Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Teman-Teman Saya di Muktamar NU

Teman-Teman Saya di Muktamar NU
Muktamar bukan hanya forum resmi tapi juga wahana kultural bagi bagi Nahdliyin dari berbagai pelosok.
Muktamar bukan hanya forum resmi tapi juga wahana kultural bagi bagi Nahdliyin dari berbagai pelosok.

Akhirnya saya benar-benar berangkat ke arena Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 di Lampung. Berangkat sebagai apa? Sebagai tukang masak! Iya. Benar-benar, literally, sebagai tukang masak.

 

Beberapa kenalan yang saya temui di arena muktamar, ketika ditanya kegiatannya apa, ada yang menjawab “membawakan tas kiai anu” atau “membalikkan sandal kiai anu” atau “membuatkan kopi untuk gus anu”. Tapi itu semua hanya kiasan. Kalau saya? Denotatively, tugas saya adalah memasak.

 

Jadi, saya bisa berangkat ke Lampung karena menjadi panitia reuni NU Mesir yang diadakan di arena muktamar. Sebagaimana kita tahu, banyak sekali kegiatan sampingan muktamar oleh banyak kumpulan dari keluarga besar NU, salah satunya adalah reuni ini.

 

Salah satu bagian favorit dari acara ini adalah sesi makan-makan hidangan ala Mesir. Karena saya dianggap bisa memasak hidangan itu, maka saya diminta berangkat. Meski agak canggung karena masih kepikiran urusan pekerjaan, tak lupa urusan domestik keluarga, saya pun berangkat.

 

Sebenarnya, di antara kumpulan kami, yang bisa memasak hidangan ala Mesir bukanlah cuma saya. Rasa masakan saya juga biasa saja, mengingat saya tidak punya sanad ilmu memasak yang muttasil, hanya berbekal mesin pencarian internet. Tapi mungkin karena dianggap gampang diajak grudag-grudug ke sana ke mari, maka diajaklah saya.

 

***

 

Sesampai di arena muktamar, sehari sebelum perhelatan ini dimulai, saya ketemu sejumlah teman di warung sambil minum kopi. Kami mengobrol tertawa-tawa, tapi kemudian diam melamun sendiri, kemudian mengobrol dan tertawa lagi, kemudian diam menerawang lagi, begitu terus-menerus. Lucu sekali.

 

Rupanya kami masih sibuk dengan pikiran masing-masing. Satunya anggota tim sukses yang sedang memikirkan konsolidasi, satunya lagi dari tim penerbit yang masih berpikir di mana stan akan dibuka, satunya lagi tukang masak yang sedang memikirkan daftar belanjaan. Daripada obrolan berlanjut makin aneh, kami putuskan bubar, seiring si anggota tim sukses mendapat panggilan melalui telepon.

 

Sehari pra muktamar, dua hari muktamar, satu hari perpanjangan waktu, kegiatan saya lebih banyak terpusat di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan, karena di situlah penginapan kami sekaligus tempat kegiatan reuni kami. Kegiatan memasak sendiri kami eksekusi di rumah salah satu dosen UIN yang juga merupakan senior NU Mesir.

 

Reuni kami adakan bertepatan dengan hari pertama muktamar. Selain memasak dan mengikuti acara reuni, kegiatan saya lebih banyak beristirahat, keluar jalan-jalan hanya sekadarnya, termasuk pas hari perpanjangan waktu muktamar ke lokasi pemilihan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Universitas Lampung (Unila).

 

***

 

Muktamar bisa menjadi sumber segudang cerita bagi banyak orang. Saya sendiri tidak punya banyak cerita. Kalaupun ada, itu hanya cerita remeh-temeh tentang teman-teman saya. Meski begitu, cerita receh ini menurut saya berkesan dan patut diceritakan, karena bisa jadi bahan perenungan.

 

Ada teman yang mendarat dari Jakarta pada H-1, lalu lebih banyak di penginapan yang hanya sepelemparan batu jaraknya dari tempat reuni. Ia tampak santai sekali, sering tampak bersama gadget-nya untuk nonton sesuatu atau bermain game. Di malam hari reuni ia nonton siaran sepakbola Indonesia lawan Singapura. Malam berikutnya ia nonton siaran langsung pemilihan rais aam dan ketua umum PBNU.

