Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Hindari Kolaps, Mandiri Pangan dari Rumah Jadi Solusi saat Pandemi 

Hindari Kolaps, Mandiri Pangan dari Rumah Jadi Solusi saat Pandemi 
Ilustrasi: Tanaman pangan di lahan warga Jatimulyo, Petanahan, Kebumen, Jawa Tengah salah satu solusi ketersediaan sayuran sejak awal pandemi Covid-19. (Foto: istimewa)
Ilustrasi: Tanaman pangan di lahan warga Jatimulyo, Petanahan, Kebumen, Jawa Tengah salah satu solusi ketersediaan sayuran sejak awal pandemi Covid-19. (Foto: istimewa)

Jakarta, NU Online 
Dosen Teknik Argoindustri Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Muhammad Arwani mengatakan mandiri pangan dari rumah merupakan inisiatif yang dapat dilakukan guna menghindari kolaps selama pandemi. 

 

"Jadi, ini menanggapi isu pandemi kali ini dan ke depannya, karena memang untuk pandemi ini harus mandiri. Kalau tidak mandiri maka seterusnya akan dipengaruhi dari luar. Ketika ada gejolak dari luar, langsung kita kolaps," terang Arwani saat mengisi Workshop Daring betajuk Bertani Organik dari Rumah, Jumat (1/10/2021).

 

Pada workshop yang terselenggara berkat kerja sama NU Online dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNUSIA) tersebut, ia menjelaskan gerakan mandiri pangan ini merupakan jawaban dari fluktuatifnya harga pangan yang berada di bawah kebijakan pemerintah. Melihat data dari PIHPS (Pusat Informasi Harga Pangan Strategis) Nasional, hal tersebut yang mendasari bahwa masyarakat Indonesia diharap bisa mandiri pangan. 

 

"Fluktuatif ini dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah terkait pangan murah. Sehingga, kebanyakan untuk memenuhi pangan di Indonesia, ketika dilihat dari data PIHPS tersebut ada kekurangan sekian ton, langsung ada wacana kebijakan impor. Kebijakan impor ini ketika ada krisis di luar, dolar naik, langsung memunculkan gejolak di dalam negeri," jelas Magister Teknologi Industri Pertanian Universitas Brawijaya tersebut. 

 

Ia menjelaskan, hal ini yang seharusnya bisa mulai dipraktikkan pula oleh masyarakat desa, terlebih kota yang masih terbiasa menggantungkan pasokan pangannya dari daerah luar. 

 

"Sangat sulit menumbuhkan motivasi dari individu yang ada di kota dan desa yang masih terjangkau akses ke seluruh daerah. Mereka cenderung akan konsumtif. Pangan mengandalkan dari daerah luar," ujarnya.

 

Kemandirian pangan individu maupun suatu daerah tertentu merupakan benteng yang kokoh untuk menghindari gejolak yang terjadi, terlebih saat situasi pandemi, lanjut Anwari. Selain itu, berkebun dari rumah juga menggagas kemandirian pangan masyarakat. Hal tersebut adalah solusi dari kebijkan pemberlakuan pembatasan sosial selama pandemi yang berdampak pada rantai pendistribusian pangan. 

 

"Ketika awal pandemi banyak jalan-jalan yang ditutup. Kebijakan-kebijakan itu akan memutus rantai pasok dari pangan. Tentunya, akan berimplikasi pada harga pasar pangan," ujar Arwani.

 

Kontributor: Nuriel Shiami Indiraphasa
Editor: Kendi Setiawan



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×