Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Halal Bihalal NU Bireuen, Pererat Silaturahim

Halal Bihalal NU Bireuen, Pererat Silaturahim
Halal Bihalal NU Bireuen, Pererat Silaturahim. (Foto: NU Online/Helmi)
Halal Bihalal NU Bireuen, Pererat Silaturahim. (Foto: NU Online/Helmi)

Bireuen, NU Online 
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bireuen, Aceh menggelar Halal Bihalal (HBH) dan silaturahim di aula Institut Agama Islam (IAI) DDI dan Coffe Morning yang bertempat di Warkop Star Black, Kota Bireuen, Ahad (8/5/2022). HBH ini untuk merajut persaudaraan atau ukhuwah dan mempererat silaturahim antarpengurs NU.


Ketua PCNU Kabupaten Bireuen Tgk Muntasir A Kadir dalam sambutannya menguraikan tentang sejarah lahirnya NU di negeri ini. Ia mengatakan embrio lahirnya NU juga berangkat dari sejarah pembentukan Komite Hijaz.


"Problem keagamaan global yang dihadapi para ulama pesantren ialah ketika Raja Saud di Arab Saudi ingin membongkar makam Nabi Muhammad saw karena menjadi tujuan ziarah seluruh Muslim di dunia yang dianggap bid'ah," katanya.


Selain itu, menurut Tgk Muntasir Raja Saud juga ingin menerapkan kebijakan untuk menolak praktik bermazhab di wilayah kekuasaannya. Karena ia hanya ingin menerapkan Wahabi sebagai madzhab resmi kerajaan. 


"Singkat cerita, pasca-perhitungan sudah matang dan izin dari KH Hasyim Asy'ari pun telah dikantongi. Maka pada 31 Januari 1926, Komite Hijaz mengundang ulama terkemuka untuk mengadakan pembicaraan mengenai utusan yang akan dikirim ke Muktamar di Makkah. Para ulama dipimpin KH Hasyim Asy'ari datang ke Kertopaten, Surabaya dan sepakat menunjuk KH Raden Asnawi Kudus sebagai delegasi Komite Hijaz," lanjutnya.


Tgk Muntasir menambahkan setelah KH Raden Asnawi terpilih, timbul pertanyaan siapa atau institusi apa yang berhak mengirim Kiai Asnawi? Maka lahirlah jamiyah Nahdlatul Ulama, nama ini atas usul KH Mas Alwi bin Abdul Aziz pada 16 Rajab 1344 Hijriah yang bertepatan dengan 31 Januari 1926 M.


Sementara itu, Rais Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Aceh Tgk H Nuruzahri Yahya dalam kesempatan yang sama mengajak Nahdliyin untuk menguatkan Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) dalam kehidupan sehari-hari masyarakat melalui pengajian agama di gampong atau desa.


"Melihat fenomena seperti saat ini, kehadiran NU di harapkan mampu memberikan kontribusi dalam penguatan Aswaja di berbagai level dan strata. Pentingnya membumikan Aswaja baik lewat tawasul, bermadzhab, dan lainnya dengan pengajian atau majelis taklim," ungkap pimpinan Dayah Ummul Ayman Samalanga ini.


Hadir di acara ini di antaranya Rais PWNU Aceh Tgk H Nuruzahri Yahya dan Tgk Iskandar Zulkarnain. Tampak pula bupati Bireuen, anggota DPRK, Kapolsek Kota Juang dan pengurus NU se-Kabupaten Bireuen dan sejumlah badan otonom (Banom) NU, serta beberapa tamu undangan lainnya.


Kontributor: Helmi Abu Bakar
Editor: Syamsul Arifin 



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler Daerah

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×