Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Mengapa Tak Ada Juara I dalam Kompetisi Film Pendek PBNU?

Mengapa Tak Ada Juara I dalam Kompetisi Film Pendek PBNU?
Jakarta, NU Online
Kompetisi Film Pendek Dokumenter yang diselenggarakan PBNU telah berakhir. Dewan juri menetapkan video dokumenter berjudul Jihad Sosial dengan sutradara Vedy Santoso (2017) sebagai juara kedua. Sementara video dokumenter berjudul Satu Jalan dengan sutradara Canggih Setiawan (2015) meraih juara ketiga.

Rapat dewan juri yang terdiri dari Nurman Hakim (sutradara), Susi Ivvaty (wartawan), Savic Ali (Direktur NU Online), Jumat (27/1) siang, menyepakati lomba kali ini tak memasukkan juara pertama karena alasan mutu dan kesesuaian dengan tema lomba.

“Tidak adanya juara pertama, sebab secara teknis sinematografi tidak ada yang menenuhi standar teknis, juga cara penyajian naratif yang masih kurang baik,” jelas Nurman Hakim.

Menurutnya, juara kedua dipilih karena yang paling mendekati dengan kesesuaian tema yang telah di tentukan oleh panitia, meskipun secara kaidah-kaidah sinematografi masih belum cukup baik. Misal, informasi disajikan melulu lewat wawancara tanpa dihadirkannya bukti-bukti visual.

Sementara juara ketiga, tambahnya, justru secara sinematografi yang paling lumayan pencapaian teknisnya dan cara bertuturnya. Kaidah-kaidah pembuatan film dokumenter diterapkan dan cukup baik untuk ukuran pembuat film pemula. “Hanya saja secara konten, point of view (sudut pandang) yang dihadirkan oleh subjek kurang berimbang,” tuturnya.

Juri lainnya, Susi Ivvaty juga memberi beberapa catatan terhadap empat finalis yang dihimpun panitia. (Baca: Juri Kompetisi Film Dokumenter Hari Santri Tetapkan 4 Nominator)

“Tidak ada dari keempat finalis yang berkategori ideal baik secara teknis maupun konten dan pesan. Akan tetapi, film berjudul Jihad Sosial yang disutradarai Vedy Santoso adalah yang terbaik dari tiga lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, film ini sesuai dengan tema yang disodorkan panitia lomba, dengan mengambil sudut pandang pengasuh Pondok Pesantren Munawwir di satu desa di Klaten Jateng, yang kemudian menyerupai semi biografi. Sisi-sisi kemanusiaan ditangkap dengan baik, terutama dengan menampilkan ibu-ibu yang bahkan belum pernah ngaji Al-Qur’an sama sekali.

Pesan film ini baginya cukup mengena di hati bagaimana seorang santri mencoba menjalankan pesan gurunya untuk berjihad secara sosial, dengan mendirikan pesantren di atas tanah hibah dari masyarakat. Digambarkan masyarakat yang ikhlas mewakafkan tanah untuk pesantren, asalkan benar-benar digunakan untuk mengaji dan guru-gurunya mumpuni.

“Secara teknis, pengambilan gambar close-up wajah para ibu berikut gurat keriputnya, tampak alami. Kekuarangannya adalah beberapa gambar yang mubadzir, seperti bidikan suasana desa dengan menggunakan drone,” katanya.

Kekurangan lain, lanjutnya, adalah keseharian para murid yang tidak disorot, selain kegiatan mengaji saja. Tidak ada adegan seperti ibu yang kesehariannya berjualan di pasar, jadi hanya mengandalkan wawancara. “Ending cukup baik, melalui ucapan sang tokoh utama. "Tujuan saya bukan untuk memperjuangkan masyarakat. Saya bukan apa-apanya," paparnya.

Sementara film Satu Jalan menurutnya asyik lantaran memotret keseharian keluarga katolik dengan natural. Laju cerita dikendalikan oleh anak perempuan keluarga itu, jadi bukan dengan model wawancara. Film ini menjadi semacam fiksi-dokumenter yang bertutur.

“Tema toleransi cukup tergambar dengan adegan kerabatnya yang semuanya berjilbab, datang ke rumahnya saat Lebaran. Keluarga katolik itu juga turut merayakan Lebaran dengan tradisi memasak opor ayam plus ketupat.

Adegan yang dinilai paling kuat dalam film ini adalah ketika pasangan suami-istri Katolik itu berziarah ke makan orang tua yang beragama Islam. Keduanya mendoakan dengan cara Katolik. “Pesannya jelas: Tuhan itu mempersatukan. Akan tetapi kekurangannya, tema toleransi hanya dilihat dari satu sisi yakni keluarga Katolik itu, sedikit menyimpang dari tema,” ujarnya. (Mahbib)

Kompetisi film documenter ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Santri 2016 dan para pemenang sengaja diumumkan menjelang hari lahir NU yang jatuh pada 31 Januari. (Mahbib)



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×