Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Ini Salah Satu Tradisi Lebaran di Temanggung

Ini Salah Satu Tradisi Lebaran di Temanggung
Temanggung, NU Online
Warga Desa Wonoboyo Kabupaten Temanggung memiliki tradisi khas di hari lebaran yang telah turun-temurun dari generasi-ke generasi. Salah satu tradisi tersebut adalah berziarah ke makam leluhur dan keluarga. Uniknya Ziarah kubur tersebut dilakukan sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri.

Tidak sedikit warga yang berangkat ke lokasi kuburan pada dini hari sebelum shubuh. Karena di kompleks pemakaman keberadaan lampu penerang terbatas hanya di dua titik tertentu, maka warga membawa bekal penerang dari rumah masing-masing.

Dahulu sebelum alat penerang berkembang maju seperti sekarang, umumnya mereka yang berangkat dini hari membawa obor minyak atau lilin. Namun saat ini pada umumnya cukup membawa penerang praktis seperti senter dan HP.

"Kalau berangkatnya pagi usai shubuh, waktunya terlalu berdekatan dengan pelaksanaan shalat Id. Akibatnya menjadi gugup khawatir telat ikut shalatnya," kata Akrom, salah satu warga desa Wonoboyo pada Rabu (6/7) ketika ditanya kenapa tidak ziarah di pagi hari saja setelah shalat Subuh.

Sebagian warga ada pula yang berangkat ziarahnya sudah cukup pagi sekitar pukul 6.00. Salah satunya Alfin. Pemuda yang kini bermukim di desa Tegal Sari Kecamatan Tretep Kabupaten Temanggung ini menyempatkan diri untuk menziarahi kuburan keluarganya di pemakaman desa Wonoboyo meski mengaku kali ini bangunnya agak kesiangan.

Tradisi ziarah di waktu pagi buta ini tidak hanya dilakukan oleh kaum laki-laki dan orang dewasa tetapi juga kalangan perempuan dan anak-anak. Karena waktunya nyaris serentak, meski dini hari sebelum subuh suasana di kompleks pemakaman tampak ramai. Apalagi gema suara takbiran dari masjid kampung setempat juga terdengar sampai area pemakaman.

Baru setelah berziarah kubur dan selesai melaksanakan shalat Idul Fithri, mereka melanjutkan dengan tradisi sungkeman sebagai manifestasi dari silaturahim.

Selain tradisi ziarah kubur di hari raya Idul Fitri yang masih eksis sampai saat ini, pada hari-hari akhir Ramadhan di Desa Wonoboyo warga juga masih menjaga tradisi berbagi makanan khususnya antarkerabat dan tetangga. Meskipun sudah tidak semasif dahulu, budaya berbagi makanan menjelang lebaran di desa ini masih tetap berjalan. (M Haromain/Alhafiz K)



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Daerah Lainnya

Terpopuler Daerah

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×