Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Pengurus Pagar Nusa Diminta Bersikap Arif dan Bijaksana

Pengurus Pagar Nusa Diminta Bersikap Arif dan Bijaksana
Surabaya, NU Online
Menyikapi pertarungan dua kader NU yang maju dalam Pilgub Jawa Timur dan telah terasa menyeret para kiai untuk terlibat di dalamnya, jajaran IPSNU Pagar Nusa diminta tidak gegabah bertindak. Bagaiamanapun, Pagar Nusa adalah badan otonom NU, yang gerak dan langkahnya tidak boleh berseberangan –apalagi berhadapan—dengan NU. Pagar Nusa harus sejalan dengan langkah NU. Sedangkan NU saat ini sedang digarap oleh orang lain dengan cara “dibenturkan” antara kelompok struktural dan kultural.

“Dalam situasi yang seperti ini, saya mengharap dan menghimbau seluruh pengurus dan jajaran anggota Pagar Nusa di semua tingkatan, untuk bisa bersikap arif dan bijaksana dalam menyikapi keadaan,” kata H Fuad Anwar, Ketua Umum PP Pagar Nusa, kepada NU Online yang menemuinya pada Sabtu (11/10) di Surabaya.<>

Sebagaimana diketahui, saat ini dua kader NU sedang bersaing dalam Pilgub Jatim. Persaingan itupun telah menyeret para kiai untuk terlibat dalam dukung-mendukung. Mereka yang bersaing adalah Khofifah Indar Parawansa (Ketua Umum PP Muslimat nonaktif) yang maju sebagai calon gubernur, bersaing dengan Saifullah Yusuf (Ketua Umum PP GP Ansor nonaktif) yang maju sebagai wakil gubernur. Karena masing-masing dari kader NU, persaingan yang mestinya berlangsung di luar itupun merembet ke dalam NU.

Fuad, yang juga mantan Sekretaris PWNU Jawa Timur, itu mengharapkan agar polarisasi NU ke dalam dua kelompok besar, kultural dan struktural, segera dihilangkan. Ia menyebut hak itu sebagai penyakit. Sebab posisinya sudah sangat jelas. Struktur berkewajiban membangun dan membina kultur, sedangkan kultur juga berkewajiban mengikuti struktur. Sebab kalau kultur dibiarkan berjalan sendiri tanpa kendali kultur, maka suasana akan kembali seperti masa lalu, sebelum tahun 1926 ketika NU belum didirikan.

Oleh karenanya ia sangat mengharapkan agar dikotomi itu dihilangkan dan segera dipersatukan, agar komando bisa jalan. “Kalau terus dibenturkan begini, bisa mengganggu cita-cita NU,” jelas anggota Komisi VII DPR RI itu.

Oleh karena kondisi yang dihadapi bukanlah persoalan hitam-putih yang mudah disikapi, Fuad meminta kepada seluruh jajarannya untuk bersikap hati-hati dan tidak gegabah mengambil sikap. “Saya mengharapkan agar seluruh jajaran Pagar Nusa bisa menyikapi semua itu dengan baik dan bijaksana,” papar Fuad. Soal ke mana suara mereka diarahkan, Fuad memberikan kebebasan kepada masing-masing. (sbh)


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Warta Lainnya

Terpopuler Warta

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×