 

Tengah malam pemilihan, saya tinggal ia tidur, toh saya pikir tampaknya akan sampai pagi, sebagaimana siaran langsung sepakbola Eropa yang berlanjut sampai penalti sehabis subuh. Dugaan saya benar. Lalu setelah menonton ‘adu penalti’ ia tidur dan terbang ke Jakarta lagi di siang hari.

 

Ada teman yang terbang dari Jawa Timur bersama istri, satu hari setelah reuni, alias hari kedua muktamar. Ia hanya di penginapan dan banyak mengisi waktu dengan ngobrol, menuju lokasi pemilihan di malam hari sebentar, paginya terbang pulang lagi.

 

Ada juga teman yang saya pantau melalui status Whatsapp menyeberang dengan kapal siang hari sebelum pemilihan dan setelah pemilihan kembali menyeberang lagi. Ada pula teman yang hadir dengan menumpang mobil orang di hari reuni. Ia banyak habiskan waktu di penginapan dan dua hari berikutnya pulang naik mobil tumpangan juga, tapi berbeda dengan mobil yang pertama.

 

Ada lagi teman yang sampai di hari reuni dengan bus gratisan. Nahas, esok paginya ia ketinggalan bus itu dan mencari alternatif bus gratisan lain. Singkat cerita ia dapat info bus yang ia mau dan disuruh menuju tempat penginapan penumpang bus sekitar 13 kilometer dari UIN.

 

Setelah sampai lokasi yang dituju, ia dapat info kalau tempat kumpul penumpang bus sudah pindah ke UIN. Kembalilah ia. Sesampai di UIN, ia mendapat kabar kalau tempat kumpul penumpang bus sudah bergeser ke Unila. Sungguh-sungguh disruptif sekali. Tidak hanya waktu dan titik lokasi kegiatan muktamar yang berubah-ubah dalam waktu singkat, tapi tempat kumpulnya penumpang bus pun ikut berubah-ubah.

 

Orang NU memang sudah tidak kaget dengan segala bentuk disrupsi yang menjadikan acara tetap terlaksana dengan persiapan yang singkat dan kalang-kabut. Tapi hati ini juga tetap bertanya, “sampai kapan keadaan akan seperti ini?” Anyway, alhamdulillah, teman saya satu ini akhirnya berhasil pulang ke rumah.

 

Banyak teman lain yang tak sempat tertemui di muktamar, banyak juga yang hanya terpantau melalui media sosial. Saya yakin, kalau saja sempat bertemu, pasti berujung cerita unik nan menarik meski remeh-temeh dan receh.

  

***

 

Pagi hampir siang, di hari perpanjangan waktu muktamar, ketua umum PBNU telah terpilih. Yang benar-benar mengesankan saya adalah, suasana pemilihan yang meski tensinya cukup tinggi, namun tidak sepanas yang diduga dan dibayangkan.

 

Saya sempat menengok lokasi pemilihan sambil berniat mencari oleh-oleh kaos khas muktamar yang sayangnya habis semua. Saya hanya berhasil membeli oleh-oleh khas Lampung, bukan khas muktamar, lalu pulang hari itu juga.

 

Di perjalanan pulang saya teringat teman-teman saya tadi, yang hadir ke muktamar namun kegiatannya santai-santai saja. Lalu batin saya malah bicara, justru teman-teman macam inilah yang punya andil dalam mendinginkan aura suasana pemilihan. Mereka tidak memilih, pun hanya hadir di sekitar lokasi, namun cinta mereka ke jam’iyyah itulah yang mungkin mengubah potensi panas menjadi suasana dingin. Tidak hanya teman-teman saya itu, tapi pasti banyak orang-orang yang serupa dengan mereka.

 

Dari kejauhan, seorang teman mengunggah status di media sosial. Ia bercerita kalau sepulang muktamar, ia harus siap menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) perjalanan muktamar selama hampir seminggu itu kepada sang istri. Saya hanya tersenyum sambil sedikit merasa iba membaca status ini. Saya tetap tenang saja, karena selama di Bandarlampung, saya sudah mencicil menyampaikan LPJ setiap hari.

 

Muhyidin Basroni, Pengajar di UNU Yogyakarta dan IKANU Training Center Yogyakarta




Terkait

Esai Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya