Daerah

Rais Syuriyah PWNU Jakarta: Jangan Jual NU, Nanti Kualat!

Ahad, 31 Juli 2022 | 22:45 WIB

Rais Syuriyah PWNU Jakarta: Jangan Jual NU, Nanti Kualat!

Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta mengingatkan agar tidak menjual NU untuk kepentingan pribadi. (Foto: tangkapan layar NU to Line)

Jakarta, NU Online

 

Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta KH Muhyidin Ishaq bercerita, ia pernah memberikan teguran keras kepada seorang teman yang gemar menjual nama NU demi kepentingan pribadi. 

 

“Yang main-main di NU, lebih baik keluar. Di NU ini khidmat. Insyaallah merupakan bagian dari ibadah. Jangan coba-coba untuk dagangin (menjual) NU. (Nanti) kualat sama NU,” tegas Kiai Muhyidin dalam Pembukaan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) II NU DKI Jakarta, di Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari, Cengkareng, Jakarta Barat, pada Ahad (31/7/2022). 

 

Istilah kualat itu telah dibuktikan oleh Kiai Muhyidin sendiri. Ia menyebut ciri-ciri seseorang yang kualat dengan NU, yakni ketika masih menjadi pengurus atau berada di jajaran struktur sangat dihormati orang lain. Tetapi ketika sudah tidak menjadi pengurus, keberadaannya tidak pernah dianggap. 

 

“Ketika dia masih menjadi struktur sangat luar biasa dihormati. Tetapi ketika tidak terstruktur, wujuduhu ka’adamihi. Ada nggak ditanya, nggak ada nggak dicari. Itu dalam bahasa kampung saya, namanya kualat,” tegasnya. 

 

Sebagai implementasi dari ucapannya itu, Kiai Muhyidin mengaku selalu melarang panitia kegiatan PWNU DKI Jakarta membuat proposal. Hal itu, lanjutnya, merupakan bagian dari wujud khidmat dan bakti kepada para masyayikh NU. 

 

“Jadi jangan sekali-sekali coba untuk mendagangkan NU demi kepentingan kelompok-kelompok kecil, apalagi pribadi. Ketika dia masih jadi struktur itu akan orang hormati, ketika tidak terstruktur, ada nggak ditanya, nggak ada nggak dicari. Sanksi sosial jauh lebih berat daripada sanksi pidana. Itu yang namanya kualat,” tegasnya lagi.

 

Kiai Muhyidin mengingatkan bahwa kualat itu akan terlihat dalam waktu 4-5 tahun ke depan. Ia pun secara tegas berani menjamin, para pengurus NU yang benar-benar berkhidmat dan tidak mendagangkan NU akan mendapatkan keberkahan dari para pendiri Perkumpulan Nahdlatul Ulama. 

 

“Yuk kita berkhidmat, yuk kita berbakti, yuk kita berjuang di NU. Para muassis (pendiri NU) ini kan luar biasa, ini para awliya (kekasih Allah), cuma jasadnya mati, ruhnya tetap hidup. Insyaallah kita akan mendapatkan barokahnya,” tegas Kiai Muhyidin. 

 

Sebelumnya, Ketua PWNU DKI Jakarta KH Samsul Ma’arif juga telah mengingatkan para pengurus agar mampu menjadi pelopor gerakan kebaikan atau harakah islahiyah. Orang-orang yang mampu melakukan perbaikan disebut muslih, tidak hanya sekadar saleh.

 

Meski begitu, Kiai Samsul berpesan bahwa menjadi seorang yang muslih itu perlu sifat sabar, tidak mudah marah, lapang dada, serta tidak membalas kebencian orang lain. Lebih jauh, dapat memberikan banyak manfaat bagi banyak orang. 

 

“Semua pengurus harus bisa menjadi muslih, yaitu orang yang bisa melakukan perbaikan. Tidak cukup hanya sekadar menjadi seorang yang saleh. Orang yang baik (saleh) itu yang penting ikut organisasi. Tapi (kalau muslih) ikut memperbaiki. Diomongin, difitnah, dicaci maki, dikritik, itu hal biasa, yang penting sabar,” tegas Kiai Samsul. 

 

Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Syakir NF