Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Risiko Kehamilan Usia Remaja Sebabkan Kematian Ibu dan Anak

Risiko Kehamilan Usia Remaja Sebabkan Kematian Ibu dan Anak
Ilustrasi persalinan ibu hamil. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi persalinan ibu hamil. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online
Berdasarkan data WHO pada tahun 2014, diketahui bahwa 49 dari 1000 remaja usia 15-19 tahun dinyatakan pernah melahirkan. Menanggapi hal itu, Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (spesialis kebidanan dan kandungan), dr Dwiana Ocviyanti mengungkapkan, kehamilan remaja umumnya didapatkan di negara dengan pendapatan ekonomi rendah dan menengah ke bawah.


“Di negara-negara dengan pendapatan ekonomi rendah, komplikasi pada kehamilan dan persalinan remaja merupakan penyebab utama kematian pada ibu dan anak,” ungkapnya dalam peluncuran buku berjudul Manajemen Kebersihan Menstruasi dan Pencegahan Perkawinan Anak terbitan PP Muslimat NU, Rabu (10/11/2021).


Berdasarkan survei yang dilakukan oleh United Nation Population Fund (UNFPA) tahun 2010, diketahui bahwa Indonesia masuk kedalam peringkat ke-5 setelah India, Bangladesh, Nigeria, dan Brazil dari 10 besar negara yang memberikan jumlah kelahiran terbanyak.


Baca juga: Pola Makan dan Medsos Sebabkan Anak Lebih Cepat Menstruasi


Di samping itu, menurut World Health Organization (WHO), dari 11 persen kehamilan remaja di dunia, sekitar 23 persen kehamilan tersebut berkontribusi terhadap penyakit yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan pada remaja.


“Kehamilan remaja berisiko tinggi untuk anemia, prematur, dan pre-eklampsia, dibandingkan dengan kehamilan usia 20-35 tahun. Bahkan, kejadian penyakit menular seksual didapatkan lebih banyak pada remaja, terutama selama kehamilan,” terang dia.


Dokter Ovy, demikian ia disapa, menyebutkan bahwa faktor risiko pada kehamilan remaja terkait masa reproduksi yang terjadi setelah pubertas. Seorang anak perempuan mengalami menstruasi secara periodik akibat terjadinya ovulasi. Masa reproduksi terbaik adalah pada usia 20 tahun dan akan bertahap menurun, terutama di atas usia 35 tahun.


“Kehamilan perempuan yang terjadi di luar rentang usia reproduksi (20-35 tahun) dikategorikan sebagai kehamilan berisiko tinggi,” ujar Dokter yang pernah mengikuti kursus Ginekologi Patologi di The Royal Women’s Hospital, Melbourne-Australia itu.


Baca juga: Muslimat NU Luncurkan Buku Manajemen Kebersihan Menstruasi dan Pencegahan Perkawinan Anak


Mengenai kehamilan di usia remaja, secara umum, ia menerangkan bahwa terdapat tiga kategori penyulit pada kehamilan remaja, yaitu penyulit kehamilan, penyulit pada persalinan, dan penyulit terhadap luaran dari kehamilan tersebut. WHO menyatakan bahwa kehamilan dan persalinan remaja merupakan salah satu penyebab utama kematian remaja di dunia.


Berdasarkan data UNICEF tahun 2008, diketahui bahwa terdapat sekitar 70.000 remaja meninggal setiap tahun berhubungan dengan kehamilan dan persalinan.


Kemudian pada data Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta periode Januari-Oktober tahun 2014, diketahui bahwa terdapat 1 (0.6 persen) kematian pada kehamilan remaja yang diakibatkan oleh preeklampsia.


“Nah, dua hal (anemia dan pre-eklampsia) itu merupakan salah satu penyulit pada kehamilan yang sering ditemukan pada remaja,” bebernya.


Risiko perkawinan anak
Selanjutnya, dr Ovy memaparkan beberapa risiko perkawinan anak dari aspek kesehatan fisik, sebagai berikut:


Pertama, anemia pada kehamilan merupakan faktor risiko tinggi terjadinya keguguran, kematian janin saat persalinan, kelahiran prematur, dan kematian ibu.


Kedua, pre-eklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang biasanya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu dan ditandai dengan tekanan darah tinggi dan protein pada urin.


“Risiko kejadian pre-eklampsia meningkat pada kehamilan usia lebih muda (kurang dari 20 tahun), menurun pada ibu hamil usia 20-30 tahun, dan meningkat kembali pada kehamilan dengan usia ibu lebih dari 30 tahun,” jelas dr Ovy.


Ketiga, kematian janin dalam kandungan atau Intra Uterine Fetal Death (IUFD) adalah kondisi di mana janin meninggal di dalam kandungan setelah kehamilan di atas 20 minggu.


Keempat, persalinan prematur  juga merupakan salah satu dampak dari kehamilan remaja yang paling sering ditemukan. Persalinan prematur adalah persalinan yang terjadi sebelum usia kehamilan menginjak 37 minggu.


“Beberapa penelitian menyebutkan bahwa persalinan prematur lebih sering ditemukan pada kehamilan remaja dibandingkan dengan ibu berusia di atas 20 tahun,” terangnya.


Kelima, Pertumbuhan Janin terhambat atau Intra Uterine Growth Restriction (IUGR) adalah kondisi ketika bayi tidak tumbuh dengan berat badan normal selama kehamilan.


Keenam, bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah kondisi bayi lahir dengan berat badan lebih rendah dari rerata bayi yang ada. Biasanya kondisi ini terjadi akibat kehamilan prematur atau adanya hambatan pertumbuhan janin selama masa kehamilan.


Melihat banyaknya faktor tersebut, dr Ovy menekankan kembali bahwa kehamilan remaja memiliki konsekuensi yang besar terhadap kesehatan ibu dan bayi. Komplikasi kehamilan dan persalinan adalah penyebab utama kematian remaja usia 15-19 tahun secara global.


“Persalinan usia muda juga meningkatkan risiko kesehatan baik bagi janin maupun ibu,” tandasnya.


Kontributor: Syifa Arrahmah
Editor: Musthofa Asrori



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×