::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

HARI SANTRI 2018

Disebut Santri Jika Siap Pertahankan Agama dan Negara

Selasa, 23 Oktober 2018 20:00 Halaqoh

Bagikan

Disebut Santri Jika Siap Pertahankan Agama dan Negara
Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin
Empat tahun sudah 22 Oktober ditetapkan pemerintah sebagai Hari Santri. Peringatan yang bersandar pada Resolusi Jihad yang dikeluarkan NU tersebut dari tahun ke tahun makin meriah. Hampir setiap pesantren memperingatinya dengan beragam cara. Mulai dengan upacara, kirab, lomba-lomba, dan lainnya. Tiap hari itu, dalam empat tahun terakhir, santri menunjukkan eksistensinya.

Hampir tiap tahun, kegiatan-kegiatan tersebut semarak diberitakan media massa karena menyangkut kegiatan yang melibatkan banyak orang dan dihadiri tokoh publik. Juga meramaikan jagat media sosial dengan kalimat, foto hingga video. 

Tak hanya itu, hampir tiap tahun pula pada peringatannya kerap mendapatkan rekor-rekor yang tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI). Tahun lalu, misalnya ada rekor MURI dengan jumlah makanan tradisonal terbanyak yang disantap ribuan santri Probolinggo. Tahun ini, di Situbondo dengan karya kaligrafinya. Sementara di Tasikmalaya rekor nasi liwet terbanyak. 

Namun, cukupkah Hari Santri diperingati dengan cara-cara seperti itu? Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin di Gedung PBNU, Jakarta, Ahad (21/10). Berikut petikannya: 

Apa refleksi Pak Kiai terkait Hari Santri 2018?

Hari santri Bukan hanya sekedar diperingati dengan upacara, tapi bagaimana sebanyak mungkin Indonesia menjadi santri. Pengertian santri bukan makna sempit, tapi bisa diartikan secara luas, yaitu semua orang yang memiliki akhlak para santri, yang meniru ulama, para kiai di pesantren. 

Akhlak para santri para kiai itu bagaimana? 

Ya, akhlak yang mulia karena diutusnya Nabi Muhammad itu kan innama bu'itstu liutammima makarimal akhlaq, sesungguhnya aku diutus ke dunia ini untuk untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Bukan sekadar menyempurnakan akhlak, tetapi menyempurnakan akhlak yang mulia. Itu kan dicontohkan para ulama, para kiai di pesantren kepada para santri. Tetapi maknanya bisa diperluas, orang yang berakhlak mulia seperti para santri di pesantren adalah santri. Oleh karena itu, momentum Hari Santri harus diiringi dengan gerakan memesantrenkan anak di pondok-pondok pesantren. Karena di pesantren, tempat anak-anak itu mengaji akan melahirkan alumn, pertama adalah paham dengan baik agama, sehingga dia juga menjadi orang baik. Kedua mencetak manusia-manusia yang cinta kepada agama dan tanah air. 

Hari santri adalah hari bagaimana bangsa ini memerhatikan pesantren karena pesantren dengan para kiai dan santrinya memiliki andil yang sangat besar untuk membangun bangsa dan mendirikan NKRI. Bahkan juga mempertahankannya. Saya kira, tanpa peran para kiai dan para santri, mungkin kemerdekaan Indonesia tidak akan bertahan lama. 

Bagaimana bisa begitu? 

Ya, karena mereka terlibat dalam dalam perjuangan fisik di dalam memprjuangkam negara Indonesia. misalnya para kiai pesantren, terutama NU terlibat di dalam menyusun Pancasila dan UUD 1945 dalam sidang BPUPKI. Setelah itu  juga terlibat di dalam melawan Agresi Militer Belanda, melawan NICA. Pada tanggal 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar PBNU  mengeluarkan Resolusi Jihad yang berujung pada peristiwa pertempuran 10 November itu juga sebagai salah satu peran santri. Itu peran santri. 

Selanjutnya Hari Santri harus menjadi momentum kesadaran untuk merawat apa yang yang sudah dirintis NKRI, mengisi kemerdekaan, mencerdaskan kebangsaan, mewujudkan keadilan dan perdamaian di Indonesia ini. Bukan sekadar sebagai sesuatu yang digembar-gemborkan di dalam ucapan, akan tetapi berwujud di dalam tindakan. 

Kita juga berterima kasih kepada pemerintahan yang dipimpin oleh Pak Presiden Joko Widodo yang telah memulai dan menerima gagasan Hari Santri yang diajukan dari tokoh-tokoh dari PBNU. 

Santri dan kalangan pesantren masih dicitrakan sebagaia kalangan yang melulu terkait agama, sementara skill yang dibutuhkan saat ini tidak hanya bidang itu. Bagaimana supaya pesantren menjadi tertarik bagi kalangan yang berpikir seperti itu?

Yang jelas, tidak semua orang Indonesia wajib di pesantren karena semua itu wajib dipelajari. Harus ada sebagian orang Indonesia yang belajar di pesantren liyatafaqahu fid din, untuk memahami agama, dan mereka nanti dari pesantren memberikan peringatan, mengajar kepada kaumnya ketika kembali ke masyarakat. Jadi, sebetulnya hanya fardu kifayah. Ya, secukupnya saja. Tidak semua orang harus di pesantren. Karena pesantren itu pada umumnya adalah untuk mendidik orang di bidang agama secara mendalam. Meskipun demikian, pesantren tidak boleh menutup mata dengan adanya perkembangan pesat di bidang sains dan teknologi. Alumni-alumninya misalnya, saya kira memiliki peluang untuk belajar di perguruan-perguruan tinggi umum untuk mempelajari sains dan teknologi, pertanian dan sebagainya, perdagangan, perbankan, asuransi dan sebagainya. 

