Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Hadapi Perubahan Zaman, Kader NU di Luar Negeri Harus Aktif Siapkan SDM

Hadapi Perubahan Zaman, Kader NU di Luar Negeri Harus Aktif Siapkan SDM
Pelaksana tugas (Plt) Ketum Pengurus Pusat (PP) Mahasiswa Ahlit Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah (MATAN) Nahdlatul Ulama (NU), M Hasan Chabibi. (Foto: Tangkapan layar)
Pelaksana tugas (Plt) Ketum Pengurus Pusat (PP) Mahasiswa Ahlit Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah (MATAN) Nahdlatul Ulama (NU), M Hasan Chabibi. (Foto: Tangkapan layar)

Jakarta, NU Online
Pelaksana Tugas (Plt) Ketum Pengurus Pusat (PP) Mahasiswa Ahlit Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah (MATAN) Nahdlatul Ulama (NU), M Hasan Chabibi meminta kader NU yang belajar di luar negeri ikut terlibat menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menghadapi perubahan zaman.


Permintaan ini disampaikannya saat webinar pra Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama dengan tema "Pendidikan, Manejemen Data dan Transformasi SDM Nahdliyin" yang disiarkan langsung di akun youtube PCINU United Kingdom, Ahad (12/12/21).


"Mahasiswa NU yang ada di luar negeri harus menyikapi perubahan zaman dan digitalisasi dengan ikut serta menyiapkan SDM. Baik yang ada di Korea, Jepang, Kanada, USA, UK dan lain sebagainya," katanya.


Hal ini berlandaskan data bahwa di Indonesia saat ini ada sekitar 59 juta pelajar tingkat dasar hingga menengah atas. Mereka semua dihadapkan dengan pertarungan dengan teknologi.


Dengan perincian yang duduk di kelas 1-6 ada 37 juta, kelas 7-9 ada 10 juta dan kelas 10-12 berjumlah 9 juta siswa. Para pelajar ini tersebar di 407 ribu sekolah dan dibimbing oleh 3,4 juta guru. Data ini diambil dari Kemendikbud dan Kemenag.


Bila SDM Nahdliyin berada di bawah standar, maka akan tergantikan oleh program digitalisasi. Sehingga dibutuhkan kecakapan dan kemampuan khusus untuk menari dan memanfaatkan digitalisasi secara tepat.


"59 juta siswa ini dalam situasi pandemi dipaksa melompat dalam digitalisasi. Padahal semua belum ideal. Ini sesuatu yang harus kita perhatikan. Agar tantangan masa depan dan kemajuan teknologi bisa dijawab," jelas pria yang juga kepala Pusdatin Kemendikbud RI ini.


Menurutnya, peran serta intelektual NU dibutuhkan karena dari 59 juta jiwa tersebut terdapat warga NU cukup banyak. Para pelajar NU tersebut tersebar di 24 ribu pesantren yang terdata di Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU.


Peran tersebut bisa dalam bentuk pelatihan bisnis online, lokakarya, pendidikan gratis, dan lain sebagainya yang bisa disesuai keahlian masing-masing individu.


Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, tanggung jawab NU lebih besar dibandingkan yang lain. Apalagi menjelang usia satu abad NU, peran dan terobosan untuk kemajuan bangsa dan umat sangatlah dinantikan.


"Bagaimana menghasilkan SDM yang bagus. Data ini saya sampaikan agar teman-teman yang kuliah di luar juga memiliki rasa tanggung jawab yang sama. Kita masih punya PR besar dan kemudian apa yang bisa kita lakukan bersama-sama. Ini menjadi menarik," tegasnya.


Baginya, kegagalan Nahdliyin dalam menciptakan SDM yang mumpuni untuk mengahadapi perubahan zaman membuat kaum Nahdliyin hanya akan menjadi objek perubahan. Bukan pemain utama dalam perubahan. 


Tantangan NU dan dunia ke depan cukup beragam dengan kemajuan teknologi dan masifnya gerakan digitalisasi. Akan muncul jenis pekerjaan baru, tenaga kerja multi generasi dan beragam, kegiatan tidak dibatasi tempat, karier ditentukan oleh pekerjaan, bukan perusahaan, digitalisasi dan otomatisasi, akses dan pengelolaan data semakin masif.


Oleh karenanya, menghadapi perubahan ini, kaum intelektual NU baik di dalam negeri maupun luar negeri harus ikut serta mempersiapkan sumberdaya manusia yang mumpuni. Sehingga tetap dibutuhkan. 


Kesiapan SDM Nahdlatul Ulama ini jadi pekerjaan bersama kaum terdidik. Tantangan dan perubahan ini harus disikapi bersama oleh pemerintah dan organisasi umat. Jika NU gagal, maka selamanya akan jadi obyek dari perubahan atau digitalisasi.


Tidak ada cara yang lebih efektif dan efisien jika kita bicara tata kelola SDM di Indonesia kecuali menggunakan big data. Untuk melakukan pembacaan utuh sehingga memiliki ketepatan langkah dan mampu memberikan dampak nyata.


"Kita kaya dengan pesantrennya, kiainya, santrinya, para sarjana sehingga ini bisa dijadikan tulang punggung untuk melakukan lompatan lebih jauh dalan konteks perubahan dunia," imbuhnya.


Selanjutnya, kata Chabibi, setelah SDM berkualitas terbentuk maka tugas selanjutnya bagaimana jutaan santri dan puluhan ribu pesantren ini dipimpin untuk bisa mengkonsolidasikan sumber daya terdidik dari Nahdliyin.


"NU perlu melakukan perbaikan tata kelola data, satu data yang dipakai. Semisal ada portal satu untuk semua. Data lain menginduk ke pusat. Sehingga dalam mengambil kebijakan lebih tepat," tandasnya.


Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Syamsul Arifin 



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×