Nasional

Kehidupan Saling Merayakan: Potret Toleransi Penduduk Salatiga

Ahad, 24 Desember 2023 | 10:00 WIB

Kehidupan Saling Merayakan: Potret Toleransi Penduduk Salatiga

Perkemahan lintas agama Kampoeng Percik, Salatiga, Jawa Tengah. (Foto: istimewa)

Salatiga, NU Online

Pada 6 April 2023, Setara Institute merilis pengumuman hasil pengukuran Indeks Kota Toleran (IKT) se-Indonesia tahun 2022. Dalam rilis tersebut, Kota Salatiga menduduki posisi kedua dalam IKT 2022. Pengukuran indeks kota toleran ini melibatkan 94 kota dari total 98 kota di seluruh Indonesia dengan 4 kota yang dieliminasi merupakan kota administratif di wilayah DKI Jakarta dan digabungkan menjadi satu lingkup DKI Jakarta. 


Kota Salatiga merupakan kota kecil yang terletak di antara Kabupaten Semarang dan Kota Solo. Kota yang terletak di kaki Gunung Merbabu ini memiliki kondisi iklim yang sejuk. Kesejukan itu tidak hanya terasa pada kondisi alam Salatiga, tetapi juga terasa pada interaksi para penduduknya. Dalam buku Salatiga dalam Angka 2023, jumlah penduduk Salatiga tercatat sebanyak 195.055 jiwa dan terdapat seluruh pemeluk agama bermukim di sana.


Di Salatiga, rumah-rumah ibadah berbagai agama dapat dengan mudah dijumpai, mulai dari masjid, gereja protestan, gereja katolik, pura, vihara, dan juga klenteng. Kecamatan Argomulyo adalah salah satu kecamatan dengan jumlah penduduk lintas agama terbanyak di Salatiga. Hampir seluruh rumah ibadah dari berbagai agama terdapat di Argomulyo dengan rincian; 66 masjid, 79 musala, 10 gereja protestan, 1 gereja katolik, dan 1 vihara. Dari data tersebut, Argomulyo merupakan kecamatan dengan jumlah gereja terbanyak di Kota Salatiga.


Banyaknya rumah ibadah yang tersebar, tidak lantas membuat umat lintas agama di sana merasa terganggu walaupun beberapa masjid dan gereja berada dalam jarak yang berdekatan. Salah seorang jemaat gereja bernama Emy Sulistiyowati mengungkapkan bahwa praktik toleransi beragama di wilayah tempat tinggalnya tidak dapat diragukan lagi. 


“Saat perayaan Paskah kemarin itu di Alun-alun Pancasila. Di Pancasila itu kan ada masjid, tho. Nah, menjelang waktu shalat, kita berhenti memuji nama Tuhan dan menghormati saat adzan berkumandang,” tutur Emy.


Emy juga menjelaskan bahwa pada momen hari besar agama tertentu, pemeluk agama lain juga bahu-membahu berkontribusi terhadap kelancaran acara. Misalnya, dengan letak Masjid Shuufi dan Gereja Kristus Raja Semesta Alam yang berdekatan di Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo, para pemudanya tidak ragu untuk saling menolong saat adanya perayaan agama lain. 


Para pemuda Masjid Shuufi dengan suka rela menjaga keamanan dan mengatur mobilisasi lalu lintas saat umat Katolik melangsungkan ibadah hari raya di Gereja Kristus Semesta Alam. Sebaliknya, pada saat bulan Ramadhan tiba, pemuda gereja ikut serta mengawal dan mendukung acara keagamaan yang terselenggara di Masjid Shuufi. Potret tolong-menolong sesama umat lintas agama ini sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat. Hal ini tidak hanya terjadi di wilayah Tegalrejo saja, tetapi juga di seantero Kota Salatiga.


Saling berbagi saat hari raya

Tingginya toleransi antar-umat di wilayah Salatiga mendorong masyarakat untuk berbagi kebahagiaan setiap kali merayakan hari besar agamanya. Umi Kalsum, seorang guru Taman Pendidikan Quran (TPQ) Al-Aqsa di Tegalrejo, menceritakan perihal dirinya yang rutin setiap tahun membuat lima kilogram daging rendang saat Hari Raya Idul Fitri.


“Selain masak untuk keluarga sendiri, teman-temannya anak saya juga berkunjung saat lebaran. Di antaranya ada yang non-Muslim, saya ajak makan bersama di sini. Supaya terasa lebarannya,” tutur Umi.


Umi juga mengirim hidangan hari raya ke tetangga sekitar rumahnya, salah satunya ke rumah Emil Gundari yang akrab disapa Bu Djati. Emil merupakan pemeluk agama Katolik yang rumahnya berada di antara rumah Umi dan Musala Al-Aqsa. Keduanya sudah bertetangga selama sepuluh tahun.


“Wah, kalau sama Bu Djati sih saya sudah sampai masak bareng juga, bikin kue-kue.” lanjut Umi. Sebaliknya, Bu Djati (Emil) sendiri juga melakukan hal serupa. Saat merayakan natal, ia terbiasa memasak banyak makanan untuk mengajak tetangganya makan bersama. 