Pesantren saat ini harus mempersiapkan diri mengikuti perkembangan sehingga tidak ada keengganan bagi orang kota untuk memesantrenkan anaknya. Saya kira itu momentum penting dari diadakannya hari santri. 

Mempersiapkan diri dengan cara bagaimana? 

Mempersiapkan diri selama di pesantren untuk siap terjun di masyarakat yang majemuk. Dan itu dengan mendalami ilmu agama sedalam-dalamnya dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan dakwah agar bisa diterima masyarakat perkotaan misalnya. Itu tidak ada jalan kecuali dengan memiliki ilmu yang spesialis juga memmiliki wawasan yang luas, memperbanyak hubungan dengan berbagai pihak itu juga sebuah persiapan menghadapi kehidupan yang sangat kompleks. 

Ya, intinya bagaimana agar santri menjadi orang-orang yang bermanfaat, bisa memberi solusi, memecahkan masalah atas problem-problem kehidupan di masyarakat yang semakin lama semakin rumit, bukan justru sebaliknya, menjadi sumber masalah kehidupan itu sendiri. maka, santri harus rajin belajar, rajin ibadah, rajin bekerja, harus senantiasa mencerdaskan dirinya dengan sansntiasa tidak berhenti belajar. 

Yang terakhir, santri harus merasa bangga bahwa dirinya menjadi santri. Bahwa Indonesia sebagai sebuah negara yang didirikan atas peran para santri dan kiai, itu member peluang sangat besar kepada santri-santri yang memiliki kecerdasan, keterampilan, untuk menempati pos-pos penting di negara ini. Santri bisa menjadi camat, bisa menjadi bupati, gubernur, bahkan santri di Indonesia pernah menjadi presiden seperti KH Abdurrahman Wahid dan kita saat ini berharap agar KH Ma’ruf Amin sebagai alumnus pesantren, sebagai santri yang telah malang-melingtang di dunia politik juga menempati posisi penting sebagai wakil presiden. Itu sekadar contoh bawah santri tak boleh minder.

Bagaimana supaya Hari Santri ini tidak hanya milik santri di pesantren, tapi untuk semua kalangan? 

Dalam pengertian makna yang diperluas, akhlak mulia, menyayangi yangmuda menghormati yang tua, tidak sembarangan bicara, seikapnya tidak merugikan siapa pun, dia bermanfaat untuk keluarganya, bermanfaat untuk orang banyak, menebarkan kebaikan itu santri, meskipun bukan santri sesungguhnya dalam pengertian kebiasaan adat istiadat di dunia pesantren yang sudah maklum di kalangan Nahdlatul Ulama. Jadi, santri dalam pengertian sempit adalah orang yang belajar di pesantren. Santri dalam pengertian luas adalah mereka yang akhlaknya baik, cinta tanah air. Mendalam ilmu agamanya, dan melaksanakannya, dan dia juga cinta tanah air. Memiliki jiwa nasionalisme. Jadi, tanpa dua itu, bukan santri. Santri harus mendalam dalam agama. Kedua, cinta tanah air.

Kenapa salah satu kriteria mendasarnya cinta tanah air?

Karena santri itu 22 Oktober itu diawali dengan Resolusi Jihad. Inti dari Hari Santri adalah bagaimana semua orang mencintai tanah airnya. 

Lalu, bagaimana kalau ada seorang santri, tapi tidak cinta tanah air?  

Bukan santri yang hakiki. Sekadar tinggal di pesantren, kalau tidak cinta tanah air, tidak mengisi kemerdekaan Indonesia dengan hal-hal yang bermanfaat, itu bukan santri,   

Meskipun santri itu mendalam agamanya? 

Ya, meskipun merasa tafaquh fid din karena Hari Santri itu memperingati Resolusi Jihad. 

Hampir setiap kiai di pesantren menghabiskan usianya untuk mendidik para santri yang rata-rata sangat baik akhlaknya dan rata-rata sangat cinta kepada tanah airnya. Itu di setiap pesantren Nahdlatul Ulama seperti itu. 

Itu berpengaruh tidak kitab kuning kepada cara berpikir dan gerakan santri yang cinta tanah air? 

Cinta tanah air itu diajarkan di dalam Al-Qur’an, diajarkan di dalam hadits nabi, diuraikan para ahli tafsir, para sufi, ahli fiqih, oleh para penyair. Itu ada dalam kitab klasik. Di dalam Al-Qur’an contohnya, ya nabi-nabi diutus untuk kaumnya, kecuali Nabi Muhammad untuk alam semesta. Jadi, santri itu, siap untuk mengemban amanah agama, dan cinta tanah air. Contoh yang paling bagus ya KH Hasyim Asy’ari. Dipaksa Balanda untuk seikerei, sujud atau menunduk ke arah matahari, tapi menolaknya. Dia berarti mempertahankan agamanya. Dia juga melawan Jepang, mengusir Belanda. Berarti dua hal itu dilakukan. Agama dipertahankan, tanah airnya dipertahankan dalam waktu bersamaan.

Para kiai dan para santri itu terlatih hidup sederhana tidak bermewah-mewah, tidak rakus kepada harta benda. Indonesia ini kalau dipenuhi akhllak santri, tidak rakus, tidak korupsi, Indonesia akan makmur.