Nasional AICIS 2024

Gus Ghofur: Ulama Miliki Tugas Menemani Masyarakat

Ahad, 4 Februari 2024 | 12:00 WIB

Gus Ghofur: Ulama Miliki Tugas Menemani Masyarakat

Rais Syuriyah PBNU KH Abdul Ghofur Maimoen saat menjadi pembicara dalam forum AICIS 2024, Jumat (2/2/2024). (Foto: NU Online/Indi)

Semarang, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Ghofur Maimoen menyoroti peran ulama dalam menghadapi berbagai problematika yang melanda masyarakat.


Ia menegaskan bahwa tugas ulama adalah menemani masyarakat melewati problem sosial, politik, ekonomi, dan lainnya.


"Tugas ulama itu adalah menemani masyarakat melewati problem," kata tokoh yang karib disapa Gus Ghofur di Religious Leaders Summit AICIS ke-23 tahun 2024, Kamis (2/2/2024).


Menurutnya, sering kali bukan masyarakat yang menjadi masalah, melainkan tokoh-tokoh yang menjadi problem, yang seharusnya membantu melewati problem-problem tersebut.


"Terindikasi yang jadi problem itu sering kali bukan masyarakatnya, tapi justru tokohnya. Tokoh itu yang menjadi problem. Padahal sebetulnya, tugasnya itu justru adalah melewati problem-problem itu," ujar dia.


Gus Ghofur ini juga menggambarkan ciri kehidupan modern di mana keberagaman agama dan etnis melebur menjadi satu.


"Salah satu ciri dari kehidupan modern ini adalah kita ini hidup bersama. Dulu itu, hidup mungkin terkotak-kotak," uca dia.


Meskipun di satu sisi dianggap sebagai berkah karena menyatukan kekuatan dari berbagai agama dan etnis, namun di sisi lain hal ini juga dapat menimbulkan masalah yang jika dibiarkan bisa berkembang menjadi krisis keagamaan dan kemanusiaan.


"Tetapi di sisi yang lain, ini bisa menimbulkan masalah dan masalah itu jika kemudian membesar akan menjadi krisis. Krisis keagamaan dan krisis kemanusiaan," katanya.


Ia juga mengingatkan tentang momen penting pada tahun 1980-an, ketika PBNU menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Meskipun awalnya banyak kiai yang menyesali atas perubahan ini, namun seiring waktu banyak yang menyadari bahwa penerimaan tersebut bukanlah darurat melainkan sebuah kebutuhan.


"Dulu tahun 1984, kami itu menerima asas tunggal Pancasila. Itu banyak yang pulang dari Muktamar, itu kiai-kiai itu menangis," ucapnya.


Lebih lanjut, setelah menerima Pancasila, PBNU melahirkan konsep Trilogi Ukhuwah yang menekankan persaudaraan antara sesama umat dan warga negara Indonesia, bahkan hingga seluruh warga dunia. 


"Ada ukhuwah Islamiyah, ada ukhuwah wathaniyah, ada ukhuwah basyariyah. Itu juga satu keputusan yang rumit, tapi itu berkah. Itu artinya berarti seluruh warga negara Indonesia dalam perspektif ini adalah teman, nggak ada yang disebut dengan musuh," pungkas dia.