Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Halaqah Fiqih Peradaban di Tebuireng Bahas 3 Aspek Penting Nasionalisme KH Hasyim Asy'ari

Halaqah Fiqih Peradaban di Tebuireng Bahas 3 Aspek Penting Nasionalisme KH Hasyim Asy'ari
Rektor Unisma Prof Masykuri Bakri saat menjadi narasumber Halaqah Fiqih Peradaban yang digelar di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. (Foto: Tangkapan layar Youtube Tebuireng Official)
Rektor Unisma Prof Masykuri Bakri saat menjadi narasumber Halaqah Fiqih Peradaban yang digelar di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. (Foto: Tangkapan layar Youtube Tebuireng Official)

Jakarta, NU Online 
Rektor Universitas Malang (Unisma) Prof Masykuri Bakri mengatakan, Pendiri Nahdlatul Ulama Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari sangat mendukung ideologi Pancasila atau nasionalisme yang didasarkan pada Pancasila. 


Ia kemudian memaparkan bahwa ada tiga aspek penting yang terdapat di dalam nasionalisme ala Kiai Hasyim Asy'ari itu. Ketiganya itu adalah aspek politis, sosial-ekonomi, dan kultural.


Pada aspek politis, jelas Prof Masykuri, dapat dilihat dari cara Kiai Hasyim Asy'ari yang ingin menumbangkan dominasi politik asing. Lebih dari itu, Kiai Hasyim tak segan untuk mengangkat derajat kaum terjajah demi membangun sebuah negara yang berkeadilan.


"Siapa pun yang berada di dalam negara Indonesia wajib membela dan haram memecah-belah NKRI. Konsep ini dibicarakan oleh Hadratussyekh karena beliau cinta terhadap perdamaian," jelas Prof Masykuri dalam Halaqah Fiqih Peradaban yang digelar di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu (17/9/2022), sebagaimana dilansir Tebuireng Online.


Selain itu, Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari mengembangkan konsep husnul muamalah, yakni dengan menjadi pengayom seraya mengajak pihak lain untuk hidup secara damai. 


Prof Masykuri juga mengatakan bahwa Kiai Hasyim Asy'ari menghendaki agar Indonesia berdiri berdasarkan moral, etika, dan akhlak. Hal ini terbukti dalam peristiwa penghapusan tujuh kata dalam Piagam Pancasila.


Tujuh kata yang dimaksud itu adalah 'Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya'.


Kemudian, jelas Prof Masykuri, Kiai Hasyim Asy'ari melaksanakan shalat istikharah selama tiga hari untuk memohon petunjuk Allah. Setelah itu, Kiai Hasyim pun merestui agar tujuh kata tersebut dihapus demi menegakkan Indonesia di atas moral, etika, dan akhlak.


"Dasar utamanya, negara kita ini harus ditegakkan di atas moral, di atas etika, di atas akhlakul karimah untuk menjaga persatuan dan kesatuan di tengah-tengah perbedaan," ungkapnya.


Kemudian pada aspek sosial-ekonomi, nasionalisme Hadratussyekh Kiai Hasyin Asy'ari menghendaki agar tidak ada lagi eksploitasi yang dilakukan oleh asing. Dengan kata lain, Kiai Hasyim hendak membangun masyarakat yang bebas dari kemiskinan. 


"Caranya, mengajak masyarakat sekitar untuk mengembangkan pertanian dan peternakan agar para masyarakat sejahtera," tutur Prof Masykuri.


"Aspek ketiga yaitu kultural. Beliau ingin menghidupkan kembali tradisi lokal yang sesuai dengan zamannya," tambah Prof Masykuri.


Di samping itu, Prof Masykuri berpesan kepada seluruh pelajar di Indonesia agar tidak terpengaruh oleh kelompok transnasional yang telah masuk ke dalam negeri. 
 

Lebih lanjut, Prof Masykuri mengatakan bahwa di dalam Al-Qur'an tidak ada satu pun ayat yang menyebutkan kewajiban mendirikan negara Islam.


"Bahkan dalam Piagam Madinah dijelaskan tentang cara menghargai perbedaan dalam sebuah bangsa agar orang-orang dalam bangsa itu bisa hidup damai," tuturnya.


Sementara itu, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) mengatakan bahwa Halaqah Fiqih Peradaban sangat penting untuk digelar di tengah zaman yang semakin modern. Lebih-lebih di era informasi yang kurang beraturan, sehingga membuat bingung dalam mencari kebenaran.


Gus Kikin berharap, agenda Halaqah Fiqih Peradaban yang digelar PBNU dalam rangkaian peringatan Harlah 1 Abad NU di 250 titik pesantren se-Indonesia itu dapat menghasilkan berbagai pemikiran yang dapat dipakai sebagai landasan berpikir.


"Sehingga menjadikan negara ini menjadi negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik dan penuh ampunan Allah)," harap Gus Kikin.


Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Syamsul Arifin



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×