“Kebetulan saya tidak memakan daging babi, jadi alat masaknya dan masakannya aman kalau tetangga yang Muslim makan makanan yang saya buat,” tutur Emil.


Saat ditanya perihal toleransi umat beragama, Emil berseloroh “Kadang saya suka guyon. Kalau ada ayat untukmu agamamu dan untukku agamaku, saya bilang sama Bu Umi, agamamu agamaku,” ujarnya sambil tertawa.


Menurut Emil dan Umi, tolong-menolong dan berbuat baik adalah hal yang harus dilakukan kepada semua orang, tanpa perlu mempertimbangkan apa agamanya. Mereka percaya, setiap agama pasti mengajarkan kebaikan dan kasih sayang. Tidak ada alasan untuk tidak menjalin hubungan baik kepada pemeluk agama lain, apalagi jika alasan itu hanya karena khawatir dipengaruhi dan imannya menjadi goyah.


“Apalagi rumah saya dekat mushala. Kadang saya sampai ikut bersenandung karena kebetulan hafal dengan sering mendengar Bu Umi pujian di musala sebelum ngaji,” kata Emil.


Pendidikan toleransi sejak dini

Di Salatiga, terdapat salah satu lembaga independen yang berfungsi sebagai pusat pelatihan Kampoeng Percik, Jalan Pattimura sekitar 1 km dari pusat Kota Salatiga. Kampoeng Percik telah berdiri sejak tahun 1996 dengan berbagai program yang berfokus pada penelitian sosial, demokrasi, dan keadilan sosial. Lembaga ini didirikan oleh sekelompok cendekiawan Salatiga yang berasal dari kalangan peneliti sosial, pengajar universitas, dan aktivis LSM.


Salah satu program yang dimiliki Kampoeng Percik adalah Gerakan Interfaith Sobat. Sobat adalah gerakan relasi lintas iman yang berdasarkan kepada rasa saling percaya satu sama lain. Program ini diprakarsai oleh Kampoeng Percik beserta Pondok Pesantren Edi Mancoro dan Sinode GKJ sejak tahun 2002. 


Tujuan diadakannya program ini tidak lain untuk membangun masyarakat lintas agama yang mampu menemukan penyelesaian bersama dari ketegangan dan konflik yang muncul di masyarakat. Prinsip yang digunakan dalam program ini adalah “Local problems are solved by local people” (permasalahan lokal dapat diselesaikan oleh masyarakat lokal).


Salah satu upaya dalam program Sobat ini adalah mengajak anak-anak dalam berbagai kegiatan yang mengusung tema toleransi. Salah satunya adalah Perkemahan Lintas Agama pada masa liburan bulan Juni 2023 lalu. Saat itu, para peserta berasal dari kalangan santri pondok pesantren, murid sekolah minggu gereja, dan murid sekolah minggu vihara. Anak-anak mengikuti kegiatan dengan asyik tanpa sedikitpun membeda-bedakan asal mereka sebagai pemeluk agama tertentu. 


Tidak hanya belajar tentang toleransi, mereka juga belajar mencintai lingkungan dengan memilah sampah. Dalam jangka waktu satu hari satu malam, anak-anak yang berasal dari berbagai pemeluk agama tersebut berkesempatan untuk berbaur dan bermalam dalam satu tenda bersama pemeluk agama lain.


Emy Sulistiyowati juga merupakan relawan yang aktif mendampingi komunitas anak-anak Katolik dalam kegiatan di kampung percik. Menurutnya, anak-anak perlu sering diajak ke dalam kegiatan semacam ini agar sikap toleransi dapat tumbuh dan mengakar kuat dalam dirinya. Sehingga, saat anak-anak ini sudah menginjak usia dewasa, konflik yang mengatasnamakan agama tidak lagi menjadi permasalahan yang memicu perpecahan di masa depan. 


Salatiga merupakan salah satu contoh keberhasilan masyarakat dalam mewujudkan kehidupan beragama yang moderat. Di sana, masyarakat bebas mengekspresikan kasih sayang dan kebaikan terhadap agama lain tanpa khawatir akan ancaman kebencian. Muh Jubaedi, salah seorang tokoh masyarakat Muslim di Tegalrejo berpendapat bahwa hal ini tidak terlepas dari kultur masyarakat yang sebagian besar masih merupakan penduduk asli.


“Pada asalnya, budaya orang Jawa asli tingkat sosialnya tinggi, ciri wataknya memiliki kebersamaan dan tenggang rasa yang tinggi. Ditambah lagi dengan di Salatiga walaupun berbeda agama tapi seringnya masih memiliki hubungan saudara,” ungkap Jubaedi.


“Rasa persaudaraan yang kuat itulah yang melanggengkan toleransi di antara masyarakat Salatiga,” pungkas sosok yang juga merupakan salah satu pendiri Mushala Al-Aqsa di Tegalrejo ini.


Hidup dalam lingkungan masyarakat yang damai dan bertoleransi tinggi adalah hal yang layak dimiliki oleh seluruh rakyat Indonesia. Jika Salatiga mampu mewujudkannya, bukan hal yang niscaya bagi kota-kota lain di Indonesia untuk terus berupaya dalam terwujudnya moderasi beragama di wilayahnya masing-masing demi terjaganya keutuhan, persatuan, dan kesatuan Republik Indonesia.