Home Lapsus Warta Fragmen Quran New Keislaman Ramadhan Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Khutbah Cerpen Ubudiyah Daerah Sirah Nabawiyah Seni Budaya Internasional Risalah Redaksi Tafsir Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

KH Miftachul Akhyar Jelaskan Cara Allah Memperkenalkan Dzat-Nya

KH Miftachul Akhyar Jelaskan Cara Allah Memperkenalkan Dzat-Nya
Rais 'Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar saat mengasuh pengajian Al-Hikam pada pertemuan ke-25 di channel Youtube Multimedia KH. Miftachul Akhyar. (Foto: tangkapan layar)
Rais 'Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar saat mengasuh pengajian Al-Hikam pada pertemuan ke-25 di channel Youtube Multimedia KH. Miftachul Akhyar. (Foto: tangkapan layar)

Jakarta, NU Online

Allah swt memperkenalkan dzatnya kepada manusia melalui dua sisi. Pertama, melalui sifat Lutfiyah, Jamaliah, dan Rohmaniyah Allah. Kedua, melalui sifat Al-Jabbar, Al-Qahhar.


Hal tersebut diungkapkan oleh Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar pada tayangan Pertemuan ke-25 Ngaji Syarah Al-Hikam di channel YouTube Multimedia KH. Miftachul Akhyar diakses Senin (20/2/2023).


"Allah memperkenalkan dzatnya kepada kita dari dua sisi. Di saat Allah memberikan sesuatu kepada kalian nikmat keberhasilan, sukses. Itu artinya Allah memperkenalkan dzatnya kepada kalian dengan sifat Lutfiyahnya Allah, sifat Jamaliahnya Allah, sifat Rohmaniyahnya Allah," ujar KH Miftachul Akhyar.


Sebaliknya jika Allah menghendaki kegagalan, penyakit. Itu artinya Allah memperkenalkan dzatnya jika Allah punya sifat Al-Qahhar, Al-Jabbar. "Terjadi gempa, tsunami, terjadi seperti kemarin 2 tahun lalu Covid-19, dan sebagainya macam-macam. Ini menunjukkan sifat Qohhariahnya Allah," terang Kiai Miftach.


Lebih lanjut KH Miftachul Akhyar mengatakan bahwa keduanya harus kita terima, dan kedua jalur tersebut baik jika disikapi dengan baik. Kemudian terkait dengan hal tidak menyenangkan yang dialami, jangan sampai menyalahkan diri sendiri, atau orang lain.


"Mestinya sesuatu yang kita alami, berupa sesuatu yang tidak menyenangkan, mudharat, mestinya kan kita kembali kepada Allah. Tetapi banyak orang justru menyalahkan orang lain, atau menyalahkan ikhtiarnya. Tidak terimalah artinya, dia akan mengeluh selama hidupnya, bahkan menjadikan orang lain sebagai kambing hitam, menjadikan orang lain sebagai tumpuan kesalahan," imbuhnya.


Maka terkait hal tersebut, menurut KH Miftachul Akhyar orang-orang mukmin harus mengambil sikap. Sebab, apapun yang terjadi jika ditanggapi oleh orang mukmin, maka akan berubah menjadi sebuah kenikmatan.


"Memang mengherankan urusan orang mukmin, kenapa? Semua itu jadi baik. Terkena sesuatu yang menyenangkan bersyukur. Sewaktu-waktu terkena sesuatu yang menyusahkan, sesuatu yang tidak mengenakan, bukan hal yang dikehendaki bersabar. Ini kan sebuah kesimpulan yang baik, dan tidak ada orang lain punya sikap seperti ini kecuali orang mukmin," jelasnya.


Kiai Miftach juga sebelumnya menjelaskan bahwa manusia memegang peranan penting sebagai lakon dalam kehidupan di dunia ini. Maka sebagai makhluk terbaik didampingi berbagai macam gangguan atau ujian untuk mengetes.


"Sesuatu yang baik, maka akan selalu teruji, harus ada sertifikat hasil pengujian-pengujian yang baik. Itu tanda sesuatu yang baik. Kalau sesuatu yang gampangan, nggak usah dites, nggak usah ujian. Itu tanda sesuatu kurang berharga. Maka para ulama dulu justru minta diuji oleh Allah, macam-macam ujiannya. Kenapa? Karena di sini akan lahir betul-betul manusia yang teruji," ujarnya.


Kontributor: Malik Ibnu Zaman

Editor: Fathoni Ahmad



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×