Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Pandangan Kiai Said tentang Gus Dur

Pandangan Kiai Said tentang Gus Dur
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (kiri) dan KH Said Aqil Siroj.
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (kiri) dan KH Said Aqil Siroj.
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menjelaskan bahwa Allah mengamanati dua hal kepada manusia, yakni agama dan kemanusiaan. Menurut Kiai Said, dari amanat kemanusiaan itu melahirkan kecerdasan dan kreativitas.

"(Dari kreativitas) Inilah menjadi budaya. Maka agama dan budaya tidak bisa dipisahkan. Sebaliknya budaya dan agama tidak bisa dipisahkan," kata Kiai Said di Lantai 3 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (16/12), saat diminta menjelaskan tentang pemikiran kebudayaan Gus Dur.

Menurutnya, karena kedua hal tersebut satu dengan yang lainnya tidak bisa dipisahkan, maka seseorang selain dituntut agar bertaqwa, juga diharuskan memiliki akhlak dan budaya yang tinggi.  Ia menyebut Gus Dur sebagai contoh sosok yang menjadikan ajaran agama dan budaya sebagai laku hidup.

"(Gus Dur) Seorang yang beragama total, beriman, bertaqwa, ber-Tuhan, dan berbudaya dengan maksimal. Jadi bisa dikatakan contoh sempurna dari kalangan Nahdlatul Ulama adalah Gus Dur sebagai guru kita semua yang harus kita tiru. Beliau setiap langkahnya, sikapnya, perkataannya  tidak lepas berangkat dari nilai-nilai agama dan semangat kebudayaan," kata kiai yang menyandang gelar guru besar di bidang ilmu tasawuf itu.

Ia mengatakan, seseorang dalam beragama harus memiliki target maksimal, yaitu terwujudnya kebudayaan dan peradaban. Al-Qur'an disebutnya tidak rela jika manusia tidak berilmu, tidak berakhlak, tidak harmonis, dan tidak memiliki integritas. Adapun cara atau pelaksanaan dalam mewujudkannya diserahkan kepada manusia.

"Pelaksanaan dalam mewujudkannya diserahkan kepada kita sebagaimana kata Nabi Muhammad, (yaitu) antum a'almu bi umuri dunyakum (kalian lebih mengerti urusan kalian sendiri). Artinya apa? Islam memberikan kebebasan kepada kita untuk berkreativitas dan menghasilkan gagasan-gagasan yang cemerlang dalam koridor semangat beragama, tidak boleh liar, tidak boleh mementingkan hawa nafsu kita. Al-Qur'an mendorong kita menjadi makhluk yang berguna," terangnya.

Al-Qur'an sendiri sebagaimana tertera pada Surat Al-Baqarah ayat 30 menjadikan manusia sebagai khalifah untuk mengelola dan mengembangkan alam semesta. "Manusia dipercaya penuh oleh Allah untuk mengelola, mengembangkan, membangun alam semesta yang tidak disanggupi oleh malaikat, jin dan, lain sebagainya. Hanya manusia yang menerima," ucap Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Sebagaimana diketahui, peringatan Haul ke-10 Gus Dur akan dilaksanakan di kediamannya di Ciganjur, Jakarta Selatan pada Sabtu, 28 Desember 2019. Haul tahun ini mengusung tema 'Kebudayaan Melestarikan Kemanusiaan'. Rencananya, haul diisi oleh KH Ahmad Mustofa Bisri, KH Husein Muhammad, Penyanyi Eny Sagita dan Erie Suzan, Komika Mamat Al-Katiri, dan Cengkir Geding Kediri. Selain di Ciganjur pelaksanaan haul juga diselenggarakan di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur pada Sabtu, 21 Desember 2019.

Pewarta: Husni Sahal
Editor: Muchlishon


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×