Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Cerita Dahlan Iskan Menemukan Kiai Asep di Suatu Subuh

Cerita Dahlan Iskan Menemukan Kiai Asep di Suatu Subuh
Pengasuh Pesantren Amanatul Ummah KH Asep Saifuddin Chalim (Foto: NU Online/Kendi Setiawan)
Pengasuh Pesantren Amanatul Ummah KH Asep Saifuddin Chalim (Foto: NU Online/Kendi Setiawan)
Surabaya, NU Online
Dahlan Iskan, Menteri BUMN di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan KH Asep Saifuddin Chalim sebagai seorang kiai besar bin kiai besar yang berpikiran besar.
 
Bukti kebesaran itu, dengan pengalamannya pada satu subuh di Pesantren Amanatul Umah, pesantren yang diasuh Kiai Asep yang terletak di Pacet, Mojokerto.
 
Suatu ketika Dahlan Iskan pergi ke Pacet Mojokerto secara diam-diam. Tanpa pemberitahuan siapa pun. Jam tiga pagi, Dahlan berangkat dari Surabaya. Niat untuk shalat Subuh di masjid utama kompleks Pesantren Amanatul Ummah.  
 
"Saya tiba di lokasi lebih (telat) dua menit dan alhamdulillah masih bisa mengikuti rakaat terakhir shalat Subuh. Tapi masjid sudah penuh sesak. Saya tinggal mendapat tempat di emperan masjid. Bersama beberapa santri di situ. Habis shalat saya tidak beranjak. Saya ingin ikut acara setelah Subuh, Pengajian Kitab Ikhya Ulumuddin," kata Dahlan Iskan saat memberikan testimoni pada acara pengukuhan Guru Besar Kiai Asep dibidang Sosiologi di UIN Sunan Ampel Surabaya (29/8).

Setelah pengajian berjalan setengah jam, Dahlan berusaha mencari tahu dengan berisik kepada santri sebelah. Sebab posisi yang di emperan masjid tidak bisa melihat siapa yang tengah mengajar ngaji di depan sana. "Sesekali saya melongokkan pandangan ke dalam masjid. Yang terlihat hanya lautan kepala para santri," cerita Dahlan.
 
"Santri itu mengatakan Yang mengajar itu Kiai Asep. Saya pun manggut-manggut, terkagum. Kok kiai besar di situ masih sempat mengajar. Turun tangan sendiri. Tidak mewakilkan kepada ustadz yang begitu banyak," lanjut Dahlan.
 
Dahlan masih meceritakan, ibarat pengusaha, Kiai Asep itu sudah tingkat konglomerat. Tapi masih mau menjaga toko, masih bisa bertemu langsung para pembelinya.
 
"Itulah yang membuat Pesantren Amanatul Ummah ini terkelola dengan baik. Kiainya tidak pernah tercabut dari akarnya. Bahkan masih terus menumbuhkan akar baru," ungkap Dahlan. 
 
Menurut Dahlan,  manajemen di Pesantren Amanatul Ummah berjalan begitu bagus. Mungkin karena Kiai Asep tidak tergoda terjun langsung ke politik. Perhatian kepada Amanatul Ummah tak pernah berkurang. Apalagi sampai mengabaikannya.
 
Dahlan mengaku beberapa kali bertemu dengan Kiai Asep. Menurut Dahlan Kiai Asep tidak banyak bicara tapi seperti lebih banyak berpikir. Dan, lebih banyak lagi berbuat nyata. Banyak sekali orang besar yang berpikir besar dan omong besar. Tapi kalau sudah diajak bicara detail terlihat ketidakpeduliannya.
 
Menurut Dahlan, Kiai Asep tidak seperti itu. "Kiai berpikir besar, melakukan hal-hal yang besar, namun juga memerhatikan yang kecil-kecil. Sampai detail. Itulah kunci sukses Kiai Asep. Di bidang pendidikan. Sukses dalam bentuk kualitas, kuantitas sampai ke stratanya," pungkasnya.
 
Kontributor: Rof Maulana
Editor: Kendi Setiawan


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×