Home Nasional Warta Esai Khutbah Daerah Cerpen Fragmen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Keislaman Internasional English Tafsir Risalah Redaksi Opini Hikmah Video Nikah/Keluarga Obituari Tokoh Hikmah Arsip Ramadhan Kesehatan Lainnya

Mengenang RKH Fachrillah Aschal, Pencetus Istilah “Bangkalan Kota Dzikir dan Shalawat”

Mengenang RKH Fachrillah Aschal, Pencetus Istilah “Bangkalan Kota Dzikir dan Shalawat”
RKH Fachrillah Aschal (memegang mic) dan Lora Ismael Al-Kholilie (Foto: Instagram Lora Ismael)
RKH Fachrillah Aschal (memegang mic) dan Lora Ismael Al-Kholilie (Foto: Instagram Lora Ismael)

Jakarta, NU Online
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Warga NU berduka. Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bangkalan, Madura, Jawa Timur, RKH Fachrillah Aschal wafat pada Sabtu (14/5/2022) pagi.


Kabar duka ini tersebar di berbagai media sosial, seperti WhatsApp, Facebook, dan Instagram. Salah satu yang menyampaikan rasa dukanya adalah Lora Ismael Al-Kholilie yang juga merupakan salah satu famili dari sosok yang kerap disapa Kiai Fahri itu.


Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Selamat jalan Kiai ‘Dzikir dan Shalawat’,” tulisnya melalui melalui akun Instagram pribadinya pada Sabtu (14/5/2022).


Lora Ismael, sebagaimana ia sering dipanggil, mengawali postingan tersebut dengan menceritakan asal muasal adanya tulisan ‘Selamat Datang Bangkalan Kota Dzikir dan Shalawat’ yang ada di Bangkalan.


“Bagi kalian yang berkunjung ke Bangkalan untuk berziarah ke Makam Syaikhona Kholil atau tujuan lainnya, setelah Jalan Tangkel, kalian akan disambut dengan tulisan besar dalam bingkai besi yang melengkung-memanjang: Selamat datang. Bangkalan Kota Dzikir dan Shalawat,” ungkapnya.


Menurutnya, yang pertama kali mengusulkan pemberian nama “Kota Dzikir dan Shalawat” untuk Bangkalan adalah Kiai Fahri.


“Saya sendiri menyaksikan bahwa nama yang diusulkan beliau itu bukan isapan jempol, beliau langsung terjun sendiri ke masyarakat, ke pelosok-pelosok untuk memasyarakatkan shalawat di seantero Bangkalan yang dulu mungkin lebih ramai dengan orkes atau dangdutan,” jelasnya.


Sosok yang pernah menimba ilmu di Darul Musthafa Tarim Yaman ini melanjutkan ceritanya, dikatakannya bahwa Kiai Fahri merupakan sosok yang sangat totalitas dalam berjuang.


“Saya tahu betul totalitas dan perjuangan Kak Fahri dalam menyebarkan shalawatan di Bangkalan. Tidak tanggung-tanggung dalam satu malam beliau bisa punya jadwal shalawatan atau pengajian sebanyak 8 sampai 9 titik!” tukasnya.


“Itu belum termasuk jadwal-jadwal beliau di siang hari seperti mengajar dan lain sebagainya” tambahnya.


Bahkan, menurutnya, suatu ketika dirinya sedang berceramah berceramah di pelosok-pelosok Bangkalan, ia sering mendengar sayup-sayup bunyi shalawatan.


“Entah itu grup Ahbabul Mustofanya beliau, atau grup-grup shalawatan lain yang kebanyakan memang terbentuk karena terinspirasi oleh beliau,” kenang Lora Ismael.


Lora Ismael berharap apa yang telah dilakukan oleh Kiai Fahri, terutama dalam rangka mengajak masyarakat untuk senang bershalawat bisa menjadi amal jariyah.


“Selamat jalan Kak Fahri. Semoga semangat dan perjuangan beliau dalam mengajak masyarakat untuk mencintai shalawat tetap abadi dan menjadi amal jariyah untuk beliau.. Lahul faatihah..,” tutupnya.


Kontributor: Ahmad Hanan
Editor: Muhammad Faizin



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Obituari Lainnya

Terpopuler Obituari

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×