Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Harlah Ke-93, LP Ma’arif NU Berkomitmen Ciptakan Ekosistem Pendidikan Sehat

Harlah Ke-93, LP Ma’arif NU Berkomitmen Ciptakan Ekosistem Pendidikan Sehat
Ketua LP Ma’arif PBNU Prof Muhammad Ali Ramdhani saat berpidato pada Ramah Tamah dan Orientasi Rakernas LP Ma'arif NU di Balai Kota Malang, Jatim, Jumat (26/8/2022) malam. (Foto: Istimewa)
Ketua LP Ma’arif PBNU Prof Muhammad Ali Ramdhani saat berpidato pada Ramah Tamah dan Orientasi Rakernas LP Ma'arif NU di Balai Kota Malang, Jatim, Jumat (26/8/2022) malam. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online
Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Pendidikan Maarif NU, Muhammad Ali Ramdhani berkomitmen mewujudkan ekosistem pendidikan yang sehat di setiap satuan pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Hal itu selaras dengan tema peringatan hari lahir (Harlah) ke-93 LP Ma’arif NU, yakni Bergerak Bersama untuk Bangkit dan Bermartabat.

 

“Ekosistem pendidikan yang sehat adalah ekosistem pendidikan yang ramah, nyaman, dan mendukung tumbuh kembangnya siswa dan guru secara optimal,” ungkap Dhani, demikian ia disapa, dalam keterangannya, Senin (19/9/2022).

 

Melalui ekosistem pendidikan yang sehat, kata Dhani, para insan pendidik tidak hanya akan mampu mentransfer pengetahuan secara optimal kepada siswa, tapi juga mampu mewariskan cara hidup sehat yang akan menjadi rujukan para siswa sepanjang hayat.

 

“Semua ini tentu butuh komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan pendidikan di lingkungan NU untuk menghadirkan ekosistem pendidikan yang sehat, tidak terkecuali para wali murid yang notabene adalah guru bagi siswa kita tatkala berada di lingkungan keluarga,” kata dia.

 

Dalam mewujudkan ekosistem pendidikan yang sehat, lanjut dia, ada dua hal yang perlu diperhatikan, yakni upaya menghapus kekerasan seksual maupun fisik di lingkungan sekolah, serta mencegah pemahaman intoleransi terhadap siswa.

 

“Masifnya berbagai tindak kekerasan yang terjadi di lingkungan lembaga pendidikan dan gerakan infiltrasi oleh kelompok yang mendukung pemahaman intoleran, ini masih menjadi tantangan besar dalam mewujudkan ekosistem pendidikan sehat,” ungkapnya.

 

Kekerasan seksual di lembaga pendidikan
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, sepanjang Januari hingga Juli 2022, terdapat 12 kasus kekerasan seksual terhadap anak terjadi di lembaga pendidikan. Berdasarkan hasil pemantauan dari media massa atas kasus yang dilaporkan ke pihak kepolisian.

 

Dilaporkan, dari Januari-Juli 2022 tercatat 12 kasus kekerasan seksual yang terjadi di 3 (25 persen) sekolah dalam wilayah KemendikbudRistek dan 9 (75 persen) di satuan pendidikan di bawah kewenangan Kementerian Agama.

 

Sementara dilihat dari jenjang pendidikan, kasus kekerasan terjadi di jenjang SD sebanyak 2 kasus, jenjang SMP 1 kasus, pondok pesantren 5 kasus, madrasah tempat mengaji atau tempat ibadah 3 kasus, serta tempat kursus musik bagi anak usia TK dan SD 1 kasus.

 

Korban kekerasan seksual pada 12 kasus tersebut berjumlah 52 anak, 31 persen terjadi pada anak laki-laki, dan 69 persen pada anak perempuan. Rentang usia korban antara 5-17 tahun.

 

Berangkat dari fakta dan fenomena tersebut, Dhani mengajak kepada seluruh pengurus di tingkat cabang dan wilayah untuk membentuk Satuan Tugas Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan, Perundungan, dan Intoleransi pada Satuan Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama, atau satgas Ma’arif Bermartabat.

 

“Melalui upaya ini, diharapkan siswa, guru, bahkan seluruh warga madrasah dan sekolah di lingkungan Nahdlatul Ulama dapat tumbuh dan mengembangkan potensinya dengan nyaman dan aman,” harapnya.

 

Lebih lanjut, ia menyadari, bahwa berbagai upaya yang dilakukan tidak akan membuahkan hasil apapun jika tidak bergerak bersama-sama. Ibarat kata pepatah, jika ingin berjalan cepat, maka berjalanlah seorang diri. Namun jika ingin berjalan jauh, maka berjalanlah bersama-sama.

 

“Hal ini mengisyaratkan kepada kita, bahwa kerja jangka panjang ini harus kita lakukan secara bersama-sama. Pengurus, guru, siswa, bahkan wali murid semuanya memiliki andil dalam mewujudkan lembaga pendidikan yang adaptif dengan berbagai perubahan, serta nyaman dan aman untuk tumbuh kembangnya siswa dan guru,” jelasnya.

 

“Di Harlah kali ini, semoga kita senantiasa diberi kekuatan bergerak bersama untuk bangkit dan bermartabat dalam menghadirkan lembaga pendidikan yang adaptif dan responsif, serta lingkungan pendidikan yang sehat bagi semua,” tandas Dhani.

 

Pewarta: Syifa Arrahmah
Editor: Aiz Luthfi



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×