Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Pengasuh Tebuireng: Perkembangan Sastra Pesantren kian Membanggakan

Pengasuh Tebuireng: Perkembangan Sastra Pesantren kian Membanggakan
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfud. (Foto: NU Online)
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfud. (Foto: NU Online)

Jombang, NU Online
Meski Indonesia pernah dijajah oleh sejumlah negara, namun yang membanggakan adalah perkembangan tradisi Islam, termasuk di dalamnya adalah sanstra pesantren terus terjaga. Hadirnya para penjajah tidak membuat tradisi Islam luntur, apalagi rusak. Malah berkembang hingga saat ini.


Penegasan ini disampaikan Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfud, Jumat (02/12/2022) malam. Dalam pandangan kiai yang lebih akrab disapa Gus Kikin ini, hal tersebut karena tradisi Islam, termasuk sastra telah mendarah daging dalam diri umat.


“Di Indonesia ada kekuatan sastra karena Islam telah masuk ratusan tahun. Sehingga ketika penjajah datang, hal tersebut tidak melunturkan tradisi yang ada, bahkan hingga kini terus berkembang,” katanya.


Hal tersebut disampaikan Gus Kikin saat memberikan sambutan pada acara simposium sastra pesantren dengan tajuk merumuskan ulang sastra pesantren dalam konteks kekinian. Acara akan berlangsung hingga Ahad (04/12/2022) dan diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah.


"Sastra Indonesia juga tak lepas dari kekuatan seniman dan sastrawan yang berasal dari kaum santri yang hidupnya dikawal oleh tatakrama dan akhlak yang baik di lingkungan pondok pesantren,” ungkap dia. 


Oleh sebab itu, perlu dipikirkan dan didiskusikan dengan serius agar sastra pesantren tetap ada dan utuh. Hal tersebut untuk menjaga peradaban bangsa yang sudah dibangun sejak ratusan tahun ini.


Dijelaskan lebih lanjut, bahwa sastra pesantren terdapat dalam kitab-kitab kuning yang setiap saat dikaji serta dipelajari di pesantren. Dan sastra pesantren kajian yang ada sebagai penjabaran sekaligus pendalaman dari Al-Qur’an.


“Karena itu perlu dipikirkan serta dirumuskan ulang agar keberadaan sastra pesantren bisa terus berkembang sebagai bagian bagi kemajuan peradaban bangsa,” jelasnya.


Pembukaan dan simposium sastra pesantren berlangsung di aula H Bachir Achmad yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Kegiatan merupakan inisiasi dari Pengurus Wilayah (PW) Lesbumi Nahdlatul Ulama Jawa Timur sebagai rangkaian dari peringatan 1 abad NU.


Kegiatan diikuti puluhan peserta yang ahli dan khusus menekuni kesusastraan di pesantren se-Jawa. Ada 12 pemateri yang ikut serta menyampaikan pemikiran dan kajian di acara ini, beliau terdiri dari berbagai profesi dan perguruan tinggi. Ada Prof Faruk Tripoli dari Universitas Gadjah Mada, Djoko Saryono (Universitas Negeri Malang), Bramantio dari Universitas Airlangga.


Ada juga Muhammad Nizam As-Shofa sebagai sastrawan dari Pesantren Ahlus Shofa Wal Wafa, Acep Zamzam Noor yang juga penyair sekaligis dari Lesbumi PBNU, M Adib Misbachul Islam  dan Oman Fathurrahman. Juga hadir Mujahirin Thohir dari Universitas Diponegoro, Aguk Irawan, (UNU Yogyakarta), KH Lukman Hakim selaku Pengasuh Pesantren Ma'had Aly Raudhatul Muhibbin, M Faishal Aminuddin dari Universitas Brawijaya, serta Nor Ismah dari Komunitas Sastra Pesantren Mata Pena.

 

Editor: Syaifullah Ibnu Nawawi
 



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×