Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Belajar Ilmu seperti Memasak Daging Mentah

Belajar Ilmu seperti Memasak Daging Mentah
Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pringsewu KH Mahfudz Ali. (Foto:NU Online/Faizin)
Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pringsewu KH Mahfudz Ali. (Foto:NU Online/Faizin)
Pringsewu, NU Online
Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pringsewu KH Mahfudz Ali mengibaratkan orang yang berada di majelis ilmu untuk menuntut ilmu seperti sedang menghadapi bahan makanan mentah seperti daging. Nikmat dan tidaknya daging tersebut tergantung kemampuan tukang masak yang mengolahnya.
 
Semakin tinggi ilmu dan pengalaman tukang masak dalam mengolah daging, maka akan semakin nikmat masakan daging yang dibuatnya. Daging pun tidak hanya menghasilkan satu jenis masakan saja, karena memang juru masaknya pintar dalam meramu bumbu sehingga aneka masakan bisa disuguhkan kepada banyak orang yang memiliki selera masing-masing.
 
"Begitu juga saat ngaji. Kalau sumber ilmunya tak punya kemampuan, maka akan menghasilkan ilmu yang mentah. Jika hanya bersumber pada satu hadits atau ayat Al-Qur'an tanpa didukung dengan sumber lain maka akan tidak jelas penjelasan atau penafsirannya," katanya, Ahad (8/3).
 
Kondisi ngaji kepada bukan ahlinya saat ini menurutnya sudah mulai menggejala. Apalagi saat ini media sosial menyuguhkan banyak sosok yang tidak memiliki kompetensi bidang agama namun berani mengeluarkan fatwa.
 
Banyak penceramah yang tidak memakai bumbu dalam menyampaikan ceramahnya sehingga kaku dan keras. Bisa jadi tidak punya resepnya ataupun terlalu kaku dengan tidak menggunakannya karena dianggap bumbu yang salah, bidah dan tidak ada sumber dalilnya.
 
"Majelis ilmu itu harus jadi rest area umat di tengah kepenatan aktivitas hidup. Jangan majelis ilmu dijadikan tempat untuk mencari-cari kesalahan orang lain dan merasa amaliahnya yang paling benar dan orang lain yang tak sejalan dengannya salah," tegasnya.
 
Selain itu, dalam majelis ilmu, orang yang menjadi nara sumber harus menyampaikan kajian agama berdasar sumber jelas dan memiliki kapasitas menjelaskannya. Jangan sampai bacaan Al-Qur'annya masih belum lancar sudah berani menafsirkan ayat.
 
"Maka di pesantren, para santri dibekali berbagai disiplin ilmu yang mampu membekalinya untuk dapat menjelaskan dasar-dasar ilmu agama. Di samping kehalusan hati juga diajarkan semisal dengan riyadhoh dan akhlakul karimah," katanya.
 
Ia pun mengajak kepada umat Islam untuk belajar ilmu kepada sosok yang benar-benar paham ilmu agama agar ilmu yang didapat mampu menenangkan hati seperti nikmatnya masakan daging yang dimakan bukan masakan daging yang disuguhkan tanpa ramuan bumbu atau bahkan dagingnya masih mentah.
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Syamsul Arifin


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler Daerah

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×