Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

PWNU Jatim Ingatkan Kader Rangkap Jabatan di PBNU untuk Tentukan Sikap

PWNU Jatim Ingatkan Kader Rangkap Jabatan di PBNU untuk Tentukan Sikap
Rapat terbatas Syuriyah dan Tanfidziyah PWNU Jatim. (Foto: Istimewa)
Rapat terbatas Syuriyah dan Tanfidziyah PWNU Jatim. (Foto: Istimewa)

Surabaya, NU Online
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengingatkan sejumlah kader yang rangkap jabatan untuk menentukap sikap bagi tempat pengabdiannya. Hal itu menyusul beberapa pengurus PWNU Jatim yang direkrut untuk menjadi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pasca-Muktamar Ke-34 Nahdlatul Ulama di Lampung.

Pengurus PWNU Jatim yang masuk jajaran Pengurus PBNU periode 2022 - 2027 di antaranya KH Anwar Iskandar (Wakil Rais PWNU Jatim menjadi Wakil Rais 'Aam PBNU), KH Athoillah Anwar (Katib Syuriah PWNU Jatim sebagai Rais PBNU), Prof Akh Muzakki (Sekretaris PWNU sebagai Wasekjen PBNU), KH Abdus Salam Shohib (Wakil Ketua PWNU Jatim sebagai Wasekjen PBNU) dan sejumlah nama lainnya.

Guna menindaklanjuti hal itu, PWNU Jawa Timur mengadakan Rapat terbatas Syuriyah dan Tanfidziyah pada Selasa (18/1/2022) yang membahas persoalan penataan organisasi tersebut.

"Kami mencari solusi atas permasalahan keorganisasian dengan diberikannya amanah PBNU kepada sejumlah pengurus PWNU untuk duduk dalam kepenguruaan PBNU 2022-2027," tutur Prof Akh Muzakki, dalam keterangan tertulis yang diterima NU Online, Rabu (19/1/2022).

Menurutnya, Sesepuh PWNU Jatim KH Anwar Mansur dan KH Anwar Iskandar mengingatkan pentingnya menaati AD/ART NU sebagai pedoman berorganisasi. Setiap kader berhak menentukan tempat pengabdiannya, baik di tingkat PBNU maupun di PWNU.


Forum rapat tersebut pun menyepakati pengisian kekosongan jabatan di PWNU yang ditinggalkan karena wafat atau diangkat ke PBNU dengan prinsip menaati aturan organisasi.

"Ya, seperti tidak boleh rangkap jabatan pengurus harian pada jajaran kepengurusn yang berbeda. Selain itu, harus urut kacang dalam pengirisan jabatan sesuai dengan SK kepengurusan," tutur Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya.

Sejauh ini, selain karena masalah rangkap jabatan, dalam jajaran PWNU Jatim terdapat sejumlah nama yang meninggal dunia. Kondisi ini pun menjadi pembahasan dalam rapat tersebut.

Para masyayikh lanjutnya, memerintahkan untuk menginventarisi figur-figur potensial yang bisa diberi amanah untuk menjabat di kepengurusan hasil PAW, yang resminya akan diputuskan di rapat gabungan pada Selasa 25 Januari mendatang.

"Penentuan figur didasarkan pada dua prinsip: kapasitas keilmuan atau pengalaman dan loyalitas ke organisasi," jelasnya.

Rapat terbatas digelar di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dan dihadiri Rais PWNU sekaligus tuan rumah rapat, KH M Anwar Manshur, Wakil Rais KH Anwar Iskandar, KH Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah, KH Syafruddin Syarif, KH Abdul Matin Jawahir, KH Hadi Mahfudz, Prof KH Abd A'la, Prof KH Ali Maschan Moesa. 

 

Sedangkan hadir dari jajaran tanfidziyah, Ketua PWNU KH Marzuki Mustamar, KH Abdul Hakim Mahfudz, KH Ahmad Reza Zahid, KH Ma'shum Faqih, KH Abdus Salam Shohib, KH Abdurrahman al-Kautsar, dan Gus Nasruddin Ali.

Editor: Muhammad Faizin



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler Daerah

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×