Home Nasional Warta Esai Khutbah Daerah Cerpen Fragmen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Keislaman Internasional English Tafsir Risalah Redaksi Opini Hikmah Video Nikah/Keluarga Obituari Tokoh Hikmah Arsip Ramadhan Kesehatan Lainnya

Prof Quraish Shihab Jelaskan Sikap Toleransi ala Rasulullah 

Prof Quraish Shihab Jelaskan Sikap Toleransi ala Rasulullah 
Prof Quraish Shihab. (Foto: Tangkapan layar)
Prof Quraish Shihab. (Foto: Tangkapan layar)

Jakarta, NU Online
Pendiri Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Profesor Muhammad Quraish Shihab menerangkan sikap bertoleransi yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, salah satunya pada saat peristiwa Perjanjian Hudaibiyah.

 

“Waktu nabi bersama para sahabatnya pergi ke Makkah untuk umrah. Sebelum masuk ke Makkah, beliau dihadang tidak boleh masuk tidak boleh pergi umrah, maka terjadi dialog untuk perdamaian,” paparnya pada tayangan Shihab & Shihab, diakses NU Online, Selasa (16/11/2021).

 

Di dalam perjanjian tersebut, lanjut Prof Quraish Shihab, terdapat butir-butir perjanjian yang membuat beberapa sahabat sulit menerimanya, karena dinilai memberatkan sebelah pihak. Sayyidina Umar dikisahkan sangat keberatan dengan butir perjanjian warga Makkah yang menyeberang ke Madinah tanpa seizin walinya, harus dikembalikan ke Makkah, dan warga Madinah yang menyeberang ke Makkah, maka tidak boleh kembali ke Madinah.

 

“Ada butir yang Sayyidina Umar sulit sekali menerimanya. Butir itu menyatakan demikian: Siapa orang dari Makkah yang datang ke Madinah untuk memeluk Islam, harus dikembalikan ke Makkah. Siapa orang Islam yang pergi ke Makkah tidak boleh dikembalikan ke Madinah,” jelas ulama ahli tafsir itu.

 

Sayyidina Ali, sambungnya, turut merasa keberatan ketika pemimpin kaum musyrik melarang menuliskan kalimat Bismillâhirraḫmânirrahîm pada permulaan perjanjian dan meminta untuk diganti dengan Bismika allahumma saja.

 

“Sayyidina Ali tidak mau, kata nabi: Mana, saya hapus. Nabi sendiri yang menghapus,” terangnya.

 

Pada saat Nabi Muhammad mendiktekan lagi kepada Sayyidina Ali untuk menulis “Ini perjanjian antara Muhammad Rasulullah”, kaum musyrikin dikatakan tidak terima dengan kehendak Rasul. Kendati demikian, Rasulullah menuruti permintaan mereka demi mencapai kesepakatan damai. “Lalu, dihapus lagi. ‘Tulis Muhammad putra Abdillah’,” ujarnya.

 

Penulis kitab ‘Tafsir Al-Misbah’ ini menerangkan bahwa makna toleransi adalah menghormati pendapat orang lain walaupun sebenarnya tidak setuju dengan pendapat tersebut. Toleransi berarti mundur satu langkah demi mencapai hubungan harmonis, tanpa mengorbankan prinsip.

 

“Nabi seperti itu. Bahkan Islam ini ajaran lurus tapi penuh toleransi. Kadang ada sesuatu yang tidak terlalu lurus menurut keyakinan seseorang, tapi sebenarnya itu bisa dan oke demi toleransi,” imbuhnya Prof Quraish Shihab.

 

Kontributor: Nuriel Shiami Indiraphasa
Editor: Aiz Luthfi



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×