbagai rencana acara pada waktu mendatang. “Seperti kajian rutin mingguan dan bulanan yang digagas Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia atau Lakpesdam, serta kajian tahunan bahtsul masail,” jelasnya. 

Setelah dilakukan tanya jawab dan pemberian masukan dari sejumlah hadirin, acara dilanjutkan shalat maghrib berjamaah. “Kegiatan berikutnya adalah istighotsah,” katanya.

Menurut H Zulkifti, kegiatan berlasung khidmat serta khusyu dan tentu saja guyub. “Kita berharap ridha dan pertolongan dari Allah dengan perantara Rasul-Nya semoga akan tetap dan tambah cinta kepada ibu pertiwi kita, Indonesia,” pungkasnya. (Ihza/Ibnu Nawawi)