Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Resolusi Jihad Belum Tercantum, Buku Sejarah Harus Ditulis Ulang

Resolusi Jihad Belum Tercantum, Buku Sejarah Harus Ditulis Ulang
Bawean, NU Online
Ketua PCNU Bawean, Jawa Timur KH Fauzi Rouf menyatakan bahwa sejarah bangsa ini harus banyak berterima kasih kepada peran besar ulama dan santri, karena itulah sejarah harus ditulis ulang.

"Peran ulama dan santri sangatlah besar, sehingga melahirkan Resolusi Jihad. Namun, hal ini belum ditulis dalam buku-buku sejarah yang dipelajari para pelajar dan santri. Karena itu sejarah ini harus ditulis ulang," ujarnya di hadapan sekitar dua ribu santri dalam peringatan Hari Santri Nasional bertajuk Semarak Hari Santri 22 Oktober Resolusi Jihad NU, yang diselenggarakan PCNU Bawean di Pesantren Mambaul Falah, Bawean, Sabtu malam (22/10) melalui siaran pers.

Sementara itu Direktur Aswaja NU Center Jombang, Yusuf Suharto yang didapuk sebagai penceramah puncak acara peringatan HSN menegaskan bahwa tidak ada hari pahlawan tanpa ada Resolusi Jihad.

"Hari Pahlawan 10 November itu adalah kelanjutan dan efek dari Resolusi Jihad 22 Oktober. Bung Tomo dan para pecinta kemerdekaan menyebarkan fatwa atau resolusi jihad ini ke seluruh penjuru negeri. Para ulama prihatin karena Indonesia akan kembali dijajah tentara sekutu dan Belanda.  Inilah di antara bukti nyata bahwa para santri dan ulama mencintai negeri ini, dan karenanya mempertahankan kemerdekaan yang merupakan kewajiban bersama," ujar Sekretaris Pergunu Jombang ini di hadapan para kiai jajaran PCNU, lembaga, banom, MWCNU dan santri seluruh Bawean.

Ia menambahkan, langkah para ulama dalam mengawal negeri ini dapat kita saksikan misalnya pada tahun 1916 Kiai Wahab Hasbullah mendirikan Nahdlatul Wathon yang artinya kebangkitan tanah air atau kebangkitan kebangsaan. Kemudian disusul dengan pemberian nama yang beragam di berbagai daerah agar tidak diketahui penjajah, misalnya di Gresik dinamai Far'ul Wathon (Elemen Bangsa), di Jombang dinamai Hidayatul Wathon Pencerah Bangsa).

“Inilah juga bukti kecintaan para kiai atas negeri ini. Pada tahun 1918 didirikan Nahdatut Tujjar (Kebangkitan para saudagar) yang merupakan bukti kemandirian para ulama dalam perjuangan kemerdekaan," ujarnya.

Karena itu, lanjutnya, kita harus bangga menjadi santri. Ustadz, dan ulama otomatis adalah santri. Dan santri diharapkan berperan seperti para ustadz dan kiai. Ia mengajak untuk menjadikan Hari Santri ini dengan berbuat nyata bagi bangsa ini. Mengisinya dengan menerapkan Islam moderat, Ahllussunnah wal Jamaah 'ala Nahdlatil Ulama."

Puncak acara ini dirangkai dengan pembacaan wasilah dan Shalawat Nariyah, menyanyikan lagu Indonesia Raya, mars santri, pembacaan Ikrar Santri, dan aneka tampilan kesenian santri. Doa dibacakan Mustasyar PCNU Bawean yang juga pengasuh Pesantren Mambaul Falah, Tambak Bawean, KH Abdul Aziz  Ismail. Sosok Kiai Abdul Aziz adalah kiai aktivis, terhitung sejak 1963 sudah terlibat dalam aktivitas dan gerakan NU. Untuk menggenapi keikutsertaan dalam muktamar dengan volume Sembilan kali, Kiai yang menyaksikan para kiai berkumpul di jalan Matraman (rumah Bu Nyai Sholihah Binti KH. Bisri Syansuri) ini menjadi saksi fatwa NU tentang pembubaran PKI.
 
Sementara itu pada pagi harinya, Sabtu pagi (22/10) bersama Direktur Aswaja NU Center Bawean, Kiai Syamsuddin, dan pengasuh Persantren Hasan Jufri, KH. Ali Asyhar, Yusuf juga mengisi peringatan hari santri di Pesantren Hasan Jufri Bawean. Dalam acara ini format acaranya berupa diskusi Tanya jawab seputar Aswaja, NU dan Hari Santri.

"Semula Hari Santri diusulkan pada satu Muharram, kemudian diubah menjadi 22 Oktober, karena momen 22 Oktober ini adalah yang paling tepat, di mana para santri mewujudkan gerakan secara massif dalam mempertahankan NKRI," ujarnya disusul dengan pembacaan bersama Shalawat Nahdhiyyah yang disusun oleh Kiai Abdul Wafi Paiton, yang dipimpin Kiai Syamsuddin.

Adapun terjemah shalawat itu adalah, "Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan para sahabatnya, yang dengan berkah bacaan shalawat ini, jadikanlah kami senang, rajin, dan semangat dalam berjuang menghidupkan dan meninggikan agama Islam serta menampakkan syi'ar-syi'arnya menurut cara Jam'iyyah Nahdlatul Ulama. Ya Allah, teguhkanlah pendirian dan berikanlah kemenangan bagi warga Jam'iyyah Nahdlatul Ulama (Nahdliyyin) untuk meninggikan Kalimatillah (agama Islam dan seluruh ajarannya)". (Red: Abdullah Alawi)



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Daerah Lainnya

Terpopuler Daerah

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×