Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Begini Cara Melihat Nabi Muhammad Saw pada Abad Ke-21

Begini Cara Melihat Nabi Muhammad Saw pada Abad Ke-21
“Saya memaknainya, kanjeng nabi memang sudah wafat dan tidak bisa dilihat lagi, tetapi kita bisa melihat kanjeng nabi melalui wakil-wakilnya atau pewarisnya, yaitu ulama. (Foto: facebook)
“Saya memaknainya, kanjeng nabi memang sudah wafat dan tidak bisa dilihat lagi, tetapi kita bisa melihat kanjeng nabi melalui wakil-wakilnya atau pewarisnya, yaitu ulama. (Foto: facebook)

Jakarta, NU Online

Nabi Muhammad sudah wafat sejak 1400 tahun atau sekitar 14 abad yang lalu, sehingga orang-orang yang hidup di abad ke-21 ini memiliki jarak yang sangat jauh dengan kekasih Allah itu. Meskipun sejarah nabi bisa dibaca melalui buku-buku biografi yang banyak di era ini, tetapi tetap saja tidak bisa menyaksikannya secara langsung. 


Orang-orang sekarang juga tidak bisa membayangkan perwujudan konkret Nabi Muhammad karena hidup di zaman yang sangat jauh berbeda. Namun, Intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) Gus Ulil Abshar Abdalla memberikan cara agar umat Islam saat ini bisa melihat Nabi Muhammad di Abad Ke-21.


“Walaupun kita hidup di Abad Ke-21, tetapi kita bisa melihat kanjeng nabi secara visual. Caranya adalah dengan melihat para pewaris kanjeng nabi. Jadi, kita bisa melihat kanjeng nabi secara visual, secara kasat mata melalui mata kita ini dengan melihat pewaris-pewarisnya,” tutur Gus Ulil saat mengisi acara bertajuk Maulid Tasawuf Milenial di Kafe Leha-Leha Yogyakarta bersama Hairus Salim, disiarkan langsung melalui akun facebook, pada Jumat (15/10/2021) malam. 


Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad telah mengabarkan umat Islam dengan ungkapan al-ulama’ waratsatul anbiya’ atau para ulama merupakan para pewaris nabi. Hadits ini sudah sangat masyhur dan sering diungkapkan oleh banyak tokoh di berbagai kesempatan. 


“Saya memaknainya, kanjeng nabi memang sudah wafat dan tidak bisa dilihat lagi, tetapi kita bisa melihat kanjeng nabi melalui wakil-wakilnya atau pewarisnya, yaitu ulama. Pertanyaan besarnya, apakah setiap orang yang disebut ulama adalah pewaris nabi? Ini pertanyaan yang sulit dijawab,” terang Gus Ulil.


Menurutnya, definisi ulama adalah orang-orang berilmu yang ada keterkaitan dengan cara menuju pada kehidupan kelak yaitu akhirat. Dengan kata lain, ilmu yang dimiliki ulama itu akan membuat manusia sampai pada kehidupan akhirat secara selamat. 


“Itu adalah orang-orang yang disebut ulama, memiliki Ilmu akhirat dan tidak semata-mata ilmu agama. Imam Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menyebut ilmu akhirat itu tidak harus ilmu yang punya label agama. Tetapi bisa juga ilmu-ilmu yang labelnya sekular seperti pertanian, bisnis, fisika. Tetapi ilmu-ilmu ini membawa orang sampai pada kehidupan akhirat. Membuat kita ingat pada Allah,” terangnya.


Di dalam Al-Qur’an juga telah disebutkan definisi ulama, yakni innamaa yakhsallaha min ibadihil ulama. Artinya, orang-orang berilmu yang dengan ilmunya itu mampu membawa kepada sifat khasyah atau takut kepada Allah. Inilah definisi ulama sesungguhnya. 


“Ilmunya bisa apa saja, tetapi hasil akhirnya adalah takut kepada Allah. Karena kata Al-Ghazali, banyak orang yang belajar ilmu berlabel agama, tetapi tidak menimbulkan khasyah atau tidak ada kesadaran ketuhanan yang timbul dari ilmu yang dipelajari itu. Ini bukan ulama,” jelas putra Pengasuh Pesantren Mansajul Ulum, Pati, Jawa Tengah, KH Abdullah Rifa’i itu. 


Orang-orang yang mempelajari ilmu agama tetapi tidak timbul rasa rakut kepada Allah itu, disebut Gus Ulil, sebagai ulama sesuai definisi kamus semata karena ulama berarti orang yang punya ilmu.


Tetapi mereka tidak ada kesadaran ketuhanan di dalam diri. Meskipun seseorang mempelajari ilmu fiqih, tauhid, kalam, dan bahkan tasawuf tetapi tidak ada rasa takut kepada Allah maka sudah dipastikan bukan sebagai ulama. 


“Itulah yang dikritik Imam Ghazali yaitu orang-orang yang belajar ilmu agama tetapi tidak ada khasyah dalam diri orang itu, sebetulnya dia bukan ulama. Dia orang yang punya ilmu begitu saja, tetapi bukan ulama yang seperti dikehendaki di dalam Al-Qur’an,” katanya.


“Nah, orang-orang yang punya ilmu dan ilmunya menimbulkan khasyah, itulah pewaris para nabi. Kalau kita ingin melihat kanjeng nabi, lihat ulama yang seperti itu. Siapa contohnya? Banyak banget,” tambah Gus Ulil. 


Ia lantas mencontohkan salah satu ulama sepuh di negeri ini yang dianggap sebagai perwujudan atau manifestasi Nabi Muhammad secara visual. Ulama itu adalah Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah, yakni KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus.


“Saya memandang Gus Mus itu sebagai orang yang kira-kira kalau njenengan ingin melihat nabi secara visual ya seperti Gus Mus. Cuma kanjeng nabi tentu 1000 kali lebih dari Gus Mus atau di atas itu. Tetapi  ada unsur kenabian di dalam perilaku para ulama seperti yang kita lihat di pesantren-pesantren itu. Salah satunya Gus Mus ini,” terang Gus Ulil, yang juga merupakan menantu Gus Mus.


Dikatakan Gus Ulil, sosok-sosok yang dinilai sebagai perwakilan Nabi Muhammad di era sekarang adalah memiliki ciri bahwa kehadirannya membuat orang lain merasa menjadi manusia seutuhnya. 


“(Tentang manusia) itu temanya Gus Mus kalau pidato di mana-mana selalu soal manusia. Manusia yang menjadi manusia. Tindakan-tindakan Kiai Mustofa Bisri sehari-hari kalau saya bayangkan kanjeng nabi itu ya kira-kira seperti itu tindakannya,” tegas Gus Ulil.


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Alhafiz Kurniawan



Